- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karya: Edy Saputro Cahyo
![]() |
| Foto Aria S.K.W |
“Pemakaman
akan selalu dekat. Entah kapan itu. Suasana tangis akan selalu ada, entah kapan
itu. Bunga akan selalu bertabur, Entah kapan Itu. Ada do’a, entah kapan itu.
Ada janji mimpi, entah kapan itu”
Tanah basah bertabur bunga-bunga
wangi membuat mata ini perih. Aku dan Ibu melantunkan tangisan kubur kala itu.
Nisan putih ku cium hingga air mata ini terjatuh. Tak sempat aku berucap
kata-kata nyata saat ini. Hanya tangis dan rasa sedih dalam hati kucurahkan.
Seakan tak adil mata ini membuat aku lembam. Teringat benar kala ia sering
mengendongku setiap pagi dan malam. Membuat aku terhibur dan menangis karena
kenakalanku. Kini siapa yang akan mengendongku setiap pagi dan malam. Bahkan siapa
yang akan memberi perhatian kala aku tak pulang. Kesabaran yang telah engkau
berikan telah tertanam dalam darah daging ini. Sifat dan cinta kasih.
Catatan
kecil pernah ia uraikan dalam pertumbuhanku. Kini ia telah tiada. Dalam wujud
yang tak terasing di mata. Hanya sejenak aku lelah karena kepergianmu. Aku
wanita dan Ibu wanita. Siapa yang akan menjadi seorang lelaki dalam hidup ini. Kalaulah
engkau ijinkan aku bersanding dengan lelaki untuk memenuhi kelengkapan
keluarga, akan aku lakukan. Seiring berjalannya waktu aku sering memilih laki-laki yang sepertimu Ayah. Apa
yang harus aku lakukan sekarang?, seakan penat dalam kebuntuan. Kalaulah kini
engkau masih ada. Aku akan merasa bahagia dalam dekapan dan pelukmu berkeluh
kesah.
Pasti
di tempat ini akan terasa nyaman aku dan ibu menemanimu hingga akhir usia.
Tubuh ini lumpuh dengan saksi mata yang telah memakan semua kisah. Aku ingin
tahu apa yang engkau lakukan di dunia lain dengan mimpi bersama ibu, akan aku
jengguk ayah di setiap tidurku. Aku setiap malam telah menjumpaimu bersama ibu. Tapi engkau hanya diam dan berbaring lusuh kain kafan. Aku telah datang malam ini
hanya untukmu ayah. Mengapa engkau tak pernah sedikitpun menandai kami dengan
gerak. Aku dan ibu kangen denganmu. Aku telah mengajak ibu. Ibu ada
disampingku, tapi engkau hanya diam dan diam. Apakah salah kami.
Lama sudah, kami sering berjanji
dalam mimpi. Hanya untuk melepas rasa kangen ini. Pertanda apa yang membuat aku telah
didiamkan. Hingga aku membujuk bahagia walau sebenarnya aku juga gelisah melihat Ibu, yang tangis menangis disetiap malamnya. Malam dengan tangis dan do’a harapan, yang
tak pernah aku ketahui. Aku rasa ibu telah memberikan yang terbaik dalam
hidupnya. Mampu memberikan kasih sayang, cinta dan apa adanya. Aku berlutut ,
pasrah kepada Sang Kuasa. Malam ini tolonglah hamba. Aku dan ibu dalam janji mimpi
pertemukan dengan ayah.
***
Telah datang malam, hingga kami
telah tertidur di ranjang yang sama. Dekapan hangat aku berikan kepada ibu yang
telah lama bersedih. Suasana dingin dan hawa yang tak sama aku rasa. Aku
tiba-tiba digendong ibu. Aku telah kembali menjadi bayi. Aku melihat ibu
berjalan ketakutan mengitari bintang-bintang yang berjalan. Aku seakan
merepotkan ibu, dan aku telah ada. Perjalanan berakhir di taman terindah. Di
taman yang banyak pasangan kesana-kesini. Tapi ibu masih mencari-cari, entah apa
yang ibu cari. Tiba-tiba seorang laki-laki menepuk pundak ibu dari belakang. “Aku telah
menunggumu hingga akhir hidupku” kata laki-laki. Ibu merasa senang tak berjabat
tangan dan tak berucap kata manis. Tiba-tiba laki-laki menciumku. Tepat di
keningku, dan memindahkan aku di gendongannya. Semua seakan berbeda rasa. Aku
telah berada dalam dekapan cinta dalam mimpi. Janji mimpi yang telah lama aku
dan ibu tunggu kini menjadi nyata. Tapi kenapa harus menjadi bayi saat
bermimpi. Aku tak sempat memeluk ayah dan menciumnya kembali. Saat itu aku terpejam dan mata tak mampu aku
buka sepenuhnya. Mimpi telah membuat aku menyerahkan semua yang aku dan ibu
miliki.
***
Aku merasa bahagia dan terjaga dalam janji mimpi ketika malam itu bersama ibu. Kini aku telah paham dengan kehidupan
yang sebenarnya. Kapankah harus aku memulainya. Aku masih terbisik dari
kata-kata ayah yang telah menyerukan aku mencari laki-laki sebagai kelengkapan
keluarga. Tapi aku tak sempat berbuat seperti itu. Lamanya aku berkiprah dalam
urusan cinta, pasti kandas dalam kuantitas. Entah apa yang menjadi takdir
cintaku. Dan yang aku takutkan Ibu akan mendahuluiku mencari laki-laki, demi adanya pemimpin di keluarga
ini. Aku takut, dan aku merasa bersalah terhadap mimpi yang telah ibu dan aku
bawa. Tapi keadaan seperti ini, ibu selalu gelisah setiap aku menyebutkan alam
mimpi. Ibu sering aku ajak ke janji mimpi. Tapi semua dimentahkan dengan,
perkataan menyakitkan. “semua hanya intuisi dan mimpi” seru ibu. Apakah ibu juga mendapat bisikan yang sama?. Semangatku
sebesar luas samudra, kini lenyap. Aku pasrah dengan apa yang akan ibu lakukan.
Karena bahagianya adalah bahagiaku.
Ibu telah menemukan pendamping
hidupnya yang baru. Walaupun baik di mata ibu, tapi tak baik dimataku. Ayahku
yang dulu sabar dan penuh kasih sayang. Apakah ayah yang sekarang akan
seperti yang dilakukan ayahku dalam
mimpi. Kini aku telah percayakan semua demi kebahagian ibu. Ibu telah menikah
dan membuat keputusan yang tepat. Kalaupun ibu seperti itu, aku juga akan
menemukan lelaki yang akan membuat ibu merasa lebih bahagia. Beberapa lelaki
yang telah singgah di hatiku semua tak ada yang cocok. Apakah aku harus
bersabar dengan semua kisah ini. Apakah yang harus ku lakukan?.
Semua usahaku telah aku buat seindah
mungkin. Setiap malam aku serukan janji malam kepada sang malam. Tapi tak
pernah aku diantarkan ke taman terindah. Semua kesedihan telah melengkapi hati
ini. Hingga aku menorehkan semua di atas nisan ayah. Aku telah mencium nisanya
setiap aku bersedih. Aku sayang kepadamu ayah. Aku kangen kamu ayah, kenapa tak
ada lelaki yang sepertimu ayah. Aku mencaripun selalu kandas dalam perjalanan. Kini
ibu telah memiliki pendamping baru, apakah engkau iklhas?. Aku ingin bertemu
ayah, dalam janji mimpi yang telah kita sepakati. Kala aku sudah seperti ini,
apakah engkau rela melihatku."
Ayah berucap dalam janji mimpi, “ Ayah iklhas ibumu
menikah lagi, dan akupun merasa senang cintamu telah kandas berkali-kali. Dari
situlah engkau akan menemukan cinta yang sebenarnya. Begitupun ibumu telah
menemukan cinta yang sejati, untukku dan untuk laki-laki yang sekarang.
Cintailah ibu dan ayah barumu. Dan cintailah orang-orang yang ada di sekitarmu.
Kelak engkau akan temukan lelaki yang akan bersimpuh dipelukmu.”
Aku lega dengan seruan suara ayah.
Tangisku dan ciumku di nisan membuat aku mendoakan ayah, semoga selalu bahagia
di alam yang tak jauh dariku. Akan aku jengguk ayah selalu, akan aku do’akan
ayah selalu, akan aku do’akan ibu selalu, dan aku akan memberikan kebahagian
dalam janji mimpi suatu saat nanti kepada ayah.
Sarang, 6
November 2014
Bulan yang
bercerita

Komentar
Posting Komentar