- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh : Edy Saputro
Cahyo
“Apa
yang disampingku itulah teman. Teman tidur malam. Teman di setiap aku dihantam
banyak fikir. Teman segala jenis aktifitasku di rumah. Entah apa yang membuat
perasaan ini lebih memilih ia sebagai teman sejati. Tak dapat dipungkiri, ia
selalu mengerti dan membuat rasa tersendiri. Intuisiku memang terbatas di
rutinitasku di dunia pendidikanku yang aku tempuh. Tetapi kali ini, aku membuat
imajinasi sendiri. Dari sebuah kebiasaan yang nyata. Dia telah mengenalku. Kalaupun
ia bisa menyamar seperti manusia sepertiku. Tidak menutup kemungkinan dan
pasti, aku akan menjadikan dia pendamping hidupku. Entah apa yang ada dalam
fikir ini. Memang tidak untuk kalian. Tapi ini tentang perasaan. Perasaanku dan
perasaan dia.”
Suasana
petang, saat aku berlabuh menuju rumah. Jelas malam waktu itu. Tanpa ada
sebercak cahaya. Aku bersama mbak ponakan. Jalan kanan kiri sepi tanpa ada
suara. Memang hanya kami yang melewati jalan saat itu. Entah apa yang membuat Mbak
tiba-tiba mengendorkan gas motornya, dan mengerem secara mendadak. Aku merasa
kaget dan sedikit tersodok ke depan.
“Persis di depan kita, ada apa itu
ya adik Mongka”
“memangnya ada apa Mbak?”
“Sepertinya ada tikus, atau ular
yang kesakitan”
Kami
mencoba turun dan melihat apa yang ada. Memang tak sejelas apa yang kami rasa. Entah
tikus, ular atau apa. Kami mendekati dan tenyata itu adalah kucing. Anak kucing
yang masih kecil, sangat kecil. Kulihat merahnya membuat kami sedikit takut. Banyak
luka-luka sekujur kakinya. Kami binggung harus melakukan apa. Karena mbak saya
suka memelihara hewan, dan bertepatan yaitu hewan yang dipelihara adalah
kucing. Tapi fikirku dengan keadaan seperti ini, apakah Mbak mau ya. Karena aku
kasihan dengan kucing itu aku mencoba untuk membujuk Mbak. Agar dibawa dan
dirawat. Jelas kasihan sekali. Kucing yang baru lahir ini entah dibuang oleh
orang yang punya, atau sengaja ditinggalkan ibunya. Sungguh malang nasib kucing
ini. Dengan bujukan yang jelas, aku merasa kasihan. Mengugah hati mbak.
“gimana ini mbak, kasihan kucing
ini. Kan mbak juga memelihara banyak kucing di rumah. Jadi bagaimana kalau
kucing ini dipelihara digabungkan sama punya mbak.”
“Tapi punya mbak sudah banyak.”
“ya sudah, dipelihara mbak dulu
setelah lukanya sembuh, Mongka yang akan memeliharanya.”
“Baiklah, Mongka. Mari sekarang kita
bawa pulang”
kami
melirik kanan kiri sangat gelap, segera kami pulang membawa kucing ini. Sayup-sayup
kesakitan yang tak jelas terdengar mampu aku rasakan. Kini kucing telah
terwadahi platik. Sabarlah kau akan segera diobati dan dirawat mbak saya.
Kucing
ada di rumah mbak. Selama kucing ini di rumah mbak aku selalu menanyakan kabar
setiap hari. Karena rasa sayangku muncul dari kasihan melihat keadaan kucing. Setiap
minggupun aku selalu menjengguk. Entah mengapa aku tiba-tiba menyukai kucing. Entah
perasaan apa yang membuat aku sayang padanya. Tepat tiga minggu berada di rumah
mbak. Kucing sudah sembuh dan bugar. Penampilan yang berbeda, ketika aku
melihat bukan seperti kucing yang aku temui saat malam itu. Malam yang
mencekam, hanya ringgikan tangis meong, meong. Kini bisa berjalan dan bulu
indah membuat aku lebih jatuh cinta padanya. Kenapa aku suka, ya karena kelucuannya.
Hari-hariku
selalu diiringi ringgikan kucing. Sebelumnya memang aku juga mempunyai kucing,
bernama Ollen. Yang tiba-tiba mati secara tidak
wajar. Dan sekarang aku mempunyai kucing baru. Aku memberikan nama Molly, nama
yang terlintas secara tak terduga. Aku mengawali dengan panggilan Molly, tanpa
ada syukuran nama, acara khusus yang sakral. Demi memperoleh nama ini, hanya
sebatas identitas. Karena semua dengan identitas, apapun yang melekat di jiwa
hewan pasti akan merasa nyaman. Molly tak berontak dengan nama yang aku
berikan, seakan-akan lebih indah dari pada kucing. Keluarga aku kenalkan dengan
nama teman baruku yaitu Molly. Jadi keluargaku kalau memanggil, harap memamngil
Molly. Aku senang keluargaku menerima teman baruku.
Keseharian
Molly kebutuhan batinya makan, minum, kecing, buang air besar. Jelasnya tidur
serta meringgik meong setiap perjalannya. Entah kenapa Ibu tiba tidak suka
dengan Molly, karena ulahnya setiap harinya yaitu kecing sembarangan, buang air
besar dimana-mana. Sehingga menimbulkan bau yang tidak enak. Itulah yang
membuat Molly lebih tidak disukai. Aku akhirnya mencoba berfikir, dan tanya-tanya
ke mbak. Mungkin mbak ada saran. Setelah aku bertanya-tanya kepada mbak. Aku disuruh
mencari informasi di internet. Bagaimana cara merawat dan membiasakan kebiasaan lama ,
jelek menjadi kebiasan yang baik, yang akhirnya keluarga juga senang dengan Molly,
tidak hanya aku saja. T
Butuh
tiga minggu melatih Molly untuk tidak berak dan kecing sembarangan. Dengan
hasil pelatihan aku dapatkan tingkah laku Molly sudah berubah. Kecing dan berak
di tempat yang sudah aku sediakan.
Molly
kaulah engkau mau menemaniku
Jangan
pernah ragu menemani aku untuk saat ini
saja
Tapi
temanilah aku di kala aku sedih dan gelisah
Kau
tak sekedar teman hidupku setiap waktu
Tapi
kau seakan membuat kebiasaanku juga berubah
Kau
bangunkan aku sebelum subuh datang
Kau
jemput aku depan pintu ketika aku datang
Tapi
saat ini kau sedang sakit, kau jelas tidak seperti biasanya
Andai
saja kau dapat bersuara, katakanlah di sebelah mana sakitnya
Setiap
aku mau berangkat sekolah, seakan Molly ingin mengikutiku. Aku terpaksa menutup
pintu. Seakan tak ingin lepas Moly dari aku. Kehidupanku selama ini, yang sedih
dengan nasib cinta dan permasalahan yang membekal dan tiba-tiba masalah itu
datang menghampiri aku. Molly teman aku. Dialah yang lebih mengerti dari semua
orang yang mampu berfikir.
Aku
pulang sekolah selalu dijemput Molly depan pintu, suara bising kendaraan ini
telah Molly hafalkan setiap harinya. Tetapi jika ada suara bising kendaraan
lain, ia tak akan berada di depan pintu. Hanya aku yang Moly hafalkan. Suaraku,
suara kendaraanku. Aku telah menyayangi dirinya. Saat aku kelam akan rasa sakit
dengan nasib cinta, Molly yang selalu mengerti aku. Setiap manusia pasti
memiliki hewan kesayangan, ya seperti aku ini. Jangan pernah engkau cap aku
aneh.
Kapan
Molly tak meringgik, setiap hari selalu meringgik. Tapi berbeda dengan
ringgikan sekarang, Molly sakit dan tak tahu apa yang sekarang Molly rasakan. Aku
justru sedikit tak tahu dengan apa yang ia rasa, sedih ataukah bahagia. Aku sedikit
gelisah saat ini, melihat apa yang terjadi pada Molly. Karena siapa lagi yang
membuat aku tertawa setiap harinya, menemani aku tidur malam, dan meramaikan
isi rumah ini. Molly lah yang mengisi semua kesepian di rumah ini. Tak pernah
sebelumnya ada Molly rumah ini rame. Hatiku juga rame, selalu ceria bersama
Moly.
Apa
yang engkau rasakan , aku tahu
Kau
sedikit bungkam, karena kesakitnmu
Kau
tak mau makan, ya seperti aku saat sakit
Semoga
engkau lekas sembuh,
Di
pelukku malam ini
Cara
apa lagi yang akan aku lakukan. Aku periksakan , obati dan rawat. Semua sudah
dilakukan. Tetap saja kau tak ada peningkatan kesehatan. Sakit apa. Sakitnya di
mana. Andaikan kau bisa berbicara bicaralah. Karena rasaku untuk memahamimu
terbatas. Itu diriku yang keliru. Tak pernah memahami yang engkau rasa dan
engkau mau. Tetapi saat aku sedih dan bahagia, engkau selalu ada , engkau
selalu menghibur aku.
Kursi
dan Kopi, 12 November 2014
Komentar
Posting Komentar