- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Geneng, 12 Juli 2011
Karya : Edy Saputro Cahyo
Sesepuh hunian kayu jati terlihat rapuh. Usianya yang cukup lama bersama Djarum pengucap kata-kata panjang. Dia yang telah menjadi panutan kami selama ini. Di kala usianya masih muda, ia juga pernah menjadi saksi mata dalam keganasan Belanda menghantam Indonesia. Ceritanya yang panjang membuat kami anak cucunya terheran. Selalu berulah konyol dalam lawakan yang ia bawakan. Runtut nasibnya bercinta menyandang gelar terbaik dalam urusan bercinta. Wanita-wanita terperangkap dengan ucapannya. Kalau dibandingkan dengan teman sebayanya, Djarumlah yang paling menang dalam kisah bercinta. Ia menceritakan sepenggal cerita yang dialami. Ia menjadi penjual mintah tanah ke berbagai sudut-sudut desa. Perjalanan antar kota sering terjelahi dengan kaki telanjang. Kesulitan dalam berjualan selalu dihadang oleh orang tinggi besar berdarah biru. Selalu ia memutar otak untuk bisa lewat. Tipuan ilmu apa yang ia gunakan dapat lolos. Hingga ia muak dengan hadangan-hadangan yang dilakukan, karena ilmu juga harus terus dipacu. Pemikiran apa yang membuat ia menyerah dan mau mengabdikan kepada keluarga Belanda. Tugasnya hanya menjaga dan merawat anak. Pemeliharaan yang dikira cukup aneh. Setiap paginya anak yang berusia 5 tahun di jemur selang 5 jam. Kejadian ini terus berlangsung sampai umur 14 tahun. Padahal panas selalu membuat gerah.
Sesepuh hunian kayu jati terlihat rapuh. Usianya yang cukup lama bersama Djarum pengucap kata-kata panjang. Dia yang telah menjadi panutan kami selama ini. Di kala usianya masih muda, ia juga pernah menjadi saksi mata dalam keganasan Belanda menghantam Indonesia. Ceritanya yang panjang membuat kami anak cucunya terheran. Selalu berulah konyol dalam lawakan yang ia bawakan. Runtut nasibnya bercinta menyandang gelar terbaik dalam urusan bercinta. Wanita-wanita terperangkap dengan ucapannya. Kalau dibandingkan dengan teman sebayanya, Djarumlah yang paling menang dalam kisah bercinta. Ia menceritakan sepenggal cerita yang dialami. Ia menjadi penjual mintah tanah ke berbagai sudut-sudut desa. Perjalanan antar kota sering terjelahi dengan kaki telanjang. Kesulitan dalam berjualan selalu dihadang oleh orang tinggi besar berdarah biru. Selalu ia memutar otak untuk bisa lewat. Tipuan ilmu apa yang ia gunakan dapat lolos. Hingga ia muak dengan hadangan-hadangan yang dilakukan, karena ilmu juga harus terus dipacu. Pemikiran apa yang membuat ia menyerah dan mau mengabdikan kepada keluarga Belanda. Tugasnya hanya menjaga dan merawat anak. Pemeliharaan yang dikira cukup aneh. Setiap paginya anak yang berusia 5 tahun di jemur selang 5 jam. Kejadian ini terus berlangsung sampai umur 14 tahun. Padahal panas selalu membuat gerah.
Djarum mempunyai ide dengan
ia mengabdikan dirinya, ia mampu menghidupi dirinya. Bukan karena ingin apa. Akhirnya
semenjak penjajahan Belanda berhenti dan di dududki Jepang, kini ia hanya
menjadi penganguran. Bertemu dengan orang yang selalu berjualan di pasar. Kesana-kesini
taka da yang peduli. Ia menawarkan pada salah satu penjual sayuran. Akhirnya ia
diterima mengunakan ilmunya.
Berkaitan dengan ilmu ia
tempuh saat ia berusia 7 tahun bersama guru besarnya. Ialah murid terbaik yang
terpilih dan menguasai banyak kanuragan. Tapi semua itu luluh dengan cinta. Tak
tahu apa yang terjadi, semua kekuatan kanuragan lenyap sesaat ia mempunyai rasa
cinta. Benar cintanya tak begitu suram. Bahkan
semua wanita mau hidup bersama dia. Hanya ilmu peganggan yang sekarang ia
miliki. Karena terlanjur ia menyelami sebuah kesenagan terhadap wanita. Ada keturunan
cina yang mampu meluluhkan hatinya. Apa yang terjadi. Keluarga cina tak mau
menerima Djarum sebagai menantunya dengan pekerjaannya yang tidak sepadan. Sejarah
yang umum tidak khusus ia ceita secara detail. Namun hanya beberapa kisah
perjajalanan saja.
Berakhirnya penjajahan,
Djarum kembali ke keluarga. Anak yang
mbeling, anak yang sudah keluyuran, 2 tahun baru kembali. Hanya untuk meminta
sesuap nasi. Pengembaraan yang ia lakukan tanpa ada kata Gusti. Semua ia
lakukan dengan kebaikan. Keluarga tak mau menerima dia lagi. Sebab ia dianggap
mati dan telah menghiaanti negeri sendiri. Padahal ia hanya ingin tak mati, dan
kalaupun mati, ia juga akan tak bisa mati. Semua serba yang disalahkan dia
sendiri. Ia terperangkap dengan berbagai macam perlawanan juga. Hanya tidak
dengan kekerasan fisik. Sehingga semua tak ada yang mengetahui. Ia diam-diam
berkelana kesana-kesini hanya untuk mati, tapi penghalang diri dan ilmu yang
dimiliki membuat ia harus membunuh yang merusak negeri. hanya dengan perkataan
dan sebuah mantra suci yang diajari, mampu membunuh 4 orang yang telah
menghadang. Permainannya dalam mencuri nyawa sangatlah teliti dan tak ada yang
mengetahui.
Dalam hitungan biji yang ia
kantongi, ia menjelaskan kepada keluarga. Dia juga ikut membunuh buah belati yang
dianggap membahayakan bagi negeri ini. Mungkin semua tak ada yang percaya
dengan hal yang ia katakan. Jelas. Biji bunga
matahari yang ia kantongi di saat ia membasmi. Jumlah yang ia bunuh 60 orang
dalam perjalanan selama dua tahun. Ia sendiri. Bahkan ketika ia mengabdi semua
orang telah ditinggal pergi. Artinya semua mati. Memang semua kejelasan tak ada
bukti. Hanya beberapa butir biji bunga matahari. Djarum binggung dalam
pembuktian yang harus dilakukan. Tawaran langsung dari keluarga, tidak ada
bukti berarti harus pergi, dan jangan kembali kesini.
Ia pun sanggup untuk pergi
dan mencari bukti. Bukti yang selama ini ia kumpulkan bukan orang yang telah ia
bunuh dan menemukan jasad yang mati. Namun sebuah wanita yang mampu menganti
orang-orang yang telah mati. Dalam benak pikirannya sedikit aneh. Wanita yang
akan ia sunting harus harus memberikan arti nyawa sebagai tanda dia akan
diterima. Mulai perjalanan dari sebuah pajak. Pemengang bonang. Pementasan di
plosok-pelosok ditelusuri. Ledekan yang digeluti. Guru besarnya berpesan
cintailah alat-alat musik tradisonal. Maka kau akan banyak dipinang orang. Tuturnya.
Demikian ia langsung bisa memainkan bonang.
Ia mendapat istri pertama
ketika ia pentas. Lirikan permainkan yang dikonsentrasikan ke alat bonang, juga
ia pancarkan ke wanita yang melihat. Lirikan mata satu kali mampu membuat ia
lolos dalam mengumpulkan bukti. Wanita pertama dinikahi dan ia tinggal bersama
wanita pertama. Berbuah hasil sebuah nyawa baru. Dua nyawa telah digegamnya. Kemudian
ia berlaari dan mencari tambahan bukti.
Wanita kedua dan seterusnya
, hingga wanita ke enam. Telah terkelabuhi hati suci. Semua yang diberi telah menjadi benih yang abadi. Total
semua nyawa yang dimiliki adalah 38. Dari enam istri. Hubungan jalinan kasih
masih ada, semua taka da yang kecewa. Bahkan senang dengan keramain
berkeluarga. Tapi yang mampu adalah pegangan ilmu yang ia bawa.
Djarum bersama enam istri
dari berbagai tempat asal yang berbeda, diikuti 38 nyawa yang belum terarah. Dia
berkata pada keluraga ini buktinya, aku telah membawanya. Dari pihak kelurga tak
ada kata dan mengucap silahkan masuk. Namun semuanya tetap akan kembali ke
tempat masing-masing. Djarum merasa lebih senang bisa diterima kembali. Semua perjalanan
telah ditelusuri. Hingga sampai saat ini. Waktunya bersemedi dan menjadi
sesepuh kaum-kaum yang membutuhkan. Kanuragan memang hilang, pegangan yang
telah melekat dalam dirinya tak mau keluar. Kecocokan dan tingkahnya menjadikan
itu.
Waktu bergulir dijadikan
jasa untuk menolong sesama. Sakit apapun ia coba sembuhkan sebisa mungkin. Terkadang
tak ada yang sembuh. Semua butuh kecocokan. Tak ada patokan harga pasti untuk
menganti usahanya. Semua iklhas. Tak menutup
kemungkinan banyak orang memberi makan dan membelikan rokok saja sudahlah
cukup. Keluarga yang mendapat pembagian harta kini berpencar, dan banyak yang
mati. Begitupun kedua orang tua Djarum telah tiada. Semua itu adalah takdir
yang telah digariskan.
Sebenarnya ia juga ingin
mati, tapi masih banyak orang yang membutuhkannya. Usianya yang telah mencapai
batas tak masuk akal dalam perjalanan usia. 107 tahun ia kantongi umur itu. Setiap kali ia sesering
sakit-sakitan. Istri yang juga telah dulu mati, kini tinggal anak-anak yang
menyambangi dan merawatnya. Anak-anak yang mau mengurusi anak dari istri ke
enam. Kisahnya di ranjang tak menjadikan semua adalah pertapaan. Rambut yang
seharusnya putih, yang dikatakan banyak orang adalah beruban. Namun kini rambut
hitam dan sangat hitam.
Banyaklah yang tahu kalau
Djarum memiliki peganggan. Akhirnya pegangan itu disebarkan ke anak dan cucu. Tak ada yang berbahaya, meminta tumbal atau
apa. Hanya sebuah kecocokan saja. Tak makan
satu bulanpun adalah hal biasa, tidak mati dan tetap bernafas. Sesaat mau mati
selama dua menit, tiba-tiba hidup kembali. Siapa yang yang tak mengangap semua
ini misteri. Tepat pada pegangan yang diberikan kepada Mbah Jenggot, tertulis
betul bahwa ia akan mati di umur 110 tahun. Tepat pada umur itu. Ia mati. Semua
yang ia lakukan memang tak ada bukti. Hanya sang Gusti. Sang Gusti tak ada lagi.
Kelanjutan tulisan aksara jawa dalam pegangan Mbah Jenggot, yaitu selalu hidup
rukun dengan sesama saudara. Bantu orang yang membutuhkan.

Komentar
Posting Komentar