LahanKu, Lahanmu, Lahan Mereka

Karya : Edy Saputro Cahyo

Tanah yang biasa dipakai tempat latihan teater, bakar-bakaran, bahkan tempat diskusi kini tumbuh bata merah. Galian yang dulu sering membuat aku ingat dengan kematian. Kini sudah terhalangi batu keras yang berisi. Keramaian di tempat itu sirna. Malam dan daun yang jatuh kini tak terlihat indah. Lahan yang berwarna hijau dan tumbuh rumpuht-rumput indah, serta daun-daun yang menambah estetika lahan kini hanya dalam ingatan.  Pohon tua yang kini berdiri merasa risi. Ini baru tumbuh 1 meter.  Apalagi tumbuh bermeter-meter, pohon tua akan membenci  tumbuhan itu. Bisa saja membuat hancur dan nyawapun dapat mati dalam galian pertama. Tapi tak bisa ia lakukan. Kalaulah aku bisa berbicara imajinasi dan mempengaruhi bunuhlah mereka. Semua merasa tak adil dalam hidup ini. Kebijakan penuh sandungan sering dialami oleh kaum yang berfikir, bahkan pohon tua diam dan hanya dianggap melindungi dari terik matahari. Kini membenci keadaan di sini.
Besi yang  harusnya melukai para orang yang hanya bisa bernyanyi sendiri, tak pernah terjadi. Pohon berbincang dalam mimpi terhadapku. “Kalaulah estetika di lahan ini mati, ciptakan keramaian yang berfungsi”.  Jelas semua mengeluh, tak hanya pohon. Manusianya yang berpendidikan, burung-burung dan semua yang hidup. Burung-burung yang biasa bersandar dan memainkan laju terbangnya di sekitar lahan, kini harus berperang melawan panas dengan sandaran di atas mesteran. Sekarang mereka jarang-jarang turun dan bermain. Hanya diam bermain di ranting-ranting pohon. Pohonpun merasa kasihan dengan burung-burung ini.
Kalaulah orang yang berjenggot lebih bisa bermain dengan kami. kami yang ada dan hidup di sini. Tak akan terjadi seperti ini. Dan kau yang gemuk dan berambut sejengkal, tak pernah ada akal berbicara. Semua hanyalah tudingan dan perlakuan tak seharusnya kalian lakukan. Alam dan kami bersatu untuk melihat kebijakan yang telah mengandung racun estetika. Aspirasi-aspirasi terbungkam oleh bata, pasir, dan kawat. Sedikitpun teak membahagiankan kehidupan negeri di hutan kecil ini.

Ada sesuatu yang harus kami lakukan bersikap Mbeling. Namun mereka yang telah tertindas bagaimana?. Semua lelucon pinangan kehormatan selalu alam dan kami lakukan. Bukan untuk patuh dan merebut perhatian. Namun untuk melihat lebih, apa yang akan dilakukan. Memang semua luluh dan tak bisa diam dalam perdebatan malam dan siang. Tapi sebuah tindakan dan duduk bersama belum pernah dilaksanakan. Cari tempat seperti lahan, jangan keseringan di lahan basah, ataupun di ruang ber-ac. Cari yang alami dan berfikir secara adil.

Komentar