- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karya : Edy Saputro Cahyo
Tanah yang biasa dipakai tempat latihan teater, bakar-bakaran, bahkan tempat diskusi kini tumbuh bata merah. Galian yang dulu sering membuat aku ingat dengan kematian. Kini sudah terhalangi batu keras yang berisi. Keramaian di tempat itu sirna. Malam dan daun yang jatuh kini tak terlihat indah. Lahan yang berwarna hijau dan tumbuh rumpuht-rumput indah, serta daun-daun yang menambah estetika lahan kini hanya dalam ingatan. Pohon tua yang kini berdiri merasa risi. Ini baru tumbuh 1 meter. Apalagi tumbuh bermeter-meter, pohon tua akan membenci tumbuhan itu. Bisa saja membuat hancur dan nyawapun dapat mati dalam galian pertama. Tapi tak bisa ia lakukan. Kalaulah aku bisa berbicara imajinasi dan mempengaruhi bunuhlah mereka. Semua merasa tak adil dalam hidup ini. Kebijakan penuh sandungan sering dialami oleh kaum yang berfikir, bahkan pohon tua diam dan hanya dianggap melindungi dari terik matahari. Kini membenci keadaan di sini.
Tanah yang biasa dipakai tempat latihan teater, bakar-bakaran, bahkan tempat diskusi kini tumbuh bata merah. Galian yang dulu sering membuat aku ingat dengan kematian. Kini sudah terhalangi batu keras yang berisi. Keramaian di tempat itu sirna. Malam dan daun yang jatuh kini tak terlihat indah. Lahan yang berwarna hijau dan tumbuh rumpuht-rumput indah, serta daun-daun yang menambah estetika lahan kini hanya dalam ingatan. Pohon tua yang kini berdiri merasa risi. Ini baru tumbuh 1 meter. Apalagi tumbuh bermeter-meter, pohon tua akan membenci tumbuhan itu. Bisa saja membuat hancur dan nyawapun dapat mati dalam galian pertama. Tapi tak bisa ia lakukan. Kalaulah aku bisa berbicara imajinasi dan mempengaruhi bunuhlah mereka. Semua merasa tak adil dalam hidup ini. Kebijakan penuh sandungan sering dialami oleh kaum yang berfikir, bahkan pohon tua diam dan hanya dianggap melindungi dari terik matahari. Kini membenci keadaan di sini.
Besi
yang harusnya melukai para orang yang
hanya bisa bernyanyi sendiri, tak pernah terjadi. Pohon berbincang dalam mimpi
terhadapku. “Kalaulah estetika di lahan ini mati, ciptakan keramaian yang
berfungsi”. Jelas semua mengeluh, tak
hanya pohon. Manusianya yang berpendidikan, burung-burung dan semua yang hidup.
Burung-burung yang biasa bersandar dan memainkan laju terbangnya di sekitar
lahan, kini harus berperang melawan panas dengan sandaran di atas mesteran. Sekarang
mereka jarang-jarang turun dan bermain. Hanya diam bermain di ranting-ranting
pohon. Pohonpun merasa kasihan dengan burung-burung ini.
Kalaulah
orang yang berjenggot lebih bisa bermain dengan kami. kami yang ada dan hidup
di sini. Tak akan terjadi seperti ini. Dan kau yang gemuk dan berambut
sejengkal, tak pernah ada akal berbicara. Semua hanyalah tudingan dan perlakuan
tak seharusnya kalian lakukan. Alam dan kami bersatu untuk melihat kebijakan
yang telah mengandung racun estetika. Aspirasi-aspirasi terbungkam oleh bata,
pasir, dan kawat. Sedikitpun teak membahagiankan kehidupan negeri di hutan
kecil ini.
Ada
sesuatu yang harus kami lakukan bersikap Mbeling. Namun mereka yang telah
tertindas bagaimana?. Semua lelucon pinangan kehormatan selalu alam dan kami
lakukan. Bukan untuk patuh dan merebut perhatian. Namun untuk melihat lebih, apa
yang akan dilakukan. Memang semua luluh dan tak bisa diam dalam perdebatan
malam dan siang. Tapi sebuah tindakan dan duduk bersama belum pernah
dilaksanakan. Cari tempat seperti lahan, jangan keseringan di lahan basah,
ataupun di ruang ber-ac. Cari yang alami dan berfikir secara adil.
Komentar
Posting Komentar