- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Edy Saputro
Cahyo
PANGGUNG II MENGAMBARKAN SUASANA AWAL, DAN LAMPU-LAMPU MULAI
MENYALA TERANG,DENGAN SUASANA MENYENANGKAN.
IBU : Anak-anak sudah makan belum?.
Cepat makan dan sholat.
ASI :
Iya Bu...!! ini masih menunggu adhik yang ambil air wudlu. Kalau makan habis
sholat nanti saja.
(sambil membenakan baju dan sarung)
IBU : Begitu,
tapi jangan ditinggal adhiknya sholat berjamaah amalnya lebih banyak 27
derajat.
(duduk dengan menyiapakan makanan)
ASI : Nasehat
Ibu selalu aku dengarkan dan kerjakan. Hanya Ibu yang memperhatikan aku dan
adhik.
IBU : Ibu
merasa bersalah malahan, karena sejak kecil hingga sekarang, Ibu jarang dirumah
paling hanya 1 bulan pulang sekali untuk kirim uang dan melihat keadaan
kalian. (wajah
yang terlihat agak sedih dan layu)
ASI : Ibu
jangan bersedih aku sangat paham dengan penderitaan yang telah Ibu lakukan
selama ini. Semua pengorbanan sekuat tenaga hanya Ibu lakukan untuk aku dan
adhik.
IBU : Kenapa
tidak sedih Le,,! Ibu semenjak ditinggal ayahmu sangat menderita, tapi harus
bagaimana demi nasib kalian, Ibu relakan apapun.
(meneteskan air mata kesedihan dipelukan ASI)
ADIK : Ibu mengapa
menangis, apa yang telah kakak lakukan pada Ibu.
(dengan mendekati membawa sarung di pundak)
ASI : Ibu
tidak apa-apa hanya sedih, karena tetangga
di tempat kerja ada yang meninggal.
ADIK : Tapi
mengapa Ibu tidak menjawab.
IBU : Benar
apa yang dikatakan kakakmu, Ibu sedih karena tadi ada tetangga dekat tempat Ibu
bekerja ada yang meninggal.
ADIK : Ya sudah,
kakak ayo sekarang kita sholat. Ibu sudah sholat kan?
IBU : Ya Ibu
sudah tadi, dan ini ibu menyiapkan makanan untuk kalaian.
ADIK : Ya Bu! Ayo
Kak?
ASI : Baiklah
ayo, Ibu jangan bersedih lagi ya.
Sambil duduk dan menyiapkan makanan, kesedihan masih terpancar di
matanya
NENEK : Patmi kalau
di rumah pasti ribet dengan masakan-masakan. Tapi kenapa mukanya tidak senang
dan habis menanggis?
(dengan kaki nyeker dan membawa piring dari belakang yang telah
dicuci)
IBU : Halah
Mboke bisa saja, ya bersedih apa. Pasti mikirin hutang. (Tertawa
terbaha-baha tanpa bicara yang sebenaranya)
NENEK : Coba aku nyicipi dan minta gorengan yang dibawa dari
Cepu. Enak tidak masakan cino.
IBU :
Halah malahan enak masakan Jawa, kalau masakan cino tidak pakai semacam
micin,masako.
NENEK : Apapun
masakan asal halal aku mau saja.
(sambil duduk dengan meminta makanan dari Patmi)
IBU :
Mbok bagaimana tingkah anak-anak kalau di rumah, apakah mereka nakal?
NENEK : Tidak, mereka
semua penurut dan tidak melawan kalau dinasehati.
IBU :
Tapi kenapa ya. Saya tidak enak kepada Mbok. Aku merepotkan keadaan mbok, belum
mengurusi kakek dan belum anak-anak. Apakah mbok sanggup dengan semua ini.
Jujur mbok, apakah mbok keberatan dengan semua ini.
NENEK : Tidak Pat! Mbok malah merasa dibantu dan sangat mudah
dalam mengurusi rumah, ada yang nyapu tiap pagi dan sore ambil air, kalau yang
Asi tiap pulang sekolah bantu mencari rumput. Mereka semua sangat rajin dan
tidak menyusahkan.
IBU :
Simbok terimakasih, kalau tidak ada Simbok dan saya dan anak-anak diberi tempat
tinggal disini. Sangat terimakasih.
NENEK : Kamu kan anak
Simbok dan anak-anakmu adalah cucu Simbok, apakah harus simbok meminta imbalan.
Apakah pantas bagi simbok.
(dengan mengelus-ngelus punggung Ibu dan melihatinya)
Beberapa saat Asi dan Adik keluar dari tempat sholat, langsung
memeluk tubuh Ibu
ASI :
Mengapa ibu kelihatan murung lagi wajahnya. Ada sesuatu lagi. Kalau ada
ceritakanlah.
(dengan
raut wajah yang sangat sedih pula dan tersedu-sedu menangis)
IBU :
Tidak ada hanya Ibu kasihan kepada nenekmu yang merawat kalian berdua dan juga
kakekmu. Ibu baik-baik saja Nak!
NENEK : Kalau begitu semuanya jangan bersedih, mari kita makan,
Ibu kalian sudah susah payah memasak masakan ini dari Cepu. Dan jangan
bersedih.
ADIK :
Iya Nek! Saya sudah lapar sekali.
(sambil
memenganggi perutnya dan menggelus-ngelus)
ASI :
Iya Bu! Kita jarang juga kan makan bareng dengan suasana seperti ini.
IBU :
Benar kata kamu Le! Kalau begitu ayo makan dan tolong nenekmu ambilkan.
(sambil
menyiduk nasi dimasukkan di piring)
Di sela-sela memakan dengan lahapnya, ada suara yang mengetuk pintu
dan suaranya keras sekali
SEMUANYA Tercenggang dengan suara ketukan itu
NENEK : Siapa ya yang bertamu magrib-magrib
seperti ini?
(dengan wajah
linglung dan penuh keraguan)
ASI : Mungkin Paman yang sering
iseng dan buat tegang saja.
ADIK : Kakak kalau begitu Adik lihat
ya! Dan aku akan kerjain paman.
(dengan membawa
air untuk menyiram paman dan berjalan pelan-pelan )
PAMAN 1 : Hahahaha.......! Hayo mau nyiram paman ya. Untung saja paman
cepat mengaku dan memperlihatkan diri.
ADIK :
Paman kok tahu. Tadi ngintip ya saat kami makan. Ada apa paman kesini. Nanti
dimarahin sama isterinya. Kan galak isterinya. Hehehehe!
(tertawa
dengan suara terkekeh dengan bergetar semua seluruh badan)
PAMAN 1 : Tidak akan paman dimarahin dan dicari, budhenu sudah tidur
dengan anaknya tadi.
ADIK :
Kalau begitu paman ayo masuk dan ikut makan bersama Nenek,Ibu dan Kakak.
PAMAN 1 : Apa Ibumu pulang dari tempat kerjanya.
ADIK :
Ya paman, ayolah cepetan nanti keburu nasinya habis.
(sambil
memegangangi tangan paman dan menyeret mengajak masuk)
PAMAN : Ayo. Kebetulan paman juga belum makan. Kelihatannya makan
besar ini. Ooo ternyata ada ngapain dari Cepu yang pulang dari tempat kerja.
Kalau begini banyak ini uanganya, bisa hutang.
IBU : Ya ini baru datang tadi sore,
tadi waktu aku pulang kamu dimana Kang?
(sambil makan dan
menyuapi adik)
PAMAN 1 : Tadi masih kerja, biasa mencari tunggak jati. Tapi juga belum
kaya-kaya. yang penting bisa makan tiap hari sudah cukup.
IBU :
Benar itu. Yang penting bisa makan tiap hari dan hidupnya makmur. Kang ini
makan dulu, tadi dari rumah sudah makan belum. Kalau belum silahkan makan, ini
ada sedikit lauk pauk dari Cepu.
(sambil
mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk kangnya)
PAMAN 1 : Belum, rencananya mau ke warung tadi. Tapi ini sudah ada
rejeki ya dimakan saja. Terus enak sekali lauk pauknya.
Asi menyelesaikan makannya dan langsung mengumpulkan piring-piring
ASI :
Ibu ini saya sudah habis makannya. Piring-piring yang kotor aku bawa ke
belakang ya.
(berdiri
dan kebelakang membawa piring-piring)
PAMAN 1 : Anakmu Asi sangat rajin bila di rumah, sering membantu
neneknya. Kadang saya juga dibantu untuk memasukan sapi-sapi saat hujan, saat
aku kerja dan isteriku ada arisan.
(sambil
makan dan berbicara)
IBU :
Seperti itu ya, memang saya sangat beruntung dengan punya anak-anak yang rajin
tapi mengapa ada yang terbebani saat aku pisa dengan ayahnya. Adiknya yang
selalu bertanya dimana ayahnya dan kepengen ketemu. Banyak alasan yang aku
sembunyikan dari adik, kalau kakaknya sudah tahu. Begitupun dia juga
menyembuyikan semua itu.
PAMAN 1 : Memang semua itu hanya kehendak Allah semata. Kamu juga tidak
mau kan perpisahan ini terjadi dan tidak mau kan anak-anakmu menjadi seperti
ini.
(menghabiskan
makannya dan meletakkan piring ke meja)
Selesai makan adik duduk-duduk dan melihat televisi, sementara
nenek pergi ke kamar, ibu dan paman masih berbincang-bincang, sedangkan Asi
selesai menyuci piring dan menaruh piring itu di rak.
ASI : Ibu adik selesai makan tadi
kemana?
(berdiri di dekat
ibu dan mengambil piring yang kotor lagi)
IBU : Lihat tv Nak!
ASI : Ooo begitu. Ya sudah saya
membereskan piring-piring yang kotor ini dulu.
(sambil membawa
piring menuju belakang)
PAMAN 1 : Patmi! Apakah kamu tidak berencan mencari penganti suamimu
lagi. Dan kasihan kamu bekerja sendiri tidak ada yang membantu. Apalagi dengan
anak-anakmu yang masih sekolah, pasti butuh biaya yang sangat mahal.
IBU :
Saya belum terfikir masalah itu. Saya takut kalau mau mengambil bapak baru,
takutnya anak-anakku disia-siakan. Tapi tidak tahu nanti kalau mereka sudah
besar dan bisa berfikir.
PAMAN 1 : Tapi kamu sangat berat menanggung semua ini sendirian. Aku
takut pada masa depan anak-anakmu.
IBU :
Sebenarnya banyak yang menawari aku. Mulai dari sopir truk, penjaga toko dan
banyak lagi, tapi yang ada mereka aku tolak. Sebab takut tadi aku pada
anak-anakku kang.
PAMAN 1 : Kalau begitu baiklah, kalau keputusan dan cara berfikirmu
seperti itu. Mungkin suatu saat nanti kamu akan butuh pedamping hidupmu untuk
membantu mengurusi anak-anakmu.
Asi datang
dengan membawa piring dan meletakkan di rak
ASI :
Apa yang ibu dan paman bicarakan, sepertinya serius benar.
PAMAN 1 : Seperti tidak tahu saja. Masalah mau pinjam uang. Karena
paman lagi butuh untuk membeli spark pack alat motor yang rusak.
ASI :
Ada apa lagi dengan motronya paman. Bukan sudah diperbaiki kemaren. Apakah ada
yang rusak lagi.
PAMAN 1 : Iya kemaren saat paman muati kayu sangat berat sekali.
ASI :
Jangan pinjam banyak-banyak lo paman, karena mau untuk aku melanjutkan sekolah
lagi.
IBU :
Paman hanya pinjam sedikit Nak! Kamu memangnya setelah SMP mau melanjutkan kemana lagi.
ASI :
Yang dekat-dekat saja Bu! Mungkin di SMK Ngraho jaraknya sangat dekat bisa
ditempuh dengan jalan kaki dan sepeda.
(raut
wajah yang gembira dan duduk)
PAMAN 1 : Ya SMK sangat dekat, tetangga seblah juga sekolah disana.
IBU :
Siapa kang?
PAMAN 1 : Suwono anaknya Pak rt.
IBU :
Oo ya lupa saya, jarang di rumah seperti ini. Apakah biayanya mahal.
PAMAN 1 : Masalah itu saya kurang tahu. Coba nanti biar Asi sendiri yang
tanya-tanya. Suwono iitu kayaknya juga sudah hampir lulus, karena sudah kelas
3.
IBU :
Ya Asi nanti coba tanya habis sholat isak, coba main-main kesana.
ASI :
Iya Bu! Nanti coba aku tanyakan ke mas Suwono. Terus Ibu mau balik kapan?
IBU :
Mungkin besok Ibu sudah balik, soalnya tidak ada yang memasak dan cadangan
masakan Ibu habis. Sebenarnya pengen di rumah dua hari. Kalau kamu kangen Ibu
ajak adikmu ke Cepu saja ya.
ASI :
Baiklah Bu! Sekarang Asi mau Isak dulu.
(berdiri
dari temapt duduk dan memanggil-manggil adik)
ASI :
Adik ayo kita sholat isak dahulu. Ini sudah waktunya.
ADIK :
Kan belum adzan kak, ini masih lihat tv sebentar lagi. Apa kakak dulu yang
sholat nanti saya menyusul.
(sambil
berbaring diatas tikar)
Berjalan
menemui adiknya yang melihat tv
ASI :
Ayo, jangan malas. Walaupun masih lama tapi ada persiapan untuk wudlu dulu,
kemudian sholat sunnah.
(berdiri
di dekat adik dengan muka yang agak sedikit menasehati)
ADIK :
Hah Kakak, iya iya. Ini berdiri dulu.
ASI :
Begitu akan lebih bagus dan pinter.
Mereka berdua menuju kebelakang dan mengambil air wudlu, sementara
Ibu dan Paman melihat Asi dan adik menuju belakang
PAMAN
1 : Lihatlah anak-anakmu rukun.
IBU : Pasti rukun, karena didikan
nenek dan paman-pamannya.
PAMAN
1 : Ya sudah, ini mau pulang
sepertinya Lia anakku menaggis.
(mendengar suara
tangisan anaknya yang berusia 5 tahun)
IBU :
Iya, sepertinya memang Lia yang menanggis. Cepat pulang keburu isterimu
ngamuk-ngamuk.
PAMAN 1 : Waduh aku juga lupa tadi disuruh beli obat nyamuk. Bakal
dimarahi nanti aku sama isteriku.
(muka
takut dan binggung karena belum membeli obat nyamuk)
Paman pulang dan Ibu berdiri dan melihat tv,sementara Asi dan adik
selesai wudlu
ASI :
Ibu tidak mengambil air wudlu tadi sudah sekalian aku timbakan di padasan buat
Ibu.
(berdiri bersama adiknya saat
selesai wudlu, dengan menghampiri Ibunya)
IBU :
Ya nanti setelah selasai kalaian sholat, Ibu ini masih istirahat sebentar.
ASI :
Ya Bu! Asi dan adik duluan. Ayo dik kita sholat duluan.
(berjalan menuju
tempat sholat)
Nenek yang dari kamarnya juga melihat tv bersama Ibu
IBU :
Belum tidur ya Mbok tadi, aku kirain sudah tidur. Soalanya tidak ada suaranya
lagi.
NENEK : Tadi di kamar lempiti pakaian-pakaian.
IBU :
Ooo kalau begitu duduk sini Mbok.
NENEK : Memangnya acaranya apa Pat! Sinetron-sinetron kalau ada
Yusra dan Yumna.
(duduk bersama patmi)
IBU :
Sepertinya tidak ada Mbok? Adanya Tutuntinular. Suka tidak Mbok!
NENEK : Ya itu juga tidak apa-apa, filmnya juga bagus itu.
Asi dan adik selesai sholat kemudian bergabung melihat tv bersama
ibu dan nenek
IBU :
Sudah selesai, ya sekarang giliran Ibu, tapi sebentar nunggu iklan ya. Apa kamu
tidak belajar Asi. Adikmu juga ajak belajar.
ASI :
Iya Bu! Asi akan belajar, ayuk dik belajar bersama kakak.
ADIK :
Kakak lihat tv sebentar ya, nanti bis ini belajar. Terus adik juga ingin lihat
tv bersama Ibu, ini sangat jarang sekali kan kak.
ASI :
Iya sangat jarang, ya kalau begitu lihat tv dulu ru belajar. Ini sudah iklan lo
Bu, jadi cepat sholat dan do’anya Bu untuk kita semua.
IBU :
Itu sudah pasti, dan memang do’a Ibu setiap sholat agar kelak anak-anakku jadi
orang sukses.
(ibu
berdiri dan menuju belakang ambil air wudlu)
ASI :
Amin Bu! Semoga kami sukses. Adik kalau begitu kita ayo belajar.
adik tertidur
dengan perut kenyang dan kelihatan kecapekan
NENEK : Asi sudah tidak usah dibangunkan adiknya biar tidur,
belajar besok pagi saja.
Ibu selesai sholat dan berkumpul lihat tv lagi,namun melihat adik
tidur, kemudian memindahkan ke bayang.
ASI :
Ya aku juga ngantuk Bu! Jadi mau tidur bareng Ibu. Terus Ibu tidur menemani
kami ya.
IBU : Iya Nak! Ini sekalian Ibu
nanti tidur juga.
NENEK : Kalau semua tidur, jangan lupa matikan lampunya yang
tidak terpakai. Ini Simbok masih melihat tv. Mungkin sebentar lagi juga pindah
kekamar.
PANGGUNG II MULAI GELAP, DAN PAGI HARI MEMULAI DENGAN SINAR YANG SANGAT
TERANG
IBU :
Anak-anak bangun sudah pagi, ibu akan memasak buatkan kalian sarapan. Asi
bangunkan adiknya.
(mata
yang masih belum terbuka semuanya)
ASI :
Iya Bu!
(menguap
berkali-kali dengan meluruskan semua badan dan sambil menepuk-nepuk bahunya
adik)
Sementara ibu menyiapkan sarapan buat Asi dan adik, dan Asi dan
Adik segera mandi, selain itu nenek sudah bangun lebih pagi mencari kayu bakar
di hutan. Beberpa saat sarapan matang dan mereka berdua sarapan.
ASI : Kalau begini terus enak ya
dik!
(memakan dengan
lahapnya dengan nasi dan telor)
ADIK : Ya kak.
IBU :
Asi dan adik sebentar lagi Ibu harus balik ke tempat kerja, nanti kalau
berangkat hati-hati ya.
Asi dan adik
kemudian berangkat sekolah dan berpamitan pada Ibu
ASI :
Berangkat dulu ya Bu!
IBU :
Ya hati-hati adikmu nanti kalau pulang sama anaknya Pamanmu kan.
ASI :
Iya Bu! Biasanya begitu.
Asi berangkat
dan adik naik sepedah
PANGGUNG
BERGERAK MENUJU PANGGUNG I DENGAN SUASANA YANG BERAROMA CINTA DAN
PENUH KASIH SAYANG
TUKANG BECAK : Daripada belanja jalan kaki lebih baik naik becak sini, Cuma
lima ribu.
PATMI : Tidak usah mas, jalan
kaki saja dekat kok.
(membawa
tas belanja beli sayuran dibuat masakan untuk bosnya)
Tukang becak yang mengoda setiap hari, dan bahkan Ibu saling tukar
nomor hp, dari situlah timbul rasa cinta dan kasih sayang.
1 bulan kemudian ibu pulang dan mengabarkan berita itu kepada Asi
dan Adik serta Nenek, saudara-saudara ibu.
PANGGUNG
BERGERAK MENUJU PANGGUNG II DENGAN MEMBAWAKAN SUASAN GEMBIRA
NENEK : Ibumu sudah pulang Asi?
ASI :
Belum Nek! Iya sekarang seharusnya sudah pulang. Seperti biasanya sore gini
pulang.
Sesaat
dinanti-nanti ternyata ibu datang membawa kardus
IBU :
Simbok, ada kabar. Saya ingin dilamar seseorang. Bagaimana Mbok!
(sambil
meletakkan barang yang yang dibawanya)
NENEK : Kalau aku terserah kamu dan anak-anakmu, kalau
simbok iya saja, asal baik dan sayang pada kamu dan anak-anakmu.
IBU :
Baik Mbok orang, sangat baik. Dia juga sering menolong aku saat membawa
belanjaan banyak sekali. Dan saat bosku keluar dia menemani dari luar.
NENEK :Alangkah baiknya ditanyakan kepada anak-anakmu.
Bagaimana pendapat mereka.
IBU :
Ya Bu!1 Asi bagaimana menurutmu dicarikan bapak lagi. Apakah kamu mau Nak!
ASI :
Saya seperti nenek, kalau Ibu bahagia saya juga bahagia Bu!
IBU :
Iya kalau begitu, terus kemana Adik.
ASI :
Adik di belakang lagi mandi. Ibu alangkah baiknya juga ditanyakan saudara Ibu.
Bagaimana pendapat mereka.
(kelihatan
binggung akan kata-kata yang diucapkan)
PAMAN 2 : Kebeneran kesini Ibunya Asi pulang. Mana oleh-oleh
jajannya.
(sambil
membawa beras yang akan dikasihkan nenek)
IBU :
Apa oleh-olehnya, ya hanya jajan krupuk yang ada.
(sambil
duduk mengajak paman)
PAMAN 2 : Ada
apa to mengajak duduk, berdua.
IBU :
Begini ya, Parji ini aku dilamar seseorang bagaimana menurutmu.
PAMAN 2 :
Sekarang begini, dia orang mana, pekerjaannya apa, nanti bisa bantu kamu
meringankan segala biaya unutk menyekolahkan anak-anakmu tidak. Lihatlah masa
depan anak-anakmu.
(sambil
menyalakan rokok)
IBU :
Dia orang Cepu juga, dia bekerja jadi tukang becak. Insa’allah bisa membantu.
PAMAN 2 : kok
malah tukang becak, ditawari sopir,pengusaha, dan orang yang kiranya mampu.
Malah cari tukang becak. Ada apa dengan kamu Patmi.
IBU :
Memang cinta tidak memandang status, orang kaya tapi sifatnya sering menyakiti
hati orang, dan menyakiti aku seperti suamiku dulu.
(kesedihan
terpancar di mata ibu sedikit mengingat masa masa dahulu)
PAMAN 2 : Aku
tidak bisa berkata apa-apa, tanyakanlah persetujuan pada anak-anakmu.mungkin
mereka lebih paham dan hatinya cocok atau tidak.
IBU :
Tadi sudah tanya Asi katanya terserah Saya. Tapi saya belum tanya Adik, mau apa
tidak.
Adik yang selesai mandi langsung memeluk tubuh ibi yang sedang
duduk bersama paman
PAMAN 2 : Adik mau dicarikan bapak lagi.
ADIK :
Tidak mau paman, karena adik masih suka sama bapak yang dulu.
PAMAN 2 : Ya
tahu sendiri kan, Anakmu ini tidak mau.
IBU :
Baiklah tapi aku akan tetap lakukan ini dengan hatiku. Memang adik belum
mengerti masih anak-anak.
PAMAN 2 : Ya
apapun yang kamu lakukan semoga baik untukmu, aku selalu mendo’akan.
Sementara nenek dan Asi di dekat pintu bercakap-cakap
ASI :
Nenek aku sebenarnya tidak mau ibu menikah lagi, tapi aku sangat kasihan pada
ibu, sejak kecil bertahun-tahun menyendiri sejak ditinggal bapak. Namun apa
yang bisa aku lakukan, sejakkecil kasih sayang ibu juga kurang ada padaku.
Hanya satu bulan sekali dan hari lebaran saja. Tapi dengan pengorbanan ibu
selam ini, membanting tulang sendiri, aku kasihan pada ibu.
(asi
menanggis di pelukan nenek )
NENEK :
Apapun itu Asi, terimalah. Ibu kamu pasti sudah memikirkan sedemikian rinci,
soalnya dari orang-orang yang melamar ibumu selalu ditolak. Saatnya ibu kamu
juga butuh teman hidup. Kalau suatu kelak kamu menikah dan kamu bersama
isterimu. Apakah engkau kan selalu menimani ibumu, tidak akan.
ASI :
Iya saya mengerti Nek! Hanya dengan
memberi dorongan pada Ibu. Saya takut hati ibu akan lebih sakit bila tidak bisa
menikah dengan orang yang ia sayang. Aku yakin semua ini sudah ada yang
mengatur.
NENEK :
Do’akanlah semoga yang mau menikahi ibumu adalh orang terbaik pilahan yang
sangat baik. Dan orang yang dipilih oleh Allah untuk menemani hidup ibumu.
Asi dan nenek ikut berkumpul duduk dan bersama paman dan ibu serta
adik.
IBU :
Kenapa kamu menangis Asi,
ASI :
Karean saya merasa bahagia bisa melihat ibu senang, dan akhirnya pintu cinta
untuk orang lain terbuka. Hanya kebahgiaan yang aku ingingkan unutk ibu.
PAMAN 2 : Ya
sudah sekarang apapun itu pasti baik untuk kalian berdua, Asi dan adik.
Semua bersedih dan menanggis akan keharuan
Komentar
Posting Komentar