- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karya : Edy
Saputro Cahyo
![]() |
| Foto Kartun.co |
Kau
adalah anak keturunan bangsawan, dan engkau mudah menarik perasaan kaum adam
dengan lembut. Engkau sering menebak perasaan yang berlebihan, selalu bekerja
keras dengan rahmat bulan purnama. Arti sebuah nama yang telah terpenggal ini,
sungguhlah indah. Bangsawanmu telah engkau tunjukkan kepada kaum-kaum yang haus
akan guratan kehormatan. Setianya telah menggurat perasaan kasih sayang yang
beku, dan bunga yang entah engkau taruh di sebelah mana mampu menjadi harum di setiap
jejak langkahmu. Adapun bulan purnama yang mampu menyinari isi hati semua kaum
adam. Penerang yang tak satu orang miliki saat ini. Jikalau ada, siapa kaum adam itu?.
|
Kaum
adam selalu membuntutimu dari belakang. Entah bau apa yang engkau tebarkan. Kebaikan , kecantikan, atau keseksian. Ruas-ruas perbedaan sering engkau pilih, tak jarang kaum adamlah yang menjadi kenyaman dalam rasa ini. Harapan yang
tinggi dan tak mau tahu menahu hal yang tersurat. Dibuatnya kaum adam sebagai
hal yang tersirat. Siapa gadis dewasa yang telah melapui dasar pemilihan jodoh
ini?. Secantik dan sebaik apa gadis itu?. Pekik kehidupan yang engkau torehkan
selama ini penuh makna. Gadis yang selalu mencintai keluarganya, gadis yang
jauh merantau hingga berada di gumuk-gumuk. Tapi ratapanmu di daerah Jember
sini sudahlah bau pesing, sudah lama gadis ini berada di sini. Entah sorak apa
yang telah membawa gadis ini. Hingga terdampar di sini. Gadis yang selalu membawa semerbak harum
bunga, telah mampu membuat pemandangan terpana padanya.
Aku
sebagai saksi yang sering memaknai kata-katamu, aku juga kaum adam. Aku juga
kaum yang telah terseret akan kaum adam lainnya rasakan. Sebenarnya kemiripan
yang mengubah aku merujuk gadis itu. Kemiripan wanita yang telah lama hilang
dalam angan-angan. Kisah yang telah aku rajut begitu lama dan pupus di pena jas
hitam yang ku kenakan. Entah apa yang telah membuat kiprah mata ini terjerumus
dalam ayunan jalan. Jalan yang begitu terjal yang akhirnya ku temui sesosok
gadis kedua. Gadis yang telah hilang dalam masa kelam. Apakah gadisku telah
hidup dan membuntuti aku. Itu adalah fikir konyolku dalam saksi mimpi saat itu.
Harapan yang indah dan akan membahagiakanku. Inginku. Tapi aku duduk dan banyak
bermimpi di serambi. Itu bukan gadis yang telah aku miliki. Namun gadis itu
telah menjadi penilaian kaum-kaum adam selama ini. Gadis ini ternyata si Aria
Sari Kusuma Wulandani, itulah celoteh singkat dari kaum-kaum adam. Tak
menyangka aku salah gadis, sedikit kelu rasanya hati ini. Tapi tak apalah, aku
memang sedang bermimpi di serambi sarang setiap pagi. Tak apa mimpiku jatuh
hingga hancur dan tak tersisa, tapi serambi serasa mengikat rasaku. Dan hanya
mata ini yang mampu menikmati keindahan gadisku yang telah lama hilang.
Aku
selalu diikat oleh sarang, tak boleh keluar. Banyak hewan buas yang akan
memangsa diriku katanya. Luar sarang akan lebih kejam terhadap perasaan. Kini
hanyalah mimpi yang kurasakan. Tiba-tiba kedaulatan sarang telah memberiku
jalan. Mungkin dengan ratapanku memimpikan gadis lamaku, hingga sarang bosan
mendengarkan dan merasakan rasa yang telah sarang cerna. Tepat di pojok sarang
gadis itu tergeletak sedang berbicara lemah gemulai. Fikirku gadis itu telah
ada yang memiliki. Aku sering tidak yakin dengan diriku sendiri dan mimpiku di
sarang. Kadang lidah terasa luwes berkicau , langsung merujuk inti kata, yaitu
gadis itu. Dan tenyata kaum-kaum adam menjawab berbeda, ‘hanya gadis biasa,
gadis yang biasa’. Kadang-kadang aku lupa, ini kan gadisku yang hilang. Apakah
itu yang telah aku rasakan selama ini merasakan dan menandai gadis itu dengan
mata yang sama pula.
Lama-lama
aku sedikit mencuri pesona sosialmu. Memang gadis ini bukan gadisku. hingga aku
tahu dan tak mau tahu lagi. Itu lama sekali. Ketika sarang-sarang telah
direnovasi, dan aku berada dan sering diikat di sarang. Gadis itu datang. Persis
di pojok. Sarang-sarang yang bergandengan dengan sarangku juga. Bagaimana lagi!.
Gadis ini sudah sering mendekat. Oh ya!, sekarang aku ingat. Mungkin nama yang telah
dicelotehkan kaum adam, akan menjadi modalku lebih akrab. Kenyataannya itu mampu dan bisa. Akupun
sering berterimakasih secara tidak langsung padamu wahai gadis. Kebahagiaan
yang tidak kaum adam rasakan , sering aku rasakan. Kalaulah kaum-kaum adam tersakiti
dengan niat kebaikanmu. Hatiku tak akan mampu engkau sakiti. Aku melihatmu setiap pagi adalah anugrah rasa
bahagia untuk gadis lamaku.
***
Akupun
adalah kaum adam yang gampang akrab (gapyak). Tapi apakah seperti ini
keakrabanku. Apakah mata yang telah aku baca sering berbeda. Dan aku tak sering
merasakan kebahagian setelah Aria dekat denganku. Tapi jantung memompa darah dan terasa menyakitkan setiap aku dekat menengok wajah Aria. Bukan jelek ataupun
tak cantik. Bukan centil ataupun sok akrab. Tapi wajahmu telah membuat aku
menginggat masa laluku. Kini aku telah tahu siapa dirimu yang sesungguhnya.
Sesungguhnya di mata. Bukan di hati. Kau Aria yang penuh kesakitan.
Sebelum
engkau cerita , aku sudah membaca matamu untuk mencuri informasi yang telah
engkau rasakan. Memang saat ini engkau terlihat bahagia. Tapi engkau
dipandangku tidak bahagia. Kau masih sakit rasa. Bukan sakit yang tak dapat
disembuhkan. Tapi sebuah kenangan yang tersirat lama. Kini telah meracunimu
sebagai bukti. Bahwa lelaki yang lama telah bersamamu kini datang menjenggukmu.
Dan sedang melangkah jauh ke pulau, Aria dilahirkan.
Kisahmu
yang lama dalam bercinta menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Aria, dirimu juga
mampu merasa, apa yang sudah pernah dirasa. Selama ini engkau telah benar dalam
urusan dicinta. Kau telah luapkan keseimbangan saling percaya dengan sebuah
kata-kata yang lantang dari kebencianmu melihat mereka, yaitu mantanmu. Aku hanya
sebagai saksi. Aku ingin kau dipertemukan dengan lelaki yang sesuai inginmu.
Lelaki itu mungkin hanya aku dan Aria yang tahu.
Titik
patah telah Aria lalui. Tapi tak pernah bercermin, apa titik patah itu. Dan aku
sebagai saksi, mampu membuka sedikit rasa lupa. Lupa akan segalanya yang perlu
engkau lakukan saat ini. Kalaulah Aria telah memiliki pasangan di tempat
kelahiran, dan Aria juga tak akan pernah salah. Apabila kini Aria memilih dan
memilah lelaki yang diimpikan, itu tidaklah salah. Saat Aria
tak mendapatkan, maka pilihlah lelaki yang telah menunggumu jauh di sana. Karena
hidup adalah pilihan. Cintapun adalah pilihan. Semua yang engkau kerjakan
adalah pilihan.
Saksi
Mata ini akan bungkam, lelaki apa yang engkau inginkan.
Cinta
telah lama ada
Buka
buku untuk dicintai telah engkau rasa
Dan
tutuplah lalu, buka pena , tuliskan namamu Aria S.K.W harus belajar mencintai
sepenuh hati.
Itu
yang terlahir dari cinta
Bukan
mulut yang berbicara
Tapi
mata hati dan pesonamu melihat cinta di depan mata-mata bulan purnama
Sarang, 5 November 2014 , 02.22 AM.
Trims. Aria S.K.W

Komentar
Posting Komentar