Hutan Kecil ; Ada Singa, Monyet, dan Anak-anak Kambing


oleh: Edy Saputro Cahyo

Singa-singa di luar sana haus akan sebonggol santapan siang, malam. Keberadaan Singa yang berkeliaran di sekitar sarang membahayakan bagi keluarga Monyet. Keluarga yang mau dan tidak mau harus menerima perbedaan dari asal-usul yang berbeda. Perbedaan itu terarah ketika ada satu tujuan bersama. Daun-daun di luar sana mulai berguguran, seimbang dengan apa yang ada dalam sarang. Menakutkan, ada bunglon yang diam-diam menusuk dari arah silet. Burung yang berkicau menandakan sebuah sapaan pagi untuk kaumnya. Sarang tetangga kelihatan tak takut akan keberadaan Singa yang kelaparan. Jumlah yang banyak menjadi ujung tombak. Tak hanya itu, sarang lain juga ada yang memberontak dengan tuduhan yang dianggap merugikan.
Sarang ini terfokus pada satu titik. Sarang utama. Bagaimanapun singa yang licik mempermainkan segala cara demi mendapat makananan. Satu sarang ini terdiri dalam ikatan yang kuat. Seharusnya seperti itu. Tetapi keberadaan Singa sebagai bunglon mencoba menghancurkan ikatan keluarga Monyet. Dalam aturan adat yang telah dibuat. Semua tidak akan dapat mengelakan apa yang terjadi. Tuntutan siang dan malam mencari makan. Di kehidupan luar sarang jauhlah berbeda dengan apa yang di sarang.
Anak-anak kambing diajari bersikap seperti Singa. Kambing-kambing yang masih belia dan belum terarah. Orang-orang dalam sarang tak mampu merenggut anak-anak kambing itu. Singa seolah menguasai dunia luar sana, hanya hutan kecil yang berpohon. Luaran hutan kecil ini masih banyak sarang-sarang lain dan hutan-hutan, yang mampu menjadikan hubungan struktur orang-orang di dalamnya menjadi kuat. Orang-orang sarang yang berkecimpung mencari hubungan itu, tetapi dimentahkan oleh Singa di luar sana. Orang-orang dalam sarang seperti manusia, tapi sebenarnya mereka hewan. Ia monyet. Tidak monyet biasa, ia mempunyai pemikiran dan unsur-unsur hubungan kerja sesuai aturan yang dibuat dalam sarang.
Ketika Monyet itu melemah, hanya ada dua Singa di luar sana yang dapat mengobrak-abrik sarang. Singa tak mau ikut aturan dalam lingkup sarang Monyet. Sebab tidak hanya kebutuhan makan yang mereka cari, namun ketenaran berkuasa di luar sana. Dan pastinya akan menguasai sarang. Kejadian ini mengharuskan para Monyet harus mengabungkan semua pemikiran dan kekuatan. Tapi sia-sia usahanya. Hanya sebuah teori belaka yang takut untuk dilaksanakan untuk menikam Singa. Jangan hanya Singa yang bisa menerkam anak-anak kambing dan hewan lainnya.
Lupakan segala hal yang pernah Singa lakukan kepada si Monyet. Siang, malam, tak membuatnya menyerah berusaha dan berusaha. Akhirnya salah satu Monyet yang dianggap berani mampu mengajak Singa untuk berdiskusi bersama.  Apa yang terjadi, semua tawaran dan aturan yang ditawarkan si Monyet dimentahkan dan ditolak dengan tak mau mengikuti sebuah aturan. Monyet sudah berusaha , lagi-lagi gagal.
Sarangpun kacau dengan kejadian ini. Tak mungkin semua harus mengikuti Singa. Aspirasi-aspirasi para kaum Monyet memberi semangat terhadap pimpinan Monyet. Banyak obrolan dan kebersamaan dalam sarang mereka, namun juga sia-sia. Hancurlah sarang dengan perbedaan pendapat yang terjadi. Perkelahian saudara menjadi musuh tersendiri. Seakan luar sana tak menakutkan lagi. Tapi dalam saranglah yang menakutkan. Kalau saja mereka memiliki satu suara perlawanan tak akan terjadi seperti saat ini. Sarang gawat.
Semua penyerahan terlihat sekali, ketika Singa mampu masuk dan ikut memimpin sebuah diskusi. Apa yang Singa katakan tak berani Monyet memberontak. Bahkan pimpinan Monyet turut dalam sebuah ketakutan. Di luar sekarang tidaklah berbahaya untuk para Monyet, mereka leluasa mondar-mandir kesana-kesini. Selain musuh utamanya Singa. Monyet mendapat musuh baru dari sekolompok anak kambing. Tak tahu apa sebabnya dan bagaimana ceritanya. Jelas anak kambing telah disuap dengan kata-kata yang diberikan Singa. Tak benar sepertinya.
Ketika malam datang beberapa Monyet mencari tempat yang aman untuk meruntuhkan pertahanan Singa. Dengan kata lain Monyet mempunyai ide licik. Mereka menculik satu persatu anak-anak kambing yang terkena hipnotisnya. Beberapa kambing akhirnya sadar, apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi bagaimana terhadap anak-anak kambing yang masih terbelenggu hipnotis?. Monyet-monyet binggung.
Kelakuan kambing yang sudah sadar mencoba mendekati kambing-kambing yang terpengaruh. Beberapa kambing sadar apa yang telah terjadi sebenarnya. Kambing-kambing yang terlalu dalam menyelam dalam otak Singa, tak menyangka seperti ini kelakuan buruknya. Kebenaran akan selalu menang, walaupun banyak orang yang telah dibenci demi kebenaran. Namun mereka yang dibenci lebih suka. Para Monyet mbeling itulah yang dulu dibenci pimpinan Monyet. Kini mampu mngapresiasi sebuah tindakan nekat demi kebenaran.
Singa kini mendesah ketakutan dan gelisah. Mereka ragu dan malu untuk mengancam dan merayu. Bahwa mereka menyadari kesalahan yang dilakukan. Ini hanyalah sebuah cerita hewan imajinasi yang terlitas dalam pikiran Monyet. Yaitu aku Monyet itu. Aku berimajinasi sebagai Monyet yang tertindas, dan kaum-kaumku. Tapi kami mencoba bangkit dan merangkul keluarga yang telah terhipnotis sebuah kata.

Komentar