- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
![]() |
| Gambar EdySc |
Mereka yang telah memberi ruang terindah untuk hutan di pojok ini. Hutan rimba yang penuh kaum-kaum pemikir kritis. Tak ada yang ingin tahu siapa nama mereka, ataupun asal –usulnya. Sebagai wajah dan sesosok patung bagi mereka yang acuh. Kalau orang-orang yang acuh mau melihat dan merasakan apa yang telah mereka lakukan. Kaum yang acuh akan terhimpit daun-daun yang malang melintang berjatuhan. Mereka hanya perlu disapa. Sapaan pagi yang membuat mereka lebih leluasa dan berinteraksi pada kaum-kaum pemikir. Bolehlah yang acuh memandang itu sebagai pekerjaan utamanya. Dan sudah kewajibanya. Sungguh tak bernyawa kalian memandang. Mereka terkenal dengan pekerja tanpa ada keluhan. Semata-mata utusan dan hormat selalu dibuatnya taat. Mereka menyadari, kalaupun sedikit saja mengeluh dan berkeluh kesah pada perintah. Ada sebuah sangksi, yaitu enyahlah dari sini. Pekerjaan yang dianggap sulit membuat mereka tertindas dilakukan. Sungguh mereka telah terjajah oleh kepemimpinan baru. Disini telah ada bertahun-tahun lamanya, merasa semua merdeka dan penuh rasa antar sesama.
Kepemimpinan yang dulu membuat
semua adalah keluarga. Walapun semua serba tenang dan banyak masalah antar kaum
yang berfikir kritis, tetap mereka dianggap pejuang sampah. Masalah gajipun dan
pemeliharaan terhadap internal yang sakit., akan tetap dipertanggungjawabkan. Masalah
biaya dan perawatan akan ditanggung hutan rimba ini. Sekarang telah berbalik. Sekutu-sekutu ber-ac telah patuh terhadap kebijakan, sebab
tak akan mempengaruhi segala kehidupan dan tak akan mengurangi perolehan harta.
Tugasnya hanya memberikan penjelasan
yang sangat monoton dan dianggap kurang intelek. Namun sebagian, dan rata-rata
menyibukkan diri dengan meneliti dan bergoyang ria bersama suami-istri di rumah
yang mewah.
Pejuang sampah ini merenggut daun
sebagai mata uang dan emas yang berlimpah. Semua ingin angkat bicara tapi tak
ada yang mampu dan hanya bercerita kepadaku. Akulah teman dekat mereka dan
mengetahui segala hal yang dialami mereka. Aku dari kaum yang dulunya acuh. Dan
sekarang mulai berfikir. Mereka yang telah memaksa dan ingin dinaikan pangkat,
bukan impian saat ini. Telah dilakukan semangat dan kerja yang sangat rajin
demi mencuri perhatian. Namun hanya kaum acuh yang mereka lihat. Tak ada
satupun pemimpin yang memberi penghargaan teladan ataupun apa. Hingga aku menyebut mereka sebagai kaum yang
telah terjajah oleh birokrasi yang telah beredar. Keinginan yang telah mereka
lakukan, ingin meniru perjalanan kisah seorang teman yang telah duduk dan
memakai baju rapi. Tanpa dekat dengan daun dan telingga closed. Itu yang
menjadikan kesamaan dan kerja keras mereka lakukan. Semua berharap sama. Namun saat
ini. Bukan zaman mereka memiliki kesempatan itu. Hutan rimba ini , memilih dan
memilah bukan dari cara kerjanya. Namun perintah yang patuh dan mau menuruti
segala perintah dan kebijakan yang tak tahu, entah benar ataupun salah. Usaha mereka
benar saat ini sangatlah benar. Tapi harapan akan jauh untuk ingin berpakain rapi
dan sedikit dihormati.
Setiap pagi, mulai jam 5. Mereka telah
mendahului pemimpin-peminpin, kaum-kaum intelek, dan kaum yang acuh. Dahulu memasuki
hutan rimba ini, udara dingin. Gelap sedikit menyapa suasana. Mereka yang
menghirup udara pagi nan segar di hutan ini. Hanyalah sebuah acara pertemuan
hewan-hewan besar mereka dijadikan tumbal. Melayani dan membuat hutan rimba ini
menjadi nyaman. Mereka mengaku sebagai hewan paling terkecil di hutan ini. Pemaksaan
selama berhari-hari telah mereka lakoni. Paling terbawah kedudukan mereka di
sini.
Keluhan mereka telah tersampaikan
semua padaku. Ketika mereka lapar dalam perjalanan kerjanya, keputusan yang
tepat mereka lakukan, yaitu makan dan makan. Sebab, sejak pagi semua merasa
diperlakukan tak adil di sebuah penyambutan hewan besar. Benar ada tamu!, namun
jangan dilalaikan yang telah mendahului menginjakkan kaki di sini. Sedikit saja
pemimpin tak menenggok ke bawah, melihat
mereka yang telah lunglai dalam pemberantasan sampah. Keputusan yang diambil
dari salah satu mereka, yaitu memunculkan ide untuk mencari makan. Uang, ya
lagi-lagi adalah uang. Tak sepeserpun uang diberikan sebagai bekal. Mereka berempat
adalah kaum penghisap rokok. Jelas bahwa,
kecurangan telah membodohi mereka semua yang tunduk. Ataukah kali ini kaum-kaum
yang berfikir yang akan dijadikan korban. Apakah mereka menganggap semua yang
penurut akan dihempas hingga tak berhembus.
Tadi baru pagi, kini malam yang
akan menjadikan sebuah tantangan lagi. Pemimpin-pemimpin yang merasa lelah
telah bersandar dipelukkan istri-suami masing-masing. Kaum-kaum pemikir kritis
telah merebut meja diskusi ditemani secangkir kopi. Kaum-kaum yang acuh telah
berselimut manis di ranjangnya. Dan saat ini kaum-kaum bawah, paling bawah. Mereka
sebuah hewan dalam hutan ini. Kebiasaan yang telah mereka fikirkan tak akan
menjadi kenyataan untuk saat ini. Hanya menata meja dan kursi yang tak sejajar,
ngepel lantai yang terinjak sepatu-sepatu oleh kaum-kaum hutan ini, bergelut
dalam toilet bekas kaum-kaum itu kencing dan buang tai. Sekiranya semua
dikerjakan tak apa. asalkan harus sepadan dengan keringat mereka. Satu penderitaan,
yang seharusnya mereka berada dalam lingkar keharmonisan keluarga. Tak bisa mereka
rasakan dalam sebuah perjalanan. Kalaupun bisa, semua hanya sebuah tempaan yang
lelah dan berontak dengan desah.
Selalu roda waktu, hanya memegang
sapu. Kehidupan indah terlintas beberapa hempasan. Tak lebih dan sangat kurang.
Siapa yang perlu disalahkan dalam alur cerita ini?. Jelas tergambar prilaku
yang sebenarnya diinginkan oleh penguasa hutan. Kekuasaan ataukah kebijakan yang lebih bijak dan memerdekakan. Kekuasaan ataukah
keinginan yang ingin dijadikan perhatian. Kekuasaan ataukah pemimpin yang
memimpin segala kemerdekaan di hutan rimba ini. Karena penguasa tak akan mampu
hidup tanpa ada yang membantu dalam pelaksana. Bukan utusan ataupun kongkonan. Kalaupun
dalam ringkasan para kaum intelektual, mereka hanya ingin di sapa dan diberi
kehadiran yang lebih terpuji. Bukan seenaknya sendiri. Seolah-olah mereka
dibeli dan dikontrol sesuka hati.
Mereka berempat, perkenalkan hewan
pertama Ulat, ke dua Tikus, ke tiga Kucing, dan ke empat Lalat. Jenis hewan
yang serakah dalam urusan makan memakan. Itulah yang mendasari hewan-hewan ini
sedikit merubah kebiasaan yang telah dijalani di luar hutan rimba. Lebih-lebih
mereka ditakuti dan dihargai oleh petinggi-petinggi. Kenapa yang terjadi di
sini sebuah tindak yang tak berisi. Mereka sanggup menempuh dan mengitari laut
yang luas tanpa peduli nyawa. Oleh sebab itu, hutan rimba ini yang dulunya
sangat iba hati, mencari-mencari orang yang seperti hewan-hewan ini. Tak untuk
dijadikan suruh-suruhan ataupun melakukan tindakan-tindakan yang merugikan.
Pejuang sampah, anggapan kekonyolku.
Karena hutan rimba ini yang mengajari aku untuk dapat berimajinasi. Dau-daun
yang berjatuhan tak mampu terhitung lagi. 5 bulanya lamanya kalau daun-daun ini
tak terurusi, maka jadilah hutan ini berselimut daun-daun, berbantal daun-daun,
dan berjalan di daun-daun. Sehingga segala keputusan yang telah dibuat oleh
orang yang berkuasa, akan terhambat dengan daun-daun yang telah mengunung.

Komentar
Posting Komentar