Mata Sang Penyamar; Tak Sengaja Aku Baca

Karya: Edy Saputro cahyo

Sedikitpun rasa yang terasa sejujurnya adalah mata. Mulut dan apapun tak akan menang melawan kejujuran mata.
SARANG. RUANG INDAH DAN RUANG UNTUK BERFIKIR KERAS. ADA SEBERSIT PENAMPAKAN.
Entah itu Kakak, Adik, Kakek, Nenek atau siapa?. Tapi aku telah patah arang untuk mendapatkan sang penyamar. Aku tahu ada maksud yang tak kupahami. Canda dan tawamu seakan membuat aku terbodohi cinta. Dimatamu terlihat jelas bahwa kau memendam sejuta rasa sakit, yang tak pernah aku rasakan. Namun, aku tahu hal dibalik tingkah dan tindak tuturmu. Kesakitan tak akan penuh hilang dan lenyap dalam hati. Aku tahu hal itu, padamu. Matamu mengatakan kau telah membodohi segala orang yang berharap ingin mendapatkanmu. Aku bukan orang biasa, walaupun bibir tak berucap padaku, atau pada orang lain. Mata, mata yang kau bilang petunjuk yang paling jujur dalam urusan cinta. Tak akan salah mata berbicara dan menatap keindahan yang telah ia lihat. Tak ada kejelekan yang tak ingin mata lihat, pasti semua ada indahnya. Walau ada makna jelek. Berapa lama akan engkau pertahankan kekonyolan bertingkah dengan luwes.
LUAR SARANG. LAMPU YANG SEAKAN MENYALA TANPA HENTI. DAN MATAKU INI TAHU, HATI
Dan aku adalah saksi, ataukah apa. Mungkin yang engkau ketahui aku adalah pria biadab, pembohong, dan sering berbuat seenanknya sendiri. Ataukah engkau berpandangan aku jelek, tak selevel denganmu. Akan aku jawab, kesempurnaanku terletak kepada kesetiaan. Walaupun engkau mau apa saja. Dan engkau tak sedikitpun merubah keadaan yang ada. Semua akan mati tertopengi penghianat kata dan kebersamaan.
Walau saatnya nanti. Ada rembulan yang indah mendekat padaku. Akupun tak akan berharap apa-apa. Mana ada yang aku percaya selain mata yang akan berbicara. Selama ini sudah beribu informasi aku telah maknai sebuah arti yang ada. Cinta lebih baik engkau mati, kalaupun engkau banyak meracuni cinta yang tak dianggap. Oh ya, cinta yang tertanam selama bertahun-tahun dalam hatimu, tak akan mudah orang lain untuk me-reboisasi hatimu dengan tanaman baru.  Apakah semua ini hanya lelucon. Tumbuhan di hati yang telah mati akan mekar kembali disaat tak ada lagi tanaman yang seindah tanaman yang sebelumnya. Dan bahkan ketika tanaman di hati mati, bertahun-tahun akan tetap membekas dalam tanah hati, entah  akar cinta yang masih terbesit, ataukah pohon cinta telah menyetubuhui sekujur tubuhmu.
BERTEMU DI SARANG YANG SAMA TAPI TAK TAHU MAKNANYA. INGAT KEJADIAN YANG PERNAH TERJADI DALAM HATI.
Maafkan aku telah, membuat kata-kata yang membuat kau binggung dalam urusan makna. Tapi aku yakin, bahasa ini sangat mudah engkau pahami. Apapun yang akan dia lakukan hari ini, aku telah menjadi diriku sendiri, bahwa tak  ada tumbuhan di hati lagi. Entah tumbuhan apapun, kalaun engkau ingin di reboisasi, jangan terhadapku. Aku lelaki yang setia. Tak akan pernah membuat kesalahan yang sama dengan sang penyamar. Itu bukan segalanya bagiku. Karena matamu dan mataku telah  menunjukkan perbedaan rasa. Rasa yang tak mampu mencabut pohon-pohon cinta dalam hatimu.
Belajarlah dari dari rasa sakit yang kamu terima saat ini, karena dari rasa itu kita bisa belajar untuk ketegaran.
Belajarlah dari apa yang membuatmu terluka, karena dari luka itu bisa berhati-hati untuk melangkah atau untuk melakukan hal apapun.
dan
Belajarlah dari kegagalanmu saat ini, karena dari kegagalan itu kita bisa berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah membuat kita gagal.
Untukmu yang dekat disini.
,Selesai,


Komentar