Dua Orang untuk Semua


Karya: Edy Saputro Cahyo


Tadi pagi, sekumpulan manusia yang tidak terhitung jumlahnya haus akan sebongkah magma dari mana?. Dari uang sendiri atau uang yang telah mereka sembunyikan berkali-kali di kesunyian. Apa yang kami lakukan hanya ingin merasa panas, dan sungguh panas. Tak ada yang dikenali dalam situasi saat itu. Hanya mereka yang berbicara tanpa rupa. Setelah kami antri sekian lama. Di titik terakhir kami menemukan ruang atau celah kecil. Ruang itu untuk mengambil magma yang telah tertata. Semua bangga dengan adanya penghargaan dalam situasi itu. Merekalah kaum yang berdasi. Usai kaum-kaum besar, katanya, mencicipi sebuah magma. Kini terbuka untuk semua kaum yang hidup disini. Saat itulah rencana strategi kami buat menjadi-jadi. Ada banyak magma yang kami kumpulkan di pinggiran jalan. Mereka berdua teman yang sangat konyol dalam segala tindakan siang dan malam. Kapan ini akan berahir, mereka hanya ingin saudara-saudara juga merasakan magma ini.  Sebuah hasil yang menjadi pertanyaan buat kami, hingga mereka berdua sungguh dituntu bekerja rodi. Sungguh niatan yang baik, yang mereka lakukan dengan adanya kerja keras yang akan dinikmati bersama. Jiwa itu muncul saat semua terdesak. Kini, cukup magma yang kami dapatkan. Mari pulang, dan membagikan kepada para kaum-kaum yang malas berdesakan di sepanjang jalan. Mereka juga bisa merasakan apa yang telah kami dapat. Bahkan, pengemis yang di pinggir jalan , kami tawari. Namun apa yang terjadi. Adanya penolakan secara halus, dia sudah mendapatkan magma yang sulit kami dapatkan. Tapi, semua itu bukan hal yang biasa yang pernah kami temui. Dan bagaimana dia dapat mendapatkan magma sebanyak itu?. Paling mereka-mereka yang telah mendapatkan terlebih dahulu. Ketika kami berjalan semua mata tertuju kepada langkah dan gerak kami. sesampainya di sarang, mereka berdua yang konyol, , mengucap kata-kata dan memang sungguh aneh suasana saat itu. Yaitu rame, yang biasa sepi. dia mengucap kalaulah disini ada masalah semua akan menjauh, namun ketika ada banyak magma yang da nada hal-hal yang menyenangkan mereka berdatangan. Pertanda apa ini?. Perkataan yang ia lontarkan sangat memaknai sebuah kondisi saat itu. Kalaupun semua telingga yang mendengar itu mampu beradaptasi dengan lingkungan yang lama dan baru. Akan merasakan perbedaan yang nyata. Saat ini magma masih tersisa banyak. Kami sisakan kepada mereka yang belum datang pagi sampai siang tadi. 
Double, 23 Oktober 2014

Komentar