Rumah Hujan




Saduran cerpen rumah hujan oleh Edy Saputro Cahyo


PANGGUNG DIBAGI MENJADI 4 BAGIAN, PANGGUNG 1 SUASANA KERINDUAN NARPATI YANG MENANYAKAN KEBERADAAN AYAHNYA YANG PERGI  KEPADA IBUNYA

NARPATI                  : Ibu saya menyukai air saat kau ajak aku entah dimana itu?
IBU                             : Oooo itu rumah Budemu, Bude Kanti. Memangnya kenapa?
NARAPATI              :Tidak ada apa-apa, Cuma kok seingat saya wajahnya seperti Ibu? Saat Ibu menyuapiku nasi beras merah dan makanan lain .
IBU                             : Ya karena dia adalah mbak Ibu. Suka ada disana.
NARPATI                  : Ya Bu! Disana saya menyukai air yang ada di tritisan atap. Biasanya saya  juga mengambil bungga kamboja yang jatuh untuk oleh-oleh buat ayah.

Lima bulan telah berlalu
NARPATI                  : Ibu ayah kemana kok belum pulang juga?
IBU                             : Masih mencari kayu Nar! Karena ada pesanan banyak untuk membuat kursi dan meja.
NARPATI                  : Mengapa Ayah tidak pulang-pulang juga? (dirinya kesepian dan kangen dengan ayah)
IBU                             : Mungkin masih dalam perjalan pulang Narpati.
NARPATI                  : Ibu saya sekarang tidak ada teman bermain lagi. (melamun, hanya ayah yang bisa ajak bermain Narpati)
IBU                             : Maaf  Narpati Ibu tidak suka bermain. (ada sesuatu pikiran yang terlintas untuk diajak kerumah Bude Kanti)
NARPATI                  : Kapan ayah pulang, Narpati kangen. (mengerutu dengan kesedihan, sampai ketiduran dan seolah-olah mendengar suara ayahnya)
IBU                             : Kita harus pergi, Nar.(sambil membangunkan Narpati yang tertidur)
NARPATI                  : Ke mana Bu?
IBU                             : Ke tempat Bude. Dia sudah menuggu kita.


PANGGUNG 2 SUASANA MENYEDIHKAN DITINGGAL IBU DAN DIJAUHI TEMAN-TEMAN SERTA SUASANA BAHAGIA SAAT BERMAIN DENGAN TEMAN-TEMAN,
NARPATI                  : Itu bude sudah ada didepan rumah Bu.
IBU                             : Ya Nar.
NARPATI                  : Senyum Ibu dan Bude kok sama.(sambil ngantuk)
IBU                             : Mbak, aku harus mencari suamiku. Titip Narpati. Aku tahu sudah waktunya ia tinggal bersamamu.
BUDE KANTI           : Ya aku akan menjaga dan merawat Narpati. Dan semoga suamimu lekas ketemu, hati-hati.

Sembilan tahun umur Narpati di rumah Bude Kanti
NARPATI                  : Bude kenapa ibu dan ayah belum pulang dimana bagaimana kabarnya
BUDE KANTI           : Ayah dan ibumu baik-baik saja.
NARPATI                  : Jika baik-baik saja , mengapa mereka tidak menjemputku?
BUDE KANTI           : Hmmmmmm...... (tidak ada jawaban sepatah katapun)




Narpati senang bisa mendapat teman baru dan bersama mereka kerap singgah di Rumah Hujan
NARPATI                  : Mengapa  mereka tidak mau bermain di Rumah Hujan Kusdi. Kan halamannya luas dan penuh dengan pepohonan yang bisa untuk bermain petak umpet.
RUSDI                        : Tidak boleh sama orang dewasa, begitu kedengarannya.
NARPATI                  : Memang apa alasanya tidak boleh main.
RUDSI                        : Itulah Narpati aku sendiri juga tidak tahu. Tapi aku dan teman-teman ingin mengenal kamu lebih dekat karena kamu sering berbicara pada pepohonan  seperti orang kesepian.
NARPATI                  : Oooo begitu....
RUSDI                        : Kami juga heran mengapa kau juluki Rumah Hujan Pendopo Budemu?
NARPATI                  : Karena disinilah saat musim kemarau yang hanya bisa terlihat air yang menetes air dari atap ke lantai.
RUSDI                        : Tapi kami semua tidak bisa melihat air itu Narpati?

Bude Kanti datang menyambangi mereka semua.
BUDE KANTI           : Narpati, memang teman-temanmu tidak ada yang bisa melihat. Sekarang cobalah letakkan tanganmu di kepala mereka semua pasti nanti akan bisa melihat.
NARPATI                  : Baiklah Bude..! (Kemudian meletakkan tangannya di kepala teman-temanya satu-persatu )
BUDE KANTI           : Bagaimana sekarang yang kalian rasakan.
RUSDI                        : Iya saya mendengar tetesan air itu yang jatuh ke lantai tanah.
NARPATI                  : Sekarang selain yang kau dengar apa yang kau lihat.
RUSDI                        : Iya ini saya juga bisa melihat airnya. (Teman-teman yang lain juga bisa merasakan keberadaan air tersebut)
NARPATI                  : Jadi kalian sekarang  mau bermain di Rumah Hujan ini.
TEMAN-TEMAN      : Ya mau...!
(Meraka sering mendengar suara-suara yang berkumpul di pohon sukun di pojok halaman. Suara –suara halus yang kadang suatu bisikan )

Wulan adik Rusdi juga mengalami hal-hal yang aneh
WULAN                     : Kak Rusdi aku juga sering tertidur di pohon sukun itu.
RUSDI                        : Terus apa yang kau rasakan dan alami Wulan kok bisa tertidur?
WULAN                     : Ada suatu suara-suara yang halus yang kudengar dan membuatku mengantuk. Dan saat tidurku juga bermimpi tentang kabut berwarna pelangi yang turun dari atas bukit dan berkumpul menetap di Rumah Hujan.

Bude Kanti hanya terdiam.dan masuk dapur membuat bubur merah.
BUDE KANTI           : Kalian semua makan bubur merah-putih ini dulu.
NARPATI                  : Iya Bude. Teman-teman ayo kita dibuatkan Bude bubur merah putih.(sambil melambaikan tangan kepada teman-temanya yang sedang bermain)

Narpati saat mimpi Wulan itu ia sering terbangun malam.
NARPATI                  : Bude di mana, Bude, Bude! (akhirnya melihat Bude yang berada di halaman dengan rambut terurai dengan membaca mantra dan melihat kedua sinar cahaya)

PANGGUNG 3, NARPATI YANG KESEPIAN TAK ADA TEMAN-TEMAN, MEMAKSA NEKAT KE RUMAH RUSDI
RUSDI                        : Mbak, Wulan tidak boleh main lagi ke rumah Mbak Narpati.
NARPATI                  : Kenapa memangnya ada yang salah denganku. (raut muka yang kelihat sangat sedih dengan kata-kata dari Rusdi)
RUSDI                        : Tidak kamu tidak salah, namun orang tua kami melarang kami bermain denganmu di Rumah Hujan itu lagi, begitupun teman yang lain juga dilarang orang tuanya.
NARPATI                  : Oooo, tapi bagaimana dengan Wulan, Kusdi? (pengaharapan yang besar akan ajakan ia kepada Wulan)
KUSDI                       : Tidak tahu coba tanyakan sendiri saja.
NARPATI                  : Maukah kamu Wulan bermain di Rumah Hujan.
WULAN                     : Sebenarnya saya kangen Mbak, pengen tidur di pohon sukun lagi. Rasanya ayem (Wulan sangat takut saat mengatakan hal itu )

Narpati pulang menuju rumah dan menanyakan kepada Budenya
NARPATI                  : Bude mengapa teman-teman dilarang main kesini, apa alasannya. (Dengan ragu akan jawaban Bude)
BUDE KANTI           : Tidak kenapa-kenapa. (tak banyak bicara dan tersenyum)
NARPATI                  : Kalau begitu di manakah keberadaan orang tua saya?
BUDE KANTI           : Orang tuamu selalu ada di dekatmu, Nar? (sambil mengelus kepala Narpati)
NARPATI                  : Padahal aku sering berharap orang tuaku datang menjemputku kembali. Aku sering berlari saat , mendengar suara dokar, aku berharap itu orang tuaku, namun semua itu hanya penantian sia-sia.
BUDE KANTI           : Bersabarlah Nar? Sekarang biar kamu tidak sedih aku akan ajari sesuatu mantra.
NARPATI                  : Mengajari mantra untuk apa Bude? (kesedihan sedikit berkurang dan merasa nyaman dengan apa yang diajarkan Budenya)
BUDE KANTI           : Mengerakkan sehelai daun dan menghidupkan lampu minyak. Nanti kamu akan senang saat mempelajarinya.
NARPATI                  : Dimana dan bagaimana caranya? Apakah aku bisa Bude kan aku aku anak biasa.
BUDE KANTI           : Di halaman Nar, caranya dengan meniupkan angin dari mulut dan mencampur dengan bacaan mantra yang nanti Bude ajarkan ke kamu. Bisa karena kau adalah salah satu yang Bude punya.
NARPATI                  : Sekarang Narpati tidak punya teman Bude, dan apakah Bude mau bermain dengan Narpati.
BUDE KANTI           : Ya aku akan ajak bermain. Namun bukan permaianan biasa. Tetapi permainan sihir. Pasti kau akan senang.

Setelah kepergian teman-temanya,Narpati nekat memaksa Bude menjawab pertanyaannya mengenai orang-orang dewas melarang main kesini.
NARPATI                  : Bude mengapa teman-teman dilarang orang dewasa bermain kesini. Mengapa pula saat bulan purnama Bude terbang di antara pepohonan, dan mengapa aku selalu bisa berhasil menebak persembunyian teman-temanku, serta saat aku menangis mendatangkan guntur.Tolonglah Bude jawab pertanyaanku ini.
BUDE KANTI           : (tidak menjawab satu pertanyaan satupun)

Sore hari saat Narpati pulang dari rumah Rusdi
BUDE KANTI           : Narpati sekarang tolong kemasi pakaianmu.  Ini ada jarik pakai untuk mengemasi pakaian-pakaianmu. (penak pikiran yang akan suatu terjadi  firasat yang tidak enak dan sangat berbahya)
NARPATI                  : Ya Bude. (tidak banyak kata-kata dan menuruti apa yang disuruh Bude)
BUDE KANTI           : Apakah kamu sudah siap? (sambil memasukan sekotak perhiasaan emas dan seouluh ikat uang kertas ke dalam tas kain)
NARPATI                  : Siap Bude. (dengan pikiran yang binggung dengan kelakuan Budenya)

PANGGUNG 4. SUASANA TERJADI SELEPAS MATAHARI TENGGELAM, NARPATI MENGIKUTI LANGKAH BUDENYA DARI RUMAH HUJAN MENUJU BUKIT
NARPATI                  :  Mengapa air itu tidak menetes lagi dari atap. (saat beberapa langkah meninggalkan Rumah Hujan  dan sambil mendongak ke arah Budenya)
BUDE KANTI           : Jangan banyak bicara, lanjutkan perjalananmu (Tubuhnya yang kurus yang terlihat ringgkih dibalut kain lurik hitam)
NARPATI                  : Memangnya kita mau kemana Bude? (binggung akan kelakuan Bude yang mengajak tergesa-gesa  pergi)
BUDE KANTI           : Ke bukit di atas sana. (sambil membawa minyak lampu menyusuri jalan)

Hampir tiba di ujung bukit
NARPATI                  : Bude kita sudah hampir sampai. (sambil melihat kembali Rumah Hujan, yang banyak obor mengelilingi rumah berbentuk limasan)
BUDE KANTI           : Ya Nar,, kau capek?
NARPATI                  : Tidak Bude, oh ya Bude mengapa ada obor seperti kunang-kunang mendekati Rumah Hujan dan berwarna kuning kemerahan.
BUDE KANTI           : Hmmmm (hanya diam saja )
NARPATI                  : Bude ada apa, kenapa diam saja. Dan mengapa udara  panas, apalagi Rumah hujan kini telah lenyap ditelan kunang-kunang.
BUDE KANTI           : Hahhhhhh (tetap diam dan diam)
NARPATI                  : Mengapa Bude diam terus saat aku tanya. Sekarang bagaimana kalau ayah dan ibuku menjemputku ke Rumah Hujan itu. Padahal Rumah Hujan itu juga pertama kali aku mengenal dan mendapat teman-teman baru. Teman yang bisa melihat yang aku lihat. Dan merakan apa yang kau rasakan.






Komentar