Guru Hukumnya Makruh


Oleh: Edy Saputro cahyo

Tanah Suci. Membuat dua orang berbeda pendapat. Satu orang telah banyak pengalaman. Suasana sore dan mendung.
Kalau engkau sudah dapat memberikan hal yang pernah berhasil dalam hidupmu. Akan aku turuti perkataaanmu dalam menasehatiku. Jika kau tak pernah melakukan itu itu, maka hidupku akan aku atur sendiri. Dosaku akan aku pikul sendiri. Dan dosamu juga akan engkau pikul sendiri kan. Omonganmu seakan membuat aku letih mendengarkannya. Kadang , kau buat teori yang kau baca. Tapi tak pernah engkau melakukannya sendiri. Apakah hanya sebatas pengetahuan yang kau berikan. Dan setelahnya aku mendapatkannya, apakah terserah aku. Ya, dipergunakan apa yang aku inginkan bukan. Tetapi tetap pada pengetahuan yang engkau berikan. Berarti kau buat aku uji coba dari pengetahuanmu. Teganya engkau membuat aku mengigit jari dengan lidahmu. Ha,ha,ha,ha,ha. Apakah pernah engkau fikirkan, bagaimana keadaanmu sekarang. Sok puitis dan sok pintar. Inilah niatanku belajar, hanya pada guru, yang bisa digugu lan ditiru. Bukan hanya omong-omong kelabu. Kau tak akan pernah suka terhadapku. Aku keras kepala. Tapi engkau, teori seakan bisa semua. Tapi praktek dan bukti nyata yang aku inginkan. Kau paham, atau kau ingin mendesak aku untuk memahamimu. Berhati-hatilah yang mengaku pandai. Aku musuhmu. Bukan mereka yang tunduk dengan semua kata-katamu. Aku tak akan percaya denganmu. Ku lihat kau hanya punya cita-cita. Tapi tak pernah engkau laksanakan. Apakah itu yang perlu aku tiru.
Kursi panjang dan acungan ke mata dan hati sendiri. Untuk guru-guru yang telah berilmu.
Guru pencak silatku mengajari aku. Jurus, teknik,wakang, serang hindar, dan sambung. Karena aku merasa tidak bisa dan memang guruku bisa. Itu bukan omong saja. Tapi kenyataan. Masih banyak lagi contoh yang akan membuat kau orang sok pandai membuat kata-kata.  Guru TK-ku ia mengajari aku mengambar, ya memang guruku bisa mengambar. Dan akupun bisa menurutinya. Apa kau piker otak kecilku masih tak tahu apa-apa. Bahaya apabila ilmu yang kita miliki sama. Mungkin teoritisku kalah dengamu. Tapi diriku ya apa adanya. Yang tak ada dan tak pernah engkau lakukan. Engkau doktrinkan kepadaku semena-mena. Bahaya. Malahan akan membuat kau akan sakit hati dengan perjataan balikku.
Si aku tetap tak akan percaya dengan semua yang tak nyata, suasana petang karena awan
Kau berbicara, ya aku cerna. Sekira aku tahu. Akan aku berhentikan pertayaanmu. Dan apabila aku tak tahu, aku akan lihat keseharianmu, dan apabila tak tahu akan aku simpan pertanyaanmu untuk membuat kebenaran teori yang engkau katakana dan kerjakan. Sehingga seimbang. Seperti guru. Jangan hanya ngomong tanpa ada bukti. Ingat kawan. Aku telah lama membuat diriku tak percaya dengan orang. Apalagi sok sip didepanku. Itu kesalahan besar. Bicaramu panjang, yak an aku mentahkan dan kupotong segera. Kau bilang satu kecap bicaramu. Hey,,, kau salah menganggap aku bicara berkecap-kecap.
Ke ruang perpus, mengajak membuka buku dan teori yang ada. Dan dikaitkan dengan praktek.
Ayo coba lihat buku. Kalaulah engkau seperti itu. Lihat halaman 10 bab sok ingin tahu dan menahu. Dan aku akan lebih terima engkau bicara , dan engkau melakukannya. Tak perlu teori ataupun tetek bengek. Seluk-beluk atau apalah. Kesederhaan saminku sedikit masih melekat. Ya jangan kaget kawan. Maukah engkau kembali dan maukah engkau mawas diri. Jangan pernah sedikitpun engkau lari dari tatapan muka ini. Lagi-lagi perkataanmu membuat aku pening dan tak karuan. Ya jelas engkau mau mengajak aku duel. Ayo silahkan. Mau berapa putaran. Aku tak mau semena-mena membuat naik darah orang yang memberitahuku.
Si aku juga banyak musuh, tapi loginya benar-benar dimainkan layaknya orang yang tak puas.
Itu tak hanya kamu, dan memang musuhku banyak karena dengan logikaku berimajinasi. Nyata juga bisa jadi imajinasi. Dan imajinasi dapat menjadi nyata. Kalau tak percaya, lihatlah kejadian engkau selalu sholat dan menyebah Allah. Tak ada bentuknya selalu engkau sembah. Apakah aku bodoh. Karena semua itu sudah nyata. Dan ratusan orang bilang ya, akupun ya. Tapi jangan sekali-kali kau buat agamu menipu aku.
Duduk di sarang. Mengucap dan pemberian nasehat. Untuknya dan untuk diri sendiri.
Jaga lidahmu, jangan sok tahu-menahu, kerja dan kerja , buatlah teori dari prakatek, dan jangan kau jadikan teori untuk praktek, tak akan sama. Kau bilang sedikit perbedaan. Nah itu yang perlu disamakan. Praktek jelas nyata, teori hanya imajinasi. Dan waktu terus berjalan. Dan tetaplah lidah dan logikamu juga berjalan kawan. Jangan hanya bilang banyak perkumpulan atau banyak teman yang pandai saja.
Selesai. .
………………………….

Sarang, 9 November 2014

Komentar