Permainan Tradisional, Tak Akan Mati


Karya : Edy Saputro Cahyo

Di hamparan rerumputan., aku di mangsa sebuah kecaman. Beribu kecaman aku dapatkan hingga aku gila mendegarkannya.
LATAR TEMPAT BERMAIN ANAK-ANAK TETANGGA. SUASANA SORE MENJELANG MAGRIB. RAME DAN AKU BERDIRI DI SANA.
Aku bermain tak seperti mereka, aku bermain tak seindah mereka. Mainan mereka maianan lama. Padahal zaman kini sudahmodern. Masih sajakah mereka mempermainkan permainan tradisional. Di sebelah kiri saya, ada permainan lompat tali. Tali dari rerrumputan menjalar di pingiri-pinggir sawah. Sudihkan mereka membuat aku malu, ada di sini. Sebelah kanan saya, ada permainan petak umpet. Mereka sudah gila atau aku yang gila, jelas-jelas akan sulit dan akan terkecoh dalam permainan itu, menyakitkan. Di depan saya, ada permainan egrang. Apa tidak eman-eman kakinya sakit dan menahan rasa sakit. Dan di belakang saya, ada permainan dakon, latihan hitung dan menaruh biji asam ke lubang-lubang yang telah ada. Hahahaha, permainana di sini lucu. Telah aku lewati semua permaianan itu di waktu aku masih kecil. Aku kesini hanya untuk memberikan permainan baru yang aku peroleh dari petualangan, bukan permainan tradisinal tapi permainan kelasa eletronik.
(ia menawarkan permainan, ke semua penjuru tapi tak ada yang gubris)
Ini permainan bagus, ini enak cara mainnya. Ayo teman-teman dan anak-anak kalian gratis mempermainkan ini. Mereka terdiam. Dan tiba-tiba terdiam. Aku hanya berbicara sendiri taka da yang mendengarkan. Aku berceramah. Itu mainan yang jelek, ayo tinggalkan. Apa kalian tak ingin ada kemajuan di tanah rerumputan ini. Apakah kalian dengar aku berbicara keras. Hey kalian anak-anak. Kalian bak kancil yang telah melihatku dari jauh. Kalian nakal mempermainakan aku. Apa aku salah membawa ini semua untuk kalian. Hanya untuk kalian.
(Tiba semua anak-anak membentuk lingkaran besar, dan di tengah-tengah si Juremi)
La begitu, mendekatlah dan ayo bermain bersama. Ini permaianannya dan ini permainannya. Ayo main- ayo main. Aku ajari semua cara-caranya. Kenapa kalian diam dan diam. Kau anggap apa aku di sini. Anak-anak kalian tetap mempertahankan semua jenis permainan yang ada di sini. Dan taka da yang ingin diganti,. Hey aapakah kalian dengar.
ANAK-ANAK BERBICARA KERAS DAN MEMBUAT JUREMI, TERPINGKAL KEBAKARAN JENGGOT. DIA MENJERIT KESAKITAN SEPERTI KERASUKAN DEMIT-DEMIT DI RERUMPUTAN INI.
(Anak-anak menjawab, Ya aku dengar. Permainan tradisional tak akan mati ketika kau langsung ada di sini)
Apa. Kalian ini membuat aku jengkel saja. Dan apakah kalian memahami petualanganku jauh-jauh ke Barat mencari-cari permainan buat latar rerumputan ini. Kalian memang tak pernah tahu diri dengan usahaku selama ini.
(anak-anak menjawab. Kau bodoh, kau lupa, lupa dengan tanah ini. Anak-anak melanjutkan permainannya)
Tidak, tidak semua tidak. Aku ini yang menciptkan semua permainan di sini sebelum kalian lahir. Kenapa kalian tak ingin maju. Maju seperti anak-anak yang lain. Apakah kalian tak ingin rerumputan ini hilang. Kalaulah kalian membuat aku memaksa dan ini akan aku jadikan lahan permainan modern.
(Tiba-tiba Juremi dirasuki demit-demit tanah rerumputan)
Ah, ah, kenapa kepalaku ini. Pusing tapi tak begitu pusing. Dada ini sakit tak begitu sakit. Hati ini mati tak begitu mati. Jantung ini berdetak tak hidup lagi. Apakah aku akan mati di sini. Ini bukn lelucon. Aku akan melawan apa yang telah ada. Tapi aku kini menyadari. Semua telah dirasuki.
Aku akan ciptakan hal yang indah bukan di temapt ini. Akan aku ciptakan permainan indah di temapat aku akan dibawa demit-demit ini.

Selesai

Komentar