Mbah Jenggot

Karya : Edy Saputro Cahyo

Keras kepala menjadi senjata utama. Perjalanan dijadikan mainan. Tindakan membunuh pernah dilakukan. Hanya dalam catatan tangan Tuhan. Ia tahu hal kepercayaan. Tapi dia tidak yakin yang dikerjakan. Malam dan siang. Dunia luar sudah terjelajahi, himpitan di negeri orang tak ia takuti. Semua orang takut denganya. Se desa dan siapa yang tidak kenal Mbah Jenggot. Bertato, rambut panjang. Pentolan pencak silat.  Anak buahnya luluh terhadap perintah-perintahnya. Masalah sosialisme adalah jagonya. Komunikasi yang diutarakan selalu penuh tantangan. Ketakutan juga ada dalam persaan lawan komunikasi.
Masalah pasangan cinta. Ia tak punya. Ataukah ia mati rasa. Hanya ia sudah pernah merasakan keindahan dunia bersama kaum-kaum hawa. Hanya sebatas membeli dan ditinggal pergi. Tak ada rugi. Kalaupun ia harus berurusan dengan cinta, hidupnya akan merana dengan bayangan wanita. Wanita tak perlu dicintai katanya. Hanya perlu dinodai dan lekas kalian pergi. Maksud yang memang ia berikan hanya memberi dan menyumbangkan sebuah kebahagian malam di remang-remang.  Kepada mereka yang haus akan nafsu dan selembar uang.
Permainan malam dijadikannya pekerjaan, namun sumber uang selalu mengalir. Entah darimana asalanya. Tapi sungguh disegani Mbah Jenggot ini. Tidak mempunyai kekuatan goib dan aji-ajian sakti. Manusia biasa yang tergores silet akan berdarah. Namun keberaniannya sungguhlah luar biasa. Warung remang dijadikan parkiran malam. Bersama kaum-kaum borjuis. Pandangannya untuk selalu hidup dan bertahan hidup. kalaulah akan ia mati harus berhadapan dengan 10 malaikat, ia akan berontak dan melawan malaikat. Kalaulah semua lelaki berjenggot seperti itu bukan hal yang aneh.
Sejak kecil lepas dari rumah, tidak pernah mengenal pendidikan ataupun pembelajaran eletronik. Tapi membacanya dan percakapan bahasa inggrisnya lumayan. Hanphone saja yang digemgam sangatlah indah. Berisikan algojo-algojo telanjang. Semua yang berhadap pasti tak menyangka itu dia. Mbah jenggot biasa-biasa saja, hormat pada semua orang. Tapi sedikit saja telingga merekam namanya. Langsung ada tindakan yang menakutkan. Padahal nama-nama yang diungkapkan belum tentu menjelkan, tapi dia memangdang, ngerumpi dan menyebutkan nama orang adalah ngrasani gak enak. Untuk masalah sentuhan akan lebih parah, karena ia tak mau disentuh siapapun. Kalalu tak ia dulu yang menyentuh duluan. Hanya wanita remang-remanglah yang mampu menyentuhnya. Cerita desaku nyata dan sungguh ada. Akulah salah satu anak buahnya.


Komentar