Pejuang Sampah Di Hutan Rimba


Gambar EdySc
oleh : Edy Saputro Cahyo

Mereka yang telah memberi ruang terindah untuk hutan di pojok ini. Hutan rimba yang penuh kaum-kaum pemikir kritis. Tak ada yang ingin tahu siapa nama mereka, ataupun asal –usulnya. Sebagai wajah dan sesosok patung bagi mereka yang acuh. Kalau orang-orang yang acuh mau melihat dan merasakan apa yang telah mereka lakukan. Kaum yang acuh akan terhimpit daun-daun yang malang melintang berjatuhan. Mereka hanya perlu disapa. Sapaan pagi yang membuat mereka lebih leluasa dan berinteraksi pada kaum-kaum pemikir. Bolehlah yang acuh memandang itu sebagai pekerjaan utamanya. Dan sudah kewajibanya. Sungguh tak bernyawa kalian memandang. Mereka terkenal dengan pekerja tanpa ada keluhan. Semata-mata utusan dan hormat selalu dibuatnya taat. Mereka menyadari, kalaupun sedikit saja mengeluh dan berkeluh kesah pada perintah. Ada sebuah sangksi, yaitu enyahlah dari sini. Pekerjaan yang dianggap sulit membuat mereka tertindas dilakukan. Sungguh mereka telah terjajah oleh kepemimpinan baru. Disini telah ada bertahun-tahun lamanya, merasa semua merdeka dan penuh rasa antar sesama.
Kepemimpinan yang dulu membuat semua adalah keluarga. Walapun semua serba tenang dan banyak masalah antar kaum yang berfikir kritis, tetap mereka dianggap pejuang sampah. Masalah gajipun dan pemeliharaan terhadap internal yang sakit., akan tetap dipertanggungjawabkan. Masalah biaya dan perawatan akan ditanggung hutan rimba ini. Sekarang telah berbalik. Sekutu-sekutu  ber-ac telah patuh terhadap kebijakan, sebab tak akan mempengaruhi segala kehidupan dan tak akan mengurangi perolehan harta.  Tugasnya hanya memberikan penjelasan yang sangat monoton dan dianggap kurang intelek. Namun sebagian, dan rata-rata menyibukkan diri dengan meneliti dan bergoyang ria bersama suami-istri di rumah yang mewah.
Pejuang sampah ini merenggut daun sebagai mata uang dan emas yang berlimpah. Semua ingin angkat bicara tapi tak ada yang mampu dan hanya bercerita kepadaku. Akulah teman dekat mereka dan mengetahui segala hal yang dialami mereka. Aku dari kaum yang dulunya acuh. Dan sekarang mulai berfikir. Mereka yang telah memaksa dan ingin dinaikan pangkat, bukan impian saat ini. Telah dilakukan semangat dan kerja yang sangat rajin demi mencuri perhatian. Namun hanya kaum acuh yang mereka lihat. Tak ada satupun pemimpin yang memberi penghargaan teladan ataupun apa.  Hingga aku menyebut mereka sebagai kaum yang telah terjajah oleh birokrasi yang telah beredar. Keinginan yang telah mereka lakukan, ingin meniru perjalanan kisah seorang teman yang telah duduk dan memakai baju rapi. Tanpa dekat dengan daun dan telingga closed. Itu yang menjadikan kesamaan dan kerja keras mereka lakukan. Semua berharap sama. Namun saat ini. Bukan zaman mereka memiliki kesempatan itu. Hutan rimba ini , memilih dan memilah bukan dari cara kerjanya. Namun perintah yang patuh dan mau menuruti segala perintah dan kebijakan yang tak tahu, entah benar ataupun salah. Usaha mereka benar saat ini sangatlah benar. Tapi harapan akan jauh untuk ingin berpakain rapi dan sedikit dihormati.
Setiap pagi, mulai jam 5. Mereka telah mendahului pemimpin-peminpin, kaum-kaum intelek, dan kaum yang acuh. Dahulu memasuki hutan rimba ini, udara dingin. Gelap sedikit menyapa suasana. Mereka yang menghirup udara pagi nan segar di hutan ini. Hanyalah sebuah acara pertemuan hewan-hewan besar mereka dijadikan tumbal. Melayani dan membuat hutan rimba ini menjadi nyaman. Mereka mengaku sebagai hewan paling terkecil di hutan ini. Pemaksaan selama berhari-hari telah mereka lakoni. Paling terbawah kedudukan mereka di sini.
Keluhan mereka telah tersampaikan semua padaku. Ketika mereka lapar dalam perjalanan kerjanya, keputusan yang tepat mereka lakukan, yaitu makan dan makan. Sebab, sejak pagi semua merasa diperlakukan tak adil di sebuah penyambutan hewan besar. Benar ada tamu!, namun jangan dilalaikan yang telah mendahului menginjakkan kaki di sini. Sedikit saja  pemimpin tak menenggok ke bawah, melihat mereka yang telah lunglai dalam pemberantasan sampah. Keputusan yang diambil dari salah satu mereka, yaitu memunculkan ide untuk mencari makan. Uang, ya lagi-lagi adalah uang. Tak sepeserpun uang diberikan sebagai bekal. Mereka berempat adalah kaum penghisap rokok.  Jelas bahwa, kecurangan telah membodohi mereka semua yang tunduk. Ataukah kali ini kaum-kaum yang berfikir yang akan dijadikan korban. Apakah mereka menganggap semua yang penurut akan dihempas hingga tak berhembus.
Tadi baru pagi, kini malam yang akan menjadikan sebuah tantangan lagi. Pemimpin-pemimpin yang merasa lelah telah bersandar dipelukkan istri-suami masing-masing. Kaum-kaum pemikir kritis telah merebut meja diskusi ditemani secangkir kopi. Kaum-kaum yang acuh telah berselimut manis di ranjangnya. Dan saat ini kaum-kaum bawah, paling bawah. Mereka sebuah hewan dalam hutan ini. Kebiasaan yang telah mereka fikirkan tak akan menjadi kenyataan untuk saat ini. Hanya menata meja dan kursi yang tak sejajar, ngepel lantai yang terinjak sepatu-sepatu oleh kaum-kaum hutan ini, bergelut dalam toilet bekas kaum-kaum itu kencing dan buang tai. Sekiranya semua dikerjakan tak apa. asalkan harus sepadan dengan keringat mereka. Satu penderitaan, yang seharusnya mereka berada dalam lingkar keharmonisan keluarga. Tak bisa mereka rasakan dalam sebuah perjalanan. Kalaupun bisa, semua hanya sebuah tempaan yang lelah dan berontak dengan desah.
Selalu roda waktu, hanya memegang sapu. Kehidupan indah terlintas beberapa hempasan. Tak lebih dan sangat kurang. Siapa yang perlu disalahkan dalam alur cerita ini?. Jelas tergambar prilaku yang sebenarnya diinginkan oleh penguasa hutan. Kekuasaan ataukah kebijakan  yang lebih bijak dan memerdekakan. Kekuasaan ataukah keinginan yang ingin dijadikan perhatian. Kekuasaan ataukah pemimpin yang memimpin segala kemerdekaan di hutan rimba ini. Karena penguasa tak akan mampu hidup tanpa ada yang membantu dalam pelaksana. Bukan utusan ataupun kongkonan. Kalaupun dalam ringkasan para kaum intelektual, mereka hanya ingin di sapa dan diberi kehadiran yang lebih terpuji. Bukan seenaknya sendiri. Seolah-olah mereka dibeli dan dikontrol sesuka hati.
Mereka berempat, perkenalkan hewan pertama Ulat, ke dua Tikus, ke tiga Kucing, dan ke empat Lalat. Jenis hewan yang serakah dalam urusan makan memakan. Itulah yang mendasari hewan-hewan ini sedikit merubah kebiasaan yang telah dijalani di luar hutan rimba. Lebih-lebih mereka ditakuti dan dihargai oleh petinggi-petinggi. Kenapa yang terjadi di sini sebuah tindak yang tak berisi. Mereka sanggup menempuh dan mengitari laut yang luas tanpa peduli nyawa. Oleh sebab itu, hutan rimba ini yang dulunya sangat iba hati, mencari-mencari orang yang seperti hewan-hewan ini. Tak untuk dijadikan suruh-suruhan ataupun melakukan tindakan-tindakan yang merugikan.

Pejuang sampah, anggapan kekonyolku. Karena hutan rimba ini yang mengajari aku untuk dapat berimajinasi. Dau-daun yang berjatuhan tak mampu terhitung lagi. 5 bulanya lamanya kalau daun-daun ini tak terurusi, maka jadilah hutan ini berselimut daun-daun, berbantal daun-daun, dan berjalan di daun-daun. Sehingga segala keputusan yang telah dibuat oleh orang yang berkuasa, akan terhambat dengan daun-daun yang telah mengunung. 

Komentar