4#

4# Cara memberontak, Ini Caraku Bukan Caramu

Kadoku terhenti dengan uang. Kenapa harus uang yang dapat menghentikan gerakku. Aku merasa ragu dengan kejadian di sini. Aku akhirnya membuat pemberontakan sendiri. Aku langsung menilik kepada wanita yang ingin aku beri kado. Wanita itu pasti sudah tahu apa yang harus dilaksanakan. Demi anaknya orang tua akan berkorban apa saja yang dibisa.  Seperti wanita yang aku punya dan aku do’akan setiap malamku bersujud. Biarlah uang adalah urusan wanita tua, aku juga tak pernah memperdulikan apa yang wanita ini kerjakan. Toh, aku mencoba melerainya aku akan mendapat marah. Ya tugas aku menyelesaikan kado ini. Tapi kapan selesainya, aku juga tidak tahu. Aku sudah mencoba berusaha semaksimal mungkin. Pasti selesai do’amu akan menyertaiku.
Masalah uang, entah kau hutang atau kau mencuri bukan urusanku. Tetapi aku yakin, kau tidak akan melakukan hal seperti itu. Wanita yang membimbing dan mendidik aku adalah wanita terkaya dari 7 saudaranya. Kalaupun wanita ini dapat menyimpan dan menaruh di bank jelas apa yang ingin dibeli akan terpenuhi. Tetapi bukan seperti itu cara pandangnya. Uang hasil keringat, dapat lepas dari gegamanya asalkan orang yang menerima senang itu anugrah tersendiri. Kalapun masa lalunya bisa kenapa sekarang tidak bisa. Malahan sekarang adalah anaknya sendiri yang meminta. Biarlah orang tua kalian bekerja keras untuk memenuhi kehidupan kalian, karena memang itu sudah tugasnya. Sebaliknya apabila aku sudah mempunyai anak. Aku akan diperlakukan seperti apa yang aku lakukan. Tetapi ini sudah tugas.
Aku dipandang aneh oleh sekelopok orang di sini. Iya aku mengetahui segala macam keringat yang keluar. Aku adalah mantan pekerja yang lebih tersiksa daripada mereka yang tertawa. Aku mencoba berontak dengan keadaan seperti ini. Setidaknya aku harus mempunyai satu atau dua kemampuan yang aku miliki. Agar tujuanku menciptakan sebuah kado ini akan menjadi istimewa di matanya. Aku mengerti  apa yang akan kalian katakan kepadaku. Aku anak durhaka kan. Bukan seperti itu yang harus kalian katakna kepadaku. Kalau kalian dapat berfikir, apa yang orang tua dan kalian lakukan. Sudahkah semua itu seimbang. Aku yakin tidak. Kapan aku akan bertindak dan berfikir. Kapan ada orang bicara tentang pekerjaan. Kapan kalian mulai bekerja. Bukan karena aku telah lama memakan keringatku sendiri. Tetapi sejak aku kecil aku sudah diajarkan kekerasan. Sudihkah jika aku banyak bicara dengan kalian yang banyak mendekte aku.
Wanita yang kini bekerja keras buatku. Ya biarlah bekerja. Itu urusannya bukan urusanku. Urusanku menyelesaikan kado ini. Itu seimbang. Wanita mendo;akan aku, aku mendo;akan wanita itu. Apa sebabnya aku sedikit berontak dengan apa yang telah aku lakukan sampai saat ini.  Aku tak  akan memperdulikan wanita tua itu bekerja keras seperti apa. Aku tak akan ikut bersedih dengan nasib ini. Wanita ini sebenarnya kaya. Tapi tak ada yang mengetahui selain aku dan adiku.  Kami disuruh menghadapi apa yang ada dihadapan kami. Apapun itu. Jangan pernah ikut campur mengeluarkan keringat sembarangan.

Apakah aku berontak seperti ini salah. Jelas tidak kami sudah melakukan sebuah perjanjian. Perjanjian gelap yang tiga kepala buat. Uang sebesar apapun yang akan dikeluarkan jelas akan dapat dicapai lagi. Namun kesempatan saat ini membuat kado tak akan terjadi kedua kalinya. Aku harus berontak dalam perjanjian yang kami buat. Ya seperti inilah. Mungkin kalian pandang ini adalah lelucon dan tindakan tidak baik. Aku dipandangan kalian berontak. Caraku bukan cara kalian.

Komentar