- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
ANALISIS CERPEN MOMENTUM
MENGGUNAKAN KONSEP
SOSIOLOGI SASTRA
MENURUT
IAN WATT
MONUMEN
Karya. Nh. Dhini
“Ana Cina lemu, ana Cinanlemu!” anak-anak
berlarian sambil berseru-seru. Semakin jauh ke dalam desa rombongan itu
berjalan, semakin banyak anak yang mendahului atau mengiringi. Satu demi satu,
rumah yang berpenghuni memuntahkan lelaki dan perempuan tua, ibu-ibu menyusui bersama
asuhan mereka ke arah depan. Mereka mengumpul, bertanya dan berbicara, “Ada
apa?”
“Siapa
Cina gendut?”
“Di
mana?”
Desa
yang biasa sepi peristiwa, yang tampak ditaburi pohon-pohon pisang nyaris
gundul serta jambu batu terlalu kering tak terpelihara, sejak hari itu menjadi
tempat kunjungan nyonya-nyonya cantik, orang berambut putih berambut emas
keperakan. Secara berkala, di muka kantor kepala desa bertenggerlah dua atau
tiga kendaraan jenis kijang, jeep, bahkan sedan yang berkilau karena kebersihan
dan kemulusan catnya.
Tanpa
penghasilan buah-buah dari halaman sendiri maupun tetangga, penduduk di
pinggiran Semarang itu setiap hari mencegat bus atau kendaraan omprengan yang
lewat dari Boja menuju tengah kota dan
Tanjungmas. Lelaki menjadi buruh pelabuhan, bangunan, dan pabrik-pabrik yang
tersebar di kawasan Tugu dan Tambakaji. Para wanita tersuruk-suruk, punggungnya
dibebani apa saja yang waktu itu berkenan keluar dari pohon kluwih, sukun, ace,
namun yang paling sering adalah lipatan rapi lembaran daun pisang klutuk dan
buah jambu klutuk.
Barangkali
tidak pernah ada yang mengajari bahwa pohon pun memerlukan perawatan. Nyata
semua yang tumbuh di sana kelihatan merana. Hampir semua itu, ranting, dahannya
kerempeng. Tak ada pula tanda-tanda peremajaan. Penghuni desa hanya menunggu
keluar dan masuknya buah, memetik serta mengangkutnya ke pasar Ngalian atau
Jrakah. Buah-buah nangka dan durian nampak langka, dibungkus plastik atau kain
tua, diikat pada batang-batang yang ditumbuhi. Pelepah daun-daun pisang klutuk
yang tertinggal tegak menunjukkan gapaiannya kelangit. Satu daun muda
melindungi gulungan pupus di tengah-tengah.
Di
dalam desa terdapat tiga sumber air,
hanya satu yang cukup besar dan berarti. Jika dibiarkan, dapat memenuhi
kolam dua puluh kali dua puluh depa luasnya. Mungkin karena kemiskinan, warga
desa hanya membuat kolam satu atau bak penampungan. Tidak ada dinding atau
sekatan yang melindungi paha-paha dan punggung wanita yang mandi di sana.
Sumber yang muncul bening segar itu kemudian berubah penuh ganggang, warnanya
hijau. Jika ada pendatang, nyamuk serta aneka serangga beterbangan menghindar.
Meskipun begitu, orang-orang antre masuk untuk mendapatkan air. Mandi dan
mencuci ataupun buang air seni dilakukan tidak jauh dari penampungan. Limbah
buih dan lainnya menemukan sendiri lekukan beberapa langkah dari bak itu,
mendekam di sana merupakan telaga. Tidak mengherankan bila kebanyakan penduduk,
lebih-lebih kaum tua dan kanak-kanak secara rutin bergantian menderita sakit
perut. Namun demikian, penghuni desa
yang bermukim di dekat sumber itu
bersyukur. Bagaimana pun rupanya, air itu berasal dari sumber dan terletak di
dalam desa. Untuk memperoleh air yang betul-betul bersih, harganya sangat mahal
, karena harus dipikul dari Ngarai di bawah sana. Jauh di sebelah timur desa.
Menurut
petunjuk Bu Dokter Massai, petugas pukesmas di Mijen, kelompok wanita
organisasi sosial internasional memilih desa tersebut sebagai anak asuh atau
desa binaan. Jelas yang paling penting dari segalanya ialah menarik air bersih
dari Ngarai sampai ke tanah datar di dalam desa. Biayanya amat besar: harus
dibikin beberapa tandon air, pompa berkekuatan tinggi, mesin pembangkit tenaga,
pipa ratusan meter. Maka seperti lazim dilakukan organisasi itu, kelompok
ibu-ibu cantik mengirim usulan rencana anggota ke sesama organisasi ke luar
negri. Tanpa diduga, dari australia segera mendapat bantuan. Sebab itulah, desa yang di waktu siang nyaris tanpa
penghuni, dan tidak pernah diinjak bangsa asing selama lima puluh tahun itu
tiba-tiba melihat Tuan Gibbs yang tampak selalu sibuk mengusap peluhnya.
Untuk
tidak dikatakan lancang dan kepentingan publikasi, wakil para nona cantik
digiring ketua organisasi kawasan Nusantara mengunjungi pejabat tinggi
wilayah.Istilah umum ialah untuk melapor serta meminta pengarahan. Padahal yang
sesungguhnya, wanita-wanita karier penuh di rumah tangga dan masyarakat itu
sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Wartawan koran lokal terbesar
diundang untuk meliput. Dia akan menerima sampul berisi puluhan ribu rupiah.
“Jangan
memalukan begitu! Itu artinya kita
menjual kemiskinan pada bangsa asing!” pejabat tinggi wilayah itu bersuara dan
bersikap berang. Terkejut bukan kepalang nyonya-nyonya cantik mendengar
komentar bapak yang paling terhormat di wilwyah mereka itu. Semenjak itu tidak
ada yang menanggapi, hanya saling berpandangan.
Tetapi
Cina gendut ketua organisasi internasional bagi kawasan tanah air itu tidak
pernah kehilangan akal. Semasa tumbuh menjadi dewasa dia gembleng filsafat dan
pendidikan Bali-Jerman-Jawa. Batin dan pikirannya kaya dengan kesiapan guna
menghadapi aneka serangan dalam hidup yang fana ini. Sabar tenang ia berkata,
“Kami tidak akan menerima bayaran karena menjual kemiskinan bangsa sendiri,
Pak. Tetapi kami akan menerima bantuan dana, sumbangan guna membangun cadangan
air bersih. Prinsipnya sama dengan bantuan-bantuan Bank Dunia yang diberikan
pada pemerintah RI, Pak. (dan, hampir saja ia menambahkan, “Kalau begitu bisa
dikatakan pula pemerintah kita menjual kemiskinan kepada bangsa asing. Malahan
pihak tertentu pastilah menyunat bantuan itu dibeberapa tempat. Sedangkan
organisasi kami, Tuhan menjadi saksi, tidak mengambil satu rupiah pun bantuan
yang dikirim dari segala penjuru dunia.”)
Tetapi
kelapangan dada manusia Cina-Jerman-Jawa itu sama luasnya dengan ketiga tanah
tempat ia tumbuh dan dibesarkan. Kemahirannya berbicara sama pastinya seperti
kemantapan jari-jarinya di saat mengubah tembang serta memainkan piano. Tuhan
segala etnis manusiaselalu memantau umat-Nya yang berbuat baik.Yang
Mahakuasalah yang mengarahkan dia. Bukan pejabat tertinggi atau siapa pun
lainnya.
Mata
bapak pejabat berkedip-kedip memandangi Cina gendut, ganti melirik wakil
wanita-wanita cantik. Terjadilah penolakan atau penerimaan penalaran yang logis
itu. Dia mengganyi posisi duduknya, bersandar, beringsut, lalubalik lagi maju
merentangkan tangan di atas meja kayu besar serta berkilauan itu. Ruangan
dingin. Sangat dingin. Sinar pagi yang menerobos kaca jendela tidak mampu
mengirim kehangatan.
Pendek
kata, para wakil organisasi sosial itu keluar dari ruangan pertemuan sedingin
lemari es di gedung megah dengan hati lega. Pekerjaan akan segera bisa
dilaksanakan. Dua nyonya cantik insinyur menjadin perancang sekaligus mandor
proyek mereka guna menolong desa tertinggal. Sebagai dasar bangunan, penduduk
desa yang dipilih harus berpartisipasi mengumpulkan batu-batu di Sungai
Gondorio, mengalir dari Gunung Pati dan melintasi pinggir desa. Pasir diambil
dari tepian sungai tersebut yang terletak di batas dukuh paling timur. Maka
selama beberapa waktu, lima belas buruh yang biasa harus ke kota untuk mencari
nafkah, bisa tinggal dekat rumah mereka. Semua tugas dilakukan dengan rapi dan
riang hati lebih-lebih karena mandornya canti-cantik. Yang terberat sekalipun,
ketika harus menurunkan pompa dan mesin diesel pembangkit listrik jauh ke dalam
Ngarai.
Semua
baik dan menuruti rencana. Namun ketika sampai pada pembikinan kamar-kamar
mandi beserta kakus, nyonya-nyonya cantik mendapat ganjalan: di mana? Dana
empat puluh juta rupiah pas saja, tidak cukup untuk membeli tanah lagi untuk
MCK. Untunglah ada Pak Bayan dan istrinya.
“Bagaimana
kalau dadah di sebelah barat itu kita
berikan supaya diberikan MCK Makne?”
“Semua,
Pakne?”
“Tidak
tahu. Kita persilakan ibu-ibu itu mengukur, mengambil yang diperlukan.”
“Terserah,
Pakne!”
“Kita
semua semakin tua. Anak-anak sudah mapan semua. Tidak ada yang mau tinggal di
desa. Dadah di Silayur masih ada tiga
ribu depa, di Sulanji rumah yang kita kontrakkan empat.”
“Benar,
Pakne. Apalagi sampeyan dan saya amat repot mengurusi dadah di depan. Yang
belakangan tidak kepegang lagi. Jadi Jembrug
singup!”
“Jadi
kamu setuju, Makne?”
“Silakan,
Pakne, silakan!”
Sealur
dengan perkembangan pembangunan tandon air dan delapan MCK di tanah yang
dihibahkan Ibu dan Pak Bayan, merayaplah bisik-bisik di antara penghuni desa
pilihan nyonya-nyonya cantik itu untuk dibina.
“Orang
bule itu Kristen. Ibu-ibu cantik itu pastilah juga beragama Kristen.”
“Jangan-jangan
mereka akan menjajah kita dengan agamanya.”
“Kita
diberi tempat berak, tetapi harus masuk Kristen!”
“Ah,
tidak usah saja!”
Maka
Pak Lurah didampingi Pak Bayan memerlukan menemui salah seorang anggota
kelompok ibu-ibu cantik yang tinggal di perumahan dekat Ngaliyan. Mereka
menyampaikan uneg-uneg desa binaan.
“Ibu-ibu
itu banyak yang Jawa asli, Pak. Memang ada yang beragama Katolik atau
Protestan. Tetapi tidak sedikit yang sembahyang lima kali sehari, berpuasa di
bulan ramadhan. Malah sudah ada tiga yang hajjah. Seorang dari insinyurnya
beragama Buddha. Dua ibu berasal dari Bali, keduanya pengikut agama Hindu Bali.
Kami Pancasila Pak!”
Mendengar
Pancasila disebut, bersinarlah wajah Pak Lurah. Bukankah para Bapak di Jakarta
sering menggunakan kata itu pula dalam pidato-pidatonya? Pak Lurah akan bisa
menyitirnya juga kepada warga desanya!
***
Kini semua itu sudah berlalu. Pembukaan berlangsung kaku, tapi kemudian
disantaikan oleh Cina gendut yang berlomba dengan Pak Bayan, siapa paling keras
melontarkan air seni ke dalam kakus. Kelakar dan tawa akhirnya dapat
mengeluarkan air mata geli mengaliri pipi ibu cantik. Istri walikota bahkan
berkenan turut menyumbangkan kehadiran dan keramaian jerit kegeliannya.
Satu bulan kemudian, beberapa wakil nyonya-nyonya cantik, termasuk
seorang insinyur menengok proyek mereka. Sebelum berkunjung ke rumah Pak Bayan,
ibu-ibu cantik langsung menuju ke MCK. Kedelapan pintu kamar mandi dan kakus
digembok. Di bangunan yang tanpa atap berisi tandon air dan tempat cuci, mereka
bertemu ibu-ibu warga desa.
“Ya, Digembok semua oleh Pak Bayan, Bu. Dia dan warga terdekat pada
terganggu, karena pengguna MCK tidak mau membersihkan setelah berak atau
kencing. Baunya busuk dan sengak! Karena orang-orang diberitahu tidak menurut,
tidak ada yang patuh, ya, lalu dikunci saja oleh Pak Bayan! Katanya: Biar kamar
dan kaku-kakus itu menjadi monumen saja daripada baunya mengganggu keluarga
yang tinggal paling dekat. Kasihan dia! Padahal mereka sudah baik hati
memberikan tanahnya....”
“Lalu warga desa ke mana kalau buang air besar?”
“Ya, ke mana-mana saja seperti dulu. Bisa ke kebun, ke Ngarai kalau
dekat, bisa ke pinggir sungai!”
“Kan air sungai kecil sekali kalau tidak hujan?”
“Betul. Tapi kalau kelak hujan,’kan kotorannya terbawa hanyut sendiri.”
Sementara itu, lalat beterbangan dan hinggap di situ sebelum lari tertarik oleh suguhan makanan apa saja!
Masing-masing nyonya cantik itu menoleh, berpandangan. Di hati mereka menyebut:
Ya Tuhan! Bagaimana mendidik orang-orang ini?.
Beringin indah, Februari 1995
Republika, Minggu 9 April 1995
ANALISIS
Oleh: Edy Saputro Cahyo, Dkk
Oleh: Edy Saputro Cahyo, Dkk
1. Konteks Sosial Pengarang
a). Mata
Pencaharian
NH. Dini adalah seorang istri konsulat
Perancis yang sehari-hari hanya bekerja sebagai penulis novel dan cerpen.
b).Profesional
Kepengarangan
NH. Dini
murni sebagai pengarang. Karyanya yang berupa novel dan cerpen telah tersebar
diberbagai media. Novel-novelnya seperti Pada
Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975),
Namaku Hiroko (1977), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun (1994), Tanah Baru Tanah Air Kedua (1997), Hati yang damai (1998), dan Kemayoran (2000). Sampai awal tahun
2001, lima belas novelnya sudah diterbitkan, berikut juga kumpulan cerita
pendek: Liar (2002), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Istri
Kolonel (1989), Monumen (2002), Pencakar langit (2003), dan Janda Muda (2003). Hal ini menunjukkan
bahwa N.H. Dhini merupakan penulis yang produktif dan kreatif dalam
kepengarangannya.
c). Masyarakat
yang ditujuh
Masyarakat yang dituju melalui
cerpen “Monumen” yaitu:
- Masyarakat
pedesaan, yakni tercermin dari latar tempat yang diangkat dalam cerpen “Monumen”. Data yang menunjukkan masyarakat pedesaan:
Desa yang biasa sepi peristiwa, yang tampak ditaburi
pohon-pohon pisang nyaris gundul serta jambu batu terlalu kering tak
terpelihara, sejak hari itu menjadi tempat kunjungan nyonya-nyonya cantik,
orang berambut putih berambut emas keperakan. Secara berkala, di muka kantor
kepala desa bertenggerlah dua atau tiga kendaraan jenis kijang, jeep, bahkan
sedan yang berkilau karena kebersihan dan kemulusan catnya. (Kumpulan Cerpen XX : 240)
- Organisasi
Sosial Wanita, tercermin melalui tokoh Cina gendut dan nyonya-nyonya
cantik yang mengusahakan bantuan dana untuk pembangunan desa. Data yang menunjukkan hal ini adalah:
Menurut petunjuk Bu Dokter Massai, petugas pukesmas di Mijen, kelompok
wanita organisasi sosial internasional memilih desa tersebut sebagai anak asuh
atau desa binaan. Jelas yang paling penting dari segalanya ialah menarik air
bersih dari Ngarai sampai ke tanah datar di dalam desa. Biayanya amat besar:
harus dibikin beberapa tandon air, pompa berkekuatan tinggi, mesin pembangkit
tenaga, pipa ratusan meter. Maka seperti lazim dilakukan organisasi itu,
kelompok ibu-ibu cantik mengirim usulan rencana anggota ke sesama organisasi ke
luar negri. Tanpa diduga, dari australia segera mendapat bantuan. Sebab
itulah, desa yang di waktu siang nyaris
tanpa penghuni, dan tidak pernah diinjak bangsa asing selama lima puluh tahun
itu tiba-tiba melihat Tuan Gibbs yang tampak selalu sibuk mengusap peluhnya.
Untuk
tidak dikatakan lancang dan kepentingan publikasi, wakil para nona cantik
digiring ketua organisasi kawasan Nusantara mengunjungi pejabat tinggi
wilayah.Istilah umum ialah untuk melapor serta meminta pengarahan. Padahal yang
sesungguhnya, wanita-wanita karier penuh di rumah tangga dan masyarakat itu
sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Wartawan koran lokal terbesar
diundang untuk meliput. Dia akan menerima sampul berisi puluhan ribu rupiah. (Kumpulan Cerpen XX :241-242)
- Pemerintah, tercermin
melaui tokoh pejabat tinggi wilayah yang dimintai pengarahan oleh
nyonya-nyonya dalam acara pembangunan desa. Data
yang menunjukkan hal ini adalah:
Untuk tidak dikatakan lancang dan kepentingan publikasi, wakil para nona
cantik digiring ketua organisasi kawasan Nusantara mengunjungi pejabat tinggi
wilayah.Istilah umum ialah untuk melapor serta meminta pengarahan …(Kumpulan
Cerpen XX :241)
“Jangan memalukan begitu! Itu artinya kita menjual kemiskinan
pada bangsa asing!” pejabat tinggi wilayah itu bersuara dan bersikap berang.
Terkejut bukan kepalang nyonya-nyonya cantik mendengar komentar bapak yang
paling terhormat di wilayah mereka itu. Semenjak itu tidak
ada yang menanggapi, hanya saling berpandangan…(Kumpulan
Cerpen XX : 242)
Mata bapak pejabat berkedip-kedip
memandangi Cina gendut, ganti melirik wakil wanita-wanita cantik. Terjadilah
penolakan atau penerimaan penalaran yang logis itu….(Kumpulan
Cerpen XX :242)
2. Sastra sebagai
cermin masyarakat
a) Mencerminkan kehidupan masyarakat desa yang terbelakang, tidak mau maju, sulit menerima perubahan , dan sulit menerima orang asing. Data yang
menunjukkan hal ini adalah:
... Mungkin
karena kemiskinan, warga desa hanya membuat kolam satu atau bak penampungan.
Tidak ada dinding atau sekatan yang melindungi paha-paha dan punggung wanita
yang mandi di sana. Sumber yang muncul bening segar itu kemudian berubah penuh
ganggang, warnanya hijau. Jika ada pendatang, nyamuk serta aneka serangga
beterbangan menghindar. Meskipun begitu, orang-orang antre masuk untuk
mendapatkan air. Mandi dan mencuci ataupun buang air seni dilakukan tidak jauh
dari penampungan. Limbah buih dan lainnya menemukan sendiri lekukan beberapa
langkah dari bak itu, mendekam di sana merupakan telaga. Tidak mengherankan
bila kebanyakan penduduk, lebih-lebih kaum tua dan kanak-kanak secara rutin
bergantian menderita sakit perut. Namun demikian, penghuni desa yang bermukim di dekat sumber itu bersyukur. Bagaimana pun
rupanya, air itu berasal dari sumber dan terletak di dalam desa. Untuk
memperoleh air yang betul-betul bersih, harganya sangat mahal , karena harus
dipikul dari Ngarai di bawah sana. Jauh di sebelah timur desa…(Kumpulan Cerpen XX :240-241)
“Orang bule itu Kristen. Ibu-ibu
cantik itu pastilah juga beragama Kristen.”
“Jangan-jangan mereka akan menjajah
kita dengan agamanya.”
“Kita diberi tempat berak, tetapi
harus masuk Kristen!”
“Ah, tidak usah saja!”
…(Kumpulan
Cerpen XX : 244)
“Ya, Digembok semua oleh Pak Bayan, Bu. Dia dan warga
terdekat pada terganggu, karena pengguna MCK tidak mau membersihkan setelah
berak atau kencing. Baunya busuk dan sengak! Karena orang-orang diberitahu
tidak menurut, tidak ada yang patuh, ya, lalu dikunci saja oleh Pak Bayan!
Katanya: Biar kamar dan kaku-kakus itu menjadi monumen saja daripada baunya
mengganggu keluarga yang tinggal paling dekat. Kasihan dia! Padahal mereka
sudah baik hati memberikan tanahnya....” ( “Lalu warga desa ke mana kalau buang air besar?”
“Ya, ke mana-mana saja seperti dulu. Bisa ke kebun, ke
Ngarai kalau dekat, bisa ke pinggir sungai!”
“Kan air sungai kecil sekali kalau tidak hujan?”
“Betul. Tapi kalau kelak hujan,’kan kotorannya terbawa
hanyut sendiri.” (Kumpulan Cerpen XX :245)
b) Mencerminkan
tujuan organisasi-organisasi kewanitaan untuk memajukan kehidupan desa tertinggal sekaligus mencari
nama untuk pribadi dan golongan di depan publik. Data yang
menunjukkan hal ini adalah:
…Jelas yang paling penting dari segalanya ialah menarik air
bersih dari Ngarai sampai ke tanah datar di dalam desa. Biayanya amat besar:
harus dibikin beberapa tandon air, pompa berkekuatan tinggi, mesin pembangkit
tenaga, pipa ratusan meter. Maka seperti lazim dilakukan organisasi itu,
kelompok ibu-ibu cantik mengirim usulan rencana anggota ke sesama organisasi ke
luar negri. Tanpa diduga, dari australia segera mendapat bantuan ... (Kumpulan Cerpen XX : 241)
Untuk tidak dikatakan lancang dan kepentingan publikasi, wakil para nona
cantik digiring ketua organisasi kawasan Nusantara mengunjungi pejabat tinggi
wilayah.Istilah umum ialah untuk melapor serta meminta pengarahan. Padahal yang
sesungguhnya, wanita-wanita karier penuh di rumah tangga dan masyarakat itu
sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Wartawan koran lokal terbesar
diundang untuk meliput. Dia akan menerima sampul berisi puluhan ribu rupiah …(Kumpulan
Cerpen XX :241-142)
c) Mencerminkan
keikhlasan menghibahkan tanah untuk
kepentingan umum. Data yang menunjukkan hal ini
adalah:
“Bagaimana kalau dadah di
sebelah barat itu kita berikan supaya diberikan MCK Makne?”
“Semua, Pakne?”
“Tidak
tahu. Kita persilakan ibu-ibu itu mengukur, mengambil yang diperlukan.”
“Terserah, Pakne!”
“Kita
semua semakin tua. Anak-anak sudah mapan semua. Tidak ada yang mau tinggal di
desa. Dadah di Silayur masih ada tiga
ribu depa, di Sulanji rumah yang kita kontrakkan empat.”
“Benar, Pakne. Apalagi sampeyan dan saya amat repot mengurusi
dadah di depan. Yang belakangan tidak kepegang lagi. Jadi Jembrug singup!”
“Jadi kamu setuju, Makne?”
“Silakan, Pakne, silakan!” (Kumpulan Cerpen XX
:243-244)
3.
Fakta-fakta Sosial dalam masyarakat.
Kemiskinan dan kebodohan
masyarakat desa tertinggal. Seperti dijabarkan pada kutipan berikut:
Tanpa
penghasilan buah-buah dari halaman sendiri maupun tetangga, penduduk di
pinggiran Semarang itu setiap hari mencegat bus atau kendaraan omprengan yang
lewat dari Boja menuju tengah kota dan
Tanjungmas. Lelaki menjadi buruh pelabuhan, bangunan, dan pabrik-pabrik yang
tersebar di kawasan Tugu dan Tambakaji. Para wanita tersuruk-suruk, punggungnya
dibebani apa saja yang waktu itu berkenan keluar dari pohon kluwih, sukun, ace,
namun yang paling sering adalah lipatan rapi lembaran daun pisang klutuk dan
buah jambu klutuk.
Barangkali
tidak pernah ada yang mengajari bahwa pohon pun memerlukan perawatan. Nyata
semua yang tumbuh di sana kelihatan merana. Hampir semua itu, ranting, dahannya
kerempeng. Tak ada pula tanda-tanda peremajaan. Penghuni desa hanya menunggu
keluar dan masuknya buah, memetik serta mengangkutnya ke pasar Ngalian atau
Jrakah. Buah-buah nangka dan durian nampak langka, dibungkus plastik atau kain
tua, diikat pada batang-batang yang ditumbuhi. Pelepah daun-daun pisang klutuk
yang tertinggal tegak menunjukkan gapaiannya kelangit. Satu daun muda
melindungi gulungan pupus di tengah-tengah.
Di dalam
desa terdapat tiga sumber air, hanya
satu yang cukup besar dan berarti. Jika dibiarkan, dapat memenuhi kolam dua
puluh kali dua puluh depa luasnya. Mungkin karena kemiskinan, warga desa hanya
membuat kolam satu atau bak penampungan. Tidak ada dinding atau sekatan yang
melindungi paha-paha dan punggung wanita yang mandi di sana. Sumber yang muncul
bening segar itu kemudian berubah penuh ganggang, warnanya hijau. Jika ada
pendatang, nyamuk serta aneka serangga beterbangan menghindar. Meskipun begitu,
orang-orang antre masuk untuk mendapatkan air. Mandi dan mencuci ataupun buang
air seni dilakukan tidak jauh dari penampungan. Limbah buih dan lainnya
menemukan sendiri lekukan beberapa langkah dari bak itu, mendekam di sana
merupakan telaga. Tidak mengherankan bila kebanyakan penduduk, lebih-lebih kaum
tua dan kanak-kanak secara rutin bergantian menderita sakit perut. Namun
demikian, penghuni desa yang bermukim
di dekat sumber itu bersyukur. Bagaimana
pun rupanya, air itu berasal dari sumber dan terletak di dalam desa. Untuk
memperoleh air yang betul-betul bersih, harganya sangat mahal , karena harus
dipikul dari Ngarai di bawah sana. Jauh di sebelah timur desa. (Kumpulan Cerpen XX : 240-241)
Dalam kutipan
paragraf cerpen MONUMEN tersebut dijelaskan bahwa masyarakat di desa itu pendidikannya
sangat rendah, hanya bergantung pada kekayaan alam berupa buah dari pohon-pohon
di pekarangan mereka dan hal ini terus dilakukan tanpa ada kesadaran untuk
merawatnya. Sedangkan para laki-laki bekerja sebagai kuli dan buruh di
pabrik-pabrik di kota sekitar desa.
4. Genre Sastra
NH. Dini dalam
karyanya sering mengangkat tema feminisme, tetapi pada cerpen ‘Momentum’
NH.Dini lebih menonjolkan didaktik/pendidikan yang memperlihatkan upaya perbaikan mutu manusia lewat perbaikan
sarana hidup dan lingkungan hidup. Data yang
menunjukkan hal ini adalah:
Sabar tenang ia berkata, “Kami tidak akan menerima bayaran karena menjual
kemiskinan bangsa sendiri, Pak. Tetapi kami akan menerima bantuan dana,
sumbangan guna membangun cadangan air bersih. Prinsipnya sama dengan
bantuan-bantuan Bank Dunia yang diberikan pada pemerintah RI, Pak. (dan, hampir
saja ia menambahkan, “Kalau begitu bisa dikatakan pula pemerintah kita menjual
kemiskinan kepada bangsa asing. Malahan pihak tertentu pastilah menyunat
bantuan itu dibeberapa tempat. Sedangkan organisasi kami, Tuhan menjadi saksi,
tidak mengambil satu rupiah pun bantuan yang dikirim dari segala penjuru
dunia.”
…(Kumpulan
Cerpen XX :242)
“Ibu-ibu itu banyak yang Jawa asli,
Pak. Memang ada yang beragama Katolik atau Protestan. Tetapi tidak sedikit yang
sembahyang lima kali sehari, berpuasa di bulan ramadhan. Malah sudah ada tiga
yang hajjah. Seorang dari insinyurnya beragama Buddha. Dua ibu berasal dari
Bali, keduanya pengikut agama Hindu Bali. Kami Pancasila Pak!”
…(Kumpulan Cerpen XX :244)
Sementara itu, lalat beterbangan dan hinggap di situ sebelum lari tertarik oleh suguhan makanan apa saja!
Masing-masing nyonya cantik itu menoleh, berpandangan. Di hati mereka menyebut:
Ya Tuhan! Bagaimana mendidik orang-orang ini? (Kumpulan
Cerpen XX :245)
5. Sastra menampilkan masyarakat
secermat-cermatnya :
Melalui cerpen “Monumen” NH. Dini
menggambarkan kehidupan penduduk desa yang bekerja sebagai buruh bangunan, pedagang
buah dan sayur, mandi di kolam yang kotor, dan untuk mendapatkan air bersih
harus pergi ke desa tetangga sehingga mereka sering terserang penyakit. Hal
lain yang sama menyedihkannya adalah ketika telah diupayakan bangunan MCK penduduk
desa yang terbelakang tersebut hanya mau menggunakan dan tidak memiliki kesadaran
untuk membersihkan sebagai milik bersama, sehingga setelah bangunan MCK
digembok mereka kembali buang air di sembarang tempat. Data yang menunjukkan hal ini adalah:
Barangkali tidak
pernah ada yang mengajari bahwa pohon pun memerlukan perawatan. Nyata semua
yang tumbuh di sana kelihatan merana. Hampir semua itu, ranting, dahannya
kerempeng. Tak ada pula tanda-tanda peremajaan. Penghuni desa hanya menunggu
keluar dan masuknya buah, memetik serta mengangkutnya ke pasar Ngalian atau
Jrakah. Buah-buah nangka dan durian nampak langka, dibungkus plastik atau kain
tua, diikat pada batang-batang yang ditumbuhi. Pelepah daun-daun pisang klutuk
yang tertinggal tegak menunjukkan gapaiannya kelangit. Satu daun muda
melindungi gulungan pupus di tengah-tengah.
Di dalam desa terdapat tiga sumber
air, hanya satu yang cukup besar dan
berarti. Jika dibiarkan, dapat memenuhi kolam dua puluh kali dua puluh depa
luasnya. Mungkin karena kemiskinan, warga desa hanya membuat kolam satu atau
bak penampungan. Tidak ada dinding atau sekatan yang melindungi paha-paha dan
punggung wanita yang mandi di sana. Sumber yang muncul bening segar itu
kemudian berubah penuh ganggang, warnanya hijau. Jika ada pendatang, nyamuk
serta aneka serangga beterbangan menghindar. Meskipun begitu, orang-orang antre
masuk untuk mendapatkan air. Mandi dan mencuci ataupun buang air seni dilakukan
tidak jauh dari penampungan. Limbah buih dan lainnya menemukan sendiri lekukan
beberapa langkah dari bak itu, mendekam di sana merupakan telaga. Tidak mengherankan
bila kebanyakan penduduk, lebih-lebih kaum tua dan kanak-kanak secara rutin
bergantian menderita sakit perut. Namun demikian, penghuni desa yang bermukim di dekat sumber itu bersyukur. Bagaimana pun
rupanya, air itu berasal dari sumber dan terletak di dalam desa. Untuk
memperoleh air yang betul-betul bersih, harganya sangat mahal , karena harus
dipikul dari Ngarai di bawah sana. Jauh di sebelah timur desa.
…(Kumpulan Cerpen XX :240-241)
“Ya, Digembok semua oleh Pak Bayan, Bu. Dia dan warga terdekat pada
terganggu, karena pengguna MCK tidak mau membersihkan setelah berak atau
kencing. Baunya busuk dan sengak! Karena orang-orang diberitahu tidak menurut,
tidak ada yang patuh, ya, lalu dikunci saja oleh Pak Bayan! Katanya: Biar kamar
dan kaku-kakus itu menjadi monumen saja daripada baunya mengganggu keluarga
yang tinggal paling dekat. Kasihan dia! Padahal mereka sudah baik hati
memberikan tanahnya....” (Kumpulan Cerpen XX
:245)
6. Fungsi Sosial Sastra
1. Sebagai kritik
sosial , yakni untuk mengkritik
organisasi sosial yang mencari kepentingan pribadi dan organisasi melalui
kampanye sosial, mengkritik masyarakat desa yang tidak memilki kesadaran merawat kekayaan alam serta sarana
dan prasarana yang ada (pohon-pohon dan
MCK yang telah dibangun).
2. Sebagai controling
kegiatan pembangunan sarana dan
prasarana desa di masa mendatang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah diceritakan dan dijabarkan dalam karya sastra.
3. Sebagai pembelajaran bagi masyarakat (pembaca) tentang
pentingnya pemeliharaan kekayaan alam dan bangunan yang
ada di sekitar, agar tidak sekedar mengambil dan menggunakan sesuka hati.
Komentar
Posting Komentar