2#

2# Cara Memberontak, Ini Caraku Bukan Caramu

Aku mengerjakan kado istimewa ini untuk wanita terindah dalam hidupku. Wanita yang telah memberi segala hal. Baik kasih sayang, pendidikan, dan apapun. Tak akan pernah lupa kebaikan yang diberikan kepadaku. Aku mengerjakan kado istimewa ini tepat di serambi sarang. Malam sampai bertemu pagi bukan masalah. Terpenting niatan dan usaha. Alon-alon asal kelakon. Dikerjakan terus, entah nanti hasilnya seperti apa. Semoga wanita yang merantau selalu mendo’akanku. Aku mengerjakan ini demi memperbaiki nama, pelengkap sebuah nama agar lebih indah. Pasti wanita itu akan setuju mendengarku. Apapun yang akan aku lakukan boleh-boleh saja. Saran yang masih aku ingat yaitu, selalu sholat, jangan berbuat yang tidak-tidak. Aku sedikit berontak kepada wanita itu. Bukan karena aku tidak suka. Tetapi aku sangat menyukainya. Berontakku , merobek-robek penghalang di depanku. Entah itu apa, memang harus sedikit gendeng. Kalaupun ini berat aku sudah gendeng. Jika aku menempatkan menjadi manusia biasa lama-lama akan stress tertimbun lara.
Kapan aku menyelesaikan kado ini untukmu wanita. Sebenarnya aku ingin cepat menyelesaikannya, terus aku akan beranjak mencari-cari sesuatu yang berarti. Memang apa yang dicari belum tentu ketemu. Setidak-tidaknya usaha dan berdo’a. jelas harus memakai mantra serambi alon-alon asal kelakon. Oh ya, tetap kembali ke kado. Nasib kado seperti diluntang-lanting keadaan. Antar aku dan dia belum tentu akan bertemu secara mesra. Kado yang aku buat sedikit berbeda dengan yang lainnya. Aku mencoba langsung membedah buku.  Kalau saja caraku ini konyol memang itu sebuah caraku, bukan caramu. Bisa diikuti dan bisa tidak. Bukan copas atau menulis kembali apa yang telah ada. Kado ini akan aku jadikan kado suci.
Benar-benar aneh, aku mengerjakan di warung kopi. Suasana sepi jelas tidak asyik untukku. Kesepian jelas-jelas tidak menyenangkan. Terkadang keramain saja juga. Lantas apa yang harus aku lakukan. Duduk sebentar dan lihat mata saat tertutup ya jelas tidak mungkin akan terjadi. Itu semua mimpi. Tidak usah mempercayai yang tidak pasti. Dimana saja, aku mengerjakan kado ini lebih berarti. Dari pada tidak sama sekali. Apa yang orang lain lihat sepenuhnya itu bukan aku. Tetapi bayangan yang mental baja aku kirimkan. Aku sendiri duduk di sarang tanpa ada yang melihat. Jelas, kado lagi dan kado lagi. Musuh keduaku adalah buku. Dicari kemana-mana selalu sembunyi. Pasti sengaja buku-buku ini mempermainkanku. Berarti bisa ditangkap buku-buku telah menantang aku. Baiklah ayo kita selesaikan secara jantan. Aku telusuri internet, semua aku utek-utek sampai ringkes. Sedikit melambai tidak apa. Jangan terlalu serius mengikuti  pembicaraan ini. Tempat-tempat penyimpanan buku-buku aku telusuri hingga ujung sampai hilir. Tetap saja tidak ada. Apakah baru satu hari ini. Okelah setiap hari akan aku obrak-abrik isi yang ada di tempat itu. Seminggu akan aku lakukan. Asal kadoku cepat terselesaikan.


Komentar