Pak Hewan; Malam Apa Ini?

Karya : Edy Saputro Cahyo

Wanita atau perempuan tak ada bedanya. Aku merujuk jenis kelaminya. Wanita jilboobs sapaan kerenya. Mereka berdansa tak seperti biasa. Seperti apa?. Tahu angsa di saben sawah. Mereka nekat berladang mengais harapan hidup. Aku melihat saat aku berada dalam gubuk rindang, hanya alang-alang dan bambu rakitan. Tak mewah. Angsa tak takut diawasi lototan mata tajam. Bahkan sebuah simbol suara berbunyi tak beraturan menakutinya. Tetap saja diam. Hal seperti inilah yang terlihat tadi malam. Gerak malam membawa malu. Walaupun hanya  menonton aku merasa terharu. Terharu dalam kesedihan tantangan zaman katanya. Tak tahu kata siapa. Tapi itu ada dalam panggung istimewa. Bagaimana seharusnya tantangan itu dilakukan. Aku juga ingat ada segerombol anak ayam jantan mengacungkan telunjuknya. Berkata harus perjuangakan pengorbanan pahlawan. Oh ya! Anak ayam mungkin belum tahu siapa pahlawan itu. Pahlawan berjoget atau pahlawan berjingkrak. Semua tak  ada bedanya, hanya sekelebat dari buah tayangan yang mengugah hati.
Berjilboobs, kenapa harus berjilboobs ya?. Dalam ingatanku jilboobs istilah baru. Identik dengan tayangan yang ketat, nyata seperti itu. Malam yang aku anggap sebuah anugrah istimewa untuk mengumandangkan luapan karya. Malahan menjadi seutas benang modifikasi. Bolehlah itu. Hanya mereka angsa-angsa yang berkelamin berjingkrak tak tahu aturan. Apakah malam mengubah nalurinya bertindak?. Jelas sekali terlihat. Bergerak dengan kemerdekaan yang telah mereka miliki. Ya sekarang bagi mereka. Pergerakan tak berarah, gesut dan lompat tikampun menjadikan suasana yang terdengar.
Dikau adalah yang aku idam-idamkan mampu merubah hutan kecil ini menjadi sebuah kebebasan. Bukan bebas bergerak dengan perjuangan yang telah kalian katakan, ataupun gerak tak beraturan yang dianggap panutan. Kaki dan tangan ini memanglah sudah menguasai banyak hal depan iringan nada. Bergerak saja dan berlompat adalah hal biasa. Ladangku mengajariku bawa senjata apapun yang kamu punya. Hanya berjaga. Sepuluh langkah sedemikian rupa kiranya mendekati mereka. Aku pengen melihat wajah dan rasa yang tercipta. Jelas mereka lupa. Baru saja reklamasi bersuara. Oh ya, mereka anak ayam. Ayam yang lepas dari indukannya.
Semua harus setara. Antara yang di kata dan yang dipaksa, dalam tantangan zaman. Karena malam yang perlu disalahkan. Membuat gelegar lampu yang menjadikan lupa ingatan. Lupa ingat. Tapi tak mungkin kalian lupakan malam. Malam akan tetap mengejar dalam sangkar angsa. Hanya angsa. Bukan kalian anak-anak ayam.




Komentar