Gadis Beteleme-Palu


Karya : Edy Saputro Cahyo

Foto Kartun.co
“Wanita yang terlahir dari desa yang tak kaum-kaum adam kenal. Hanya untuk kaum-kaum adam yang ada di sini. Kebaikan yang gadis ini lakukan sering berbalik fakta. Kebaikan yang diniati untuk memilih. Karena pilihan berbaur kepada kaum adamlah ia tujukan, gadis ini mampu merasakan lisan dan logikanya. Sebab ia lebih jarang berbaur dan akrab kepada kaum-kaum hawa. Karena pembicaraan selalu tersebar dengan ketidaksengajaan. Berbeda dengan kaum adam. Tersimpan dan lebih terindahkan. Gemetar sudah kaum-kaum adam ditorehkan kebaikan. Hanya kebaikan tak ada yang lebih. Tak lebih hanya sebatas persahabatan. Persahabatan yang ingin dicapai untuk berharap diri gadis menemukan jati diri. Jati diri perasaan yang telah lama hilang, dan di jauh sana ada sesosok kaum adam menunggu dan menanggih janji kepada gadis itu”

Kau adalah anak keturunan bangsawan, dan engkau mudah menarik perasaan kaum adam dengan lembut. Engkau sering menebak perasaan yang berlebihan, selalu bekerja keras dengan rahmat bulan purnama. Arti sebuah nama yang telah terpenggal ini, sungguhlah indah. Bangsawanmu telah engkau tunjukkan kepada kaum-kaum yang haus akan guratan kehormatan. Setianya telah menggurat perasaan kasih sayang yang beku, dan bunga yang entah engkau taruh di sebelah mana mampu menjadi harum di setiap jejak langkahmu. Adapun bulan purnama yang mampu menyinari isi hati semua kaum adam. Penerang yang tak satu orang miliki saat ini.  Jikalau ada, siapa kaum adam itu?.
Kaum adam selalu membuntutimu dari belakang. Entah bau apa yang engkau tebarkan. Kebaikan , kecantikan, atau keseksian. Ruas-ruas perbedaan sering engkau pilih, tak jarang kaum adamlah yang menjadi kenyaman dalam rasa ini. Harapan yang tinggi dan tak mau tahu menahu hal yang tersurat. Dibuatnya kaum adam sebagai hal yang tersirat. Siapa gadis dewasa yang telah melapui dasar pemilihan jodoh ini?. Secantik dan sebaik apa gadis itu?. Pekik kehidupan yang engkau torehkan selama ini penuh makna. Gadis yang selalu mencintai keluarganya, gadis yang jauh merantau hingga berada di gumuk-gumuk. Tapi ratapanmu di daerah Jember sini sudahlah bau pesing, sudah lama gadis ini berada di sini. Entah sorak apa yang telah membawa gadis ini. Hingga terdampar di sini.  Gadis yang selalu membawa semerbak harum bunga, telah mampu membuat pemandangan terpana padanya.
Aku sebagai saksi yang sering memaknai kata-katamu, aku juga kaum adam. Aku juga kaum yang telah terseret akan kaum adam lainnya rasakan. Sebenarnya kemiripan yang mengubah aku merujuk gadis itu. Kemiripan wanita yang telah lama hilang dalam angan-angan. Kisah yang telah aku rajut begitu lama dan pupus di pena jas hitam yang ku kenakan. Entah apa yang telah membuat kiprah mata ini terjerumus dalam ayunan jalan. Jalan yang begitu terjal yang akhirnya ku temui sesosok gadis kedua. Gadis yang telah hilang dalam masa kelam. Apakah gadisku telah hidup dan membuntuti aku. Itu adalah fikir konyolku dalam saksi mimpi saat itu. Harapan yang indah dan akan membahagiakanku. Inginku. Tapi aku duduk dan banyak bermimpi di serambi. Itu bukan gadis yang telah aku miliki. Namun gadis itu telah menjadi penilaian kaum-kaum adam selama ini. Gadis ini ternyata si Aria Sari Kusuma Wulandani, itulah celoteh singkat dari kaum-kaum adam. Tak menyangka aku salah gadis, sedikit kelu rasanya hati ini. Tapi tak apalah, aku memang sedang bermimpi di serambi sarang setiap pagi. Tak apa mimpiku jatuh hingga hancur dan tak tersisa, tapi serambi serasa mengikat rasaku. Dan hanya mata ini yang mampu menikmati keindahan gadisku yang telah lama hilang.
Aku selalu diikat oleh sarang, tak boleh keluar. Banyak hewan buas yang akan memangsa diriku katanya. Luar sarang akan lebih kejam terhadap perasaan. Kini hanyalah mimpi yang kurasakan. Tiba-tiba kedaulatan sarang telah memberiku jalan. Mungkin dengan ratapanku memimpikan gadis lamaku, hingga sarang bosan mendengarkan dan merasakan rasa yang telah sarang cerna. Tepat di pojok sarang gadis itu tergeletak sedang berbicara lemah gemulai. Fikirku gadis itu telah ada yang memiliki. Aku sering tidak yakin dengan diriku sendiri dan mimpiku di sarang. Kadang lidah terasa luwes berkicau , langsung merujuk inti kata, yaitu gadis itu. Dan tenyata kaum-kaum adam menjawab berbeda, ‘hanya gadis biasa, gadis yang biasa’. Kadang-kadang aku lupa, ini kan gadisku yang hilang. Apakah itu yang telah aku rasakan selama ini merasakan dan menandai gadis itu dengan mata yang sama pula.
Lama-lama aku sedikit mencuri pesona sosialmu. Memang gadis ini bukan gadisku. hingga aku tahu dan tak mau tahu lagi. Itu lama sekali. Ketika sarang-sarang telah direnovasi, dan aku berada dan sering diikat di sarang. Gadis itu datang. Persis di pojok. Sarang-sarang yang bergandengan dengan sarangku juga. Bagaimana lagi!. Gadis ini sudah sering mendekat. Oh ya!, sekarang aku ingat. Mungkin nama yang telah dicelotehkan kaum adam, akan menjadi modalku lebih akrab.  Kenyataannya itu mampu dan bisa. Akupun sering berterimakasih secara tidak langsung padamu wahai gadis. Kebahagiaan yang tidak kaum adam rasakan , sering aku rasakan. Kalaulah kaum-kaum adam tersakiti dengan niat kebaikanmu. Hatiku tak akan mampu engkau sakiti.  Aku melihatmu setiap pagi adalah anugrah rasa bahagia untuk gadis lamaku.
***
Akupun adalah kaum adam yang gampang akrab (gapyak). Tapi apakah seperti ini keakrabanku. Apakah mata yang telah aku baca sering berbeda. Dan aku tak sering merasakan kebahagian setelah Aria dekat denganku. Tapi jantung memompa darah dan terasa menyakitkan setiap aku dekat menengok wajah Aria. Bukan jelek ataupun tak cantik. Bukan centil ataupun sok akrab. Tapi wajahmu telah membuat aku menginggat masa laluku. Kini aku telah tahu siapa dirimu yang sesungguhnya. Sesungguhnya di mata. Bukan di hati. Kau Aria yang penuh kesakitan.
Sebelum engkau cerita , aku sudah membaca matamu untuk mencuri informasi yang telah engkau rasakan. Memang saat ini engkau terlihat bahagia. Tapi engkau dipandangku tidak bahagia. Kau masih sakit rasa. Bukan sakit yang tak dapat disembuhkan. Tapi sebuah kenangan yang tersirat lama. Kini telah meracunimu sebagai bukti. Bahwa lelaki yang lama telah bersamamu kini datang menjenggukmu. Dan sedang melangkah jauh ke pulau, Aria dilahirkan.
Kisahmu yang lama dalam bercinta menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Aria, dirimu juga mampu merasa, apa yang sudah pernah dirasa. Selama ini engkau telah benar dalam urusan dicinta. Kau telah luapkan keseimbangan saling percaya dengan sebuah kata-kata yang lantang dari kebencianmu melihat mereka, yaitu mantanmu. Aku hanya sebagai saksi. Aku ingin kau dipertemukan dengan lelaki yang sesuai inginmu. Lelaki itu mungkin hanya aku dan Aria yang tahu.
Titik patah telah Aria lalui. Tapi tak pernah bercermin, apa titik patah itu. Dan aku sebagai saksi, mampu membuka sedikit rasa lupa. Lupa akan segalanya yang perlu engkau lakukan saat ini. Kalaulah Aria telah memiliki pasangan di tempat kelahiran, dan Aria juga tak akan pernah salah. Apabila kini Aria memilih dan memilah lelaki yang diimpikan, itu tidaklah salah.  Saat Aria tak mendapatkan, maka pilihlah lelaki yang telah menunggumu jauh di sana. Karena hidup adalah pilihan. Cintapun adalah pilihan. Semua yang engkau kerjakan adalah pilihan.
Saksi Mata ini akan bungkam, lelaki apa yang engkau inginkan.
Cinta telah lama ada
Buka buku untuk dicintai  telah engkau rasa
Dan tutuplah lalu, buka pena , tuliskan namamu Aria S.K.W harus belajar mencintai sepenuh hati.
Itu yang terlahir dari cinta
Bukan mulut yang berbicara
Tapi mata hati dan pesonamu melihat cinta di depan mata-mata bulan purnama

Sarang, 5 November 2014 , 02.22 AM.
Trims. Aria S.K.W

Komentar