- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
6# Cara Memberontak, Ini Caraku
Bukan Caramu
Siang
tadi aku memenuhi janji wanita yang bergelar Dr. Aku sedikit binggung dengan
panggilan secara mendadak. Aku disuruh memenuhi berkas yang belum
terselesaikan, terkait formalitas mengikuti prosedur yang baru. Aku bertanya
kepada wanita itu, ada apa ibu memanggilku. Tiba-tiba aku didesak untuk
mengikuti sistem yang ada. Bahwa, Kadoku
sendiri sudah sampai di level ketiga. Tetapi
wanita itu tetap saja memaksa aku untuk melaksanakan prosedur. Mau tidak mau,
seakan aku telah dibodohi sistem. Seakan aku telah kalah melawan apa yang ada
di depan mata. Pastinya kado ini terhambat lagi. Aku tidak mengerti dengan
prosedur yang diterapkan sekarang. Bikin muak dan otak tak karuan. Andai aku
bisa melakukan pemberontak kecapakan verbal, tak akan pernah terjadi seperti
ini. Aku tak harus menyesali apa yang sekarang terjadi.
Kini
semua yang baru , harus mengikuti prosedur yang ada. Semakin sulit saja. Memang
benar ini akan lebih menyulitkan aku dan teman-temanku. Timbul dari perasaan
dan rasa kecewa yaitu MALES. Jelas kalau hal ini sudah terjadi pasti tak akan ada lagi usaha yang berjalan, semua
terhenti. Bagaimana nasib kadoku ini, apakah aku harus pasrah dengan keadaan
seperti ini, jelas tidak. Aku mencoba tetap berjalan bersama kadoku. Walaupun pedih
dan males hati ini. Apalagi otak terkuras habis dengan lelucon wanita bergelar
Dr.
Aku
tidak pernah mengerti. Kenapa aku yang sudah melampui level ke tiga masih harus
menenggok ke belakang lagi. Pernahkah mereka yang di atas memikirkan aku dan
kadoku. Bagaimana aku mendapat uang. Aku akan berontak dengan membuang rasa males
yang menyelimuti tubuh ini. Aku juga akan membuat temanku membuang kata-kata
males. Aku juga akan luangkan semua curahan isi hati yang jelek kepada alam,
bahkan kepada manusia yang mau menerima umpatan negatif ini dari rasa kekecewaanku.
Kini
aku telah termenung gelisah. Memikirkan segala macam kejadian yang pernah aku
alami. Hari ini sungguh membuat aku ingin berkelahi dengan Males. Kapan aku
dapat menemui Males dalam tubuh ini, dan di sebelah mana Males itu. Aku mencoba
memeberontak terhadap diriku sendiri. Karena aku selalu memikirkan nasib
kadoku. Kalaulah bagi teman-temanku sudah mengendap keras dengan penyakit
males, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Benar kata seorang lulusan sarjana linguistik, dan
sekarang menempuh S2 juga. Dia mengatakan “tinggalkan semua temanmu dan jangan
perdulikan mereka yang males dan tidak ada usaha sedikitpun”
Semboyan
ini akan aku jadikan pemberontakan terhadap diriku dan temanku. Akan aku
tinggalkan mereka dan tak akan aku perdulikan mereka dengan nasib yang telah ia
bawa sendiri-sendiri. Memang yang terpenting adalah kadoku. Kado yang telah aku
banggakan untuk seorang wanita yang merantau. Bukan aku benci dan aku tidak mau
diskusi bersama teman-teman. Tetapi mereka jelas-jelas males dan mengulur waktu
yang telah ada. Kalapun aku sedikit mengikuti mereka , jelas aku juga akan
tersesat di sifat males. Aku telah sadar, kapan saya akan menerapkan ini. Bukan
sewaktu-waktu aku akan benci terhadap mereka terus-terusan. Tetapi saat menyentuh pembicaraan tentang sebuah kado.
Maafkanlah
aku teman-teman. Aku juga bukan dewa dan aku juga tidak mau mengkritik dan
tidak mau memberi bantuan terhadap kalian. Tetapi aku akan berjuang sendiri. Biarpun
orang-orang disekelilingku berucap. “seharusnya kalau kalian bersama-sama semua
masalah akan cepat terselesaikan dan apa yang menjadi beban , kalau dipikul
bersama-sama akan ringan”. Bohong dengan ucapan orang-orang itu. Aku tidak mau
memikirkan perkataan itu. Seharus melihat konteks yang ada saat ini. apakah
kado ini juga milik mereka , jelas tidak. Ini milikku sendiri dan terlahir
murni dari pemikiran, tenaga dan usaha ini. aku tidak mau mengesampingkan
kadoku demi kebersamaan. Sekali lagi maafkan aku. Aku akan banyak acuh dalam
urusan beban terahir ini. Itu beban kalian, dan kado ini beban untukku, bukan
beban kalian.
Komentar
Posting Komentar