- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
4# Cara memberontak, Ini Caraku Bukan Caramu
Kadoku terhenti dengan uang. Kenapa
harus uang yang dapat menghentikan gerakku. Aku merasa ragu dengan kejadian di
sini. Aku akhirnya membuat pemberontakan sendiri. Aku langsung menilik kepada
wanita yang ingin aku beri kado. Wanita itu pasti sudah tahu apa yang harus
dilaksanakan. Demi anaknya orang tua akan berkorban apa saja yang dibisa. Seperti wanita yang aku punya dan aku do’akan
setiap malamku bersujud. Biarlah uang adalah urusan wanita tua, aku juga tak
pernah memperdulikan apa yang wanita ini kerjakan. Toh, aku mencoba melerainya
aku akan mendapat marah. Ya tugas aku menyelesaikan kado ini. Tapi kapan
selesainya, aku juga tidak tahu. Aku sudah mencoba berusaha semaksimal mungkin.
Pasti selesai do’amu akan menyertaiku.
Masalah uang, entah kau hutang atau kau
mencuri bukan urusanku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan melakukan hal seperti
itu. Wanita yang membimbing dan mendidik aku adalah wanita terkaya dari 7
saudaranya. Kalaupun wanita ini dapat menyimpan dan menaruh di bank jelas apa
yang ingin dibeli akan terpenuhi. Tetapi bukan seperti itu cara pandangnya.
Uang hasil keringat, dapat lepas dari gegamanya asalkan orang yang menerima
senang itu anugrah tersendiri. Kalapun masa lalunya bisa kenapa sekarang tidak
bisa. Malahan sekarang adalah anaknya sendiri yang meminta. Biarlah orang tua
kalian bekerja keras untuk memenuhi kehidupan kalian, karena memang itu sudah
tugasnya. Sebaliknya apabila aku sudah mempunyai anak. Aku akan diperlakukan
seperti apa yang aku lakukan. Tetapi ini sudah tugas.
Aku dipandang aneh oleh sekelopok orang
di sini. Iya aku mengetahui segala macam keringat yang keluar. Aku adalah
mantan pekerja yang lebih tersiksa daripada mereka yang tertawa. Aku mencoba
berontak dengan keadaan seperti ini. Setidaknya aku harus mempunyai satu atau
dua kemampuan yang aku miliki. Agar tujuanku menciptakan sebuah kado ini akan
menjadi istimewa di matanya. Aku mengerti
apa yang akan kalian katakan kepadaku. Aku anak durhaka kan. Bukan
seperti itu yang harus kalian katakna kepadaku. Kalau kalian dapat berfikir,
apa yang orang tua dan kalian lakukan. Sudahkah semua itu seimbang. Aku yakin
tidak. Kapan aku akan bertindak dan berfikir. Kapan ada orang bicara tentang
pekerjaan. Kapan kalian mulai bekerja. Bukan karena aku telah lama memakan
keringatku sendiri. Tetapi sejak aku kecil aku sudah diajarkan kekerasan. Sudihkah
jika aku banyak bicara dengan kalian yang banyak mendekte aku.
Wanita yang kini bekerja keras buatku.
Ya biarlah bekerja. Itu urusannya bukan urusanku. Urusanku menyelesaikan kado
ini. Itu seimbang. Wanita mendo;akan aku, aku mendo;akan wanita itu. Apa
sebabnya aku sedikit berontak dengan apa yang telah aku lakukan sampai saat
ini. Aku tak akan memperdulikan wanita tua itu bekerja
keras seperti apa. Aku tak akan ikut bersedih dengan nasib ini. Wanita ini
sebenarnya kaya. Tapi tak ada yang mengetahui selain aku dan adiku. Kami disuruh menghadapi apa yang ada
dihadapan kami. Apapun itu. Jangan pernah ikut campur mengeluarkan keringat
sembarangan.
Apakah aku berontak seperti ini salah.
Jelas tidak kami sudah melakukan sebuah perjanjian. Perjanjian gelap yang tiga
kepala buat. Uang sebesar apapun yang akan dikeluarkan jelas akan dapat dicapai
lagi. Namun kesempatan saat ini membuat kado tak akan terjadi kedua kalinya.
Aku harus berontak dalam perjanjian yang kami buat. Ya seperti inilah. Mungkin
kalian pandang ini adalah lelucon dan tindakan tidak baik. Aku dipandangan
kalian berontak. Caraku bukan cara kalian.
Komentar
Posting Komentar