Ijen Bondowoso Jember

Karya : Edy Saputro Cahyo


Ijen, 27-28 September 2014

Amzi  Sebuah Akronim Nama
Ia merelakan waktunya demi dulurnya
Dimulai awal kesiapan! Ialah Amzi yang terlengkap
Kesiapan barang dilengkapi sebelum langkah menemani kami
Ibarat ia sebagai guide
Memandu tanpa adanya bayaran
Waktu kerjanya ia gunakan bersama dulur organisasi
Ia tak lelah sedikitpun,
Namun aku tahu betapa usahamu demi dulur-dulur
Itu yang Aku lihat sebagai saksi mata

Penungguan Dulur di POM Bensin
Lama penantian kami
Suara burung menghibur hingga tak henti
Kami  duduk menyandarkan daku
Yang lain hinggap mengisi amunisi
Ini pertama untukku dan sebagian kalian
Waktu penungguan telah berkumandang untuk usai
Segera kami hengkang dari pinggiran jalan menuju iringan aspal yang panjang

Bising Kendaraan
Heng,heng,heng
Suaranya keras dan terasa lepas
Tangan yang kaku akan terlemaskan hingga siang
Putaran terselempit tak kami ketahui
Pemaksaan sering terjadi melawan tujuan

Perjalanan Siang
Matahari mengiringi bayangan kami
Tetesan keringat membuat semua pergerakan lekat
Gesekan roda juga terhimpit menyengat
Kami berbondong-bondong saling menyapa
Dalam sebuah sapaan suasana panas
Tak sedikitpun berhenti membasahi rongga yang lelah
Lalu boncengan ini bergantian jadi selingan melawan perjalanan siang
Seakan seimbang tanpa ada keluhan yang menawan

Perjalanan Malam
Perjalanan ini memasuki kegelapan
Kami tak tahu sejauh mana gelap akan memakan usaha ini
Lampu-lampu motor dinyalakan untuk mendapat penerangan
Jalan kami dituntun oleh cahaya dari mesin yang letih
Kanan-kiri sangat menakutkan waktu kelam
Hanya 11 orang kami dimakan malam
Apalgi sebaris pemakaman pinggir jalan menjadi kehangatan alur
Tak tahu kenapa? Tapi semua nyata
Selaian rute ini semua dingin layaknya alamlah yang bersemayam

Tikungan dan Tanjakan Jalan
Lagi-lagi perjalanan kami sedikit lambat
Pergelangan keras melepas secara perlahan
Sebaliknya putaran keras memaksa kami sabar
Inilah awal ketakutan kami, tiada orang selain kami
Waktu terus berdetik,
Namun tak habisnya kejadian ini membuat kami sangat bosan
Sedikit memutar masuk ke jurang
Kami menghimbau perlahan pasti

Pohon-pohon Menakutkan
Usia yang tak lagi muda
Kapan mereka mulai berdiri di kanan kiri rute ini
Puluhan tahun jadi jawaban
Tapi ini beda! Layaknya monters yang menjaga keamanan bumi
Terkadang seperti sesosok bayang yang meragukan
Itu pohon atau setan
Kami bersama saling menjaga, memang menakutkan

Jurang
Lihat ke bawah terjal, berbatu, seram
Tak ada ujung saat dipandang
Ia gawat
Bisa memakan nyawa dari kami
Hingga kami lawan dengan pelan

Hawa Dingin
Semua tubuh menjadi luluh karenanya
Aku dan mereka, ,sudah berpakain tebal
Hawa ini memang alami, , tak bisa terelakan oleh apa yang kami pakai
Aku menyerah , , ,
Apapun itu kau yang mengusai hawa di semua perjalanan ini

Perjalananan 1.2.Terhenti
Perjalanan terhenti 1
Kami mengayuh sejenak kelelahan
Perjalanan terhenti 2
Gelap memakan , membendung kami semua
Perjalanan terhenti
Runtuhan dingin kian mendalam

Tempat Tidur
Pidang-pinddangn kami lakukan
Sedikit jarak untuk mereka yang berhak
Serambi gedung melindungi kami dari hawa dingin
Tetapi angina tetap saja mengejar kami
Dan menerobos masuk dalam pori-pori
Hanya matras dan karpet sebagai alas
Inipun sungguh dingin
Tempat sudah melindungi kami hingga nanti

Kehangatan
Jalan pemakaman jauh lebih terasa disini
Berdesakan itu alatnya
Mereka yang tahu bagaimana mencari hangat
Putung rokok obatnya
Api kecil sumbernya
Namun semua tak terkalahkan oleh kami yang merapat mencari hasrat

Makan Malam
Biasanya nasi dalam sebungkus kertas plastik
Disini membuka nasi jadi makanan i

Permainan Malam
Kartu kuning!
Semua terlanggar kartu ini dalam kelakuan

Jalan Menuju Malam
Malam yang kami pompa dengan bahan bakar minyak
Kini adalah kaki yang mampu menembus malam
Seluas jalan tak segelap nanti kami naik

Api Unggun Puncak
Udara dingin memompa kami dalam keraguan berjalan
Lalai dengan dingin yang kami rasakan

Titik Tertinggi
Hari ini 28 Oktober, sebagian dari keluarga kami mengibarkan benderra
Tak hanya itu saja
Senyum, mata, telingga,rambut, baju, dan rasa semua berkibar di atas sana
Pemandangan tak hentinya kami lakukan arahkan tak teratur
Kami berada di atas dengan beribu nyawa
Kami tahu ini adalah milik kita bersama
Keindahan untuk dilumati para kaum-kaum hawa, adam

Turunan
Tanah terisolasi oleh bumi
Pembuat jalan tak terketahui
Penghuni jalan adalah raut wajah-wajah gembira
Saling menatap tapi mereka lelah
Hanya kami yang akhirnya membelakangi rasa letih
Turunanan ini dibuat mainan para wajah baru

Penambang Belerang
Jalannya malam menuju gelap, tanpa mengunakan setitik cahaya
Paginya merayap diantara panas dan asap menyengat
Masih terlalu pagi mereka naik keatas membawa barang kekuning-kuningan
Dua wadah yang ringan menjadi berat
Sesekali berhenti memompa nafas alam
Turunan dijadikan lawan
Semua penuh tantangan tersendiri
Mereka berucap kata yang tak kami bisa

Turis-turis
Warna rambutnya tak asing lagi, makanya mereka disebut orang terasing
Bicaranya tak aku pahami, mungkin hanya beberapa dari kami
Ketinggian jadi bukti mereka telah berbeda dari kita

Awan
Tersentuh tangan dan merayap pada tubuh
Warnanya putih jelas
Berterbangan kesana-kesini mencari tinggi nauluri

Kawah Gunung Ijen
Tak ada yang pernah merasakan segar atau dinginya kawah itu
Panaspun tak kunjung aku rasakan
Hanya mata yang mampu mengimajinasi sebuah warna hijau di bawah sana
Dan tak tahu berapa kedalamannya
Isinyapun aku juga tak tahu
Apakah kawah ini pemandian para Dewi-dewi dari kayangan
Walaupun aku melihatnya, aku tak akan pernah bertanya kepadanya
Diliputi gerbang-gerbang pengahalang yang mau dikalahkan oleh belerang alam

ASap Belerang
Karena yang ada udara di atas sana
Pemandangan belum tampak mata
Kalaulah nafas ini hanya mau menerimanya, apa salahnya
Walaupun engkau lapisi beribu topeng jalannya udara
Selalu peka dan menembus apa yang ada
Alam ini,
Kami sudah dibedung dalam udara yang tak enak rasanya
Asapnya juga mau dilawan para penambang belerang
Tak tahu bagaimana caranya,
Tapi yang jelas asap itu telah masuk ke dalam paru-paru
Mengapa mereka tidak apa-apa

Apakah sudah terbiasa

Komentar