1 # Cara Memberontak, Ini Caraku, Bukan Caramu

oleh: Edy Saputro Cahyo

Selamat siang. Maaf menganggu waktu ibu. saya mau konsultasi lagi. Kapan ibu ada di kampus?. Dosen atau aku kah yang salah. Dalam urusan melayani dan memberi waktu luang, memang orang sibuk tidak dapat diganggu. Terus kapan kado indah ini akan terselesaikan. Jelas-jelas saya tidak mungkin menuruti ibu terus. Ibu selalu banyak urusan di luar. Saya juga tidak main-main dengan kado yang aku bawa. Ingin kumelaksanakan kewajiban kepada otak ini. Sekiranya sudah tidak mampu ibu. aku akan cela sebentar. Semua adil bu. Harus adil. Tapi kalau masih mengunggu. Jelas-jelas aku akan lama memberikan kado masa depan. Aslinya saya ingin cepat terselesaikan. Tapi kapan?. Ibu mempunyai waktu untuk kita saling bertatap muka mesra. Suruh, kerumah sudah. Apa mengirim lewat email. Bukan cara yang baik saat ini. Kau selalu berpergian. Entah apa tujuan hidupmu. Membuat dirimu sendiri atau membuat orang lain yang membutuhkanmu sengsara. Seakan ibu perlu didudukan sebentar saja. Kita duduk membuat cerita yang sekiranya main logika. Bukan hanya kepentingan. Kalau ibu sudah tidak mampu, ibu tidur dan jangan kesini lagi. Memang sedikit kasar aku bercakap. Semua gara-gara ibu. apakah yang selama ini ibu fikirkan. Bukan hanya terhadapku, tetapi juga terhadap mereka. Mereka yang takut mencela ibu. akulah yang mewakili. Benci aku tidak apa-apa, bila aku memang menyebalkan. Tapi jangan pernah tipu aku dengan kata-kata kepentinganmu. Ingat. Aku ini anakmu. Kadoku sangat penting untuk melamar apa yang aku inginkan. Sudahlah sekian jika aku terlalu banyak berdosa. Kalau ibu juga ini adalah perbuatan dosa besar, durhaka terhadap orang yang lebih tua. Tetapi aku berfikir. Dosa yang ibu tanggung akan melebihi dosaku. Bukan lagi durhaka, tapi rela mendruhakai kami dengan kata-kata kepentinga. Jauh-jauh ibu yang akan menanggung dosa besar ini. Kata nenek saya, orang yang sudah dihormati dan mencoba bisa mengerti, kesabarannya habis, bisa membaut segala macam cara. Kata nenek saya sungguh menakutkan buka. Jika saya mau di siding, ibu akan saya tantang. Aku akan berucap, kalau saya tidak dikasih nilai A akan aku bunuh ibu sekarang juga. Dan jangan berharap tujuh turunan ibu akan mati secara tidak wajar. Menakutkan bukan. Itu yang akan saya lakukan. Tapi, aku tak tahu yang teman-teman saya lakukan. Entah sama atau tidak itu urusan mereka terhadap ibu. ibu yang membuat ini semua. Ibu juga yang harus menanggung ini semua. Justru yang paling sempurna adalah otak. Tak perlu banyak kepentingan seperti ibu. berarti ibu nomor kedua setelah presiden. Dari catatan kesibukan. Awas bu, aku tidak main-main. Aku minta maaf sudah, dan apa yang dikatakan ibu sudah saya lakukan. Untuk selanjutnya ibu harus lebih hati-hati pada saya. Sebab saya rela memikul dosa dan membuat ibu lebih sengsara. 

Komentar