- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karya : Edy Saputro Cahyo
DI
GANG KAMI DITAKUTI, PENERANG YANG REMANG-REMANG MENYESATKAN DESA INI. AKU TAK
MAMPU.
Masalah
harga biar kami yang menentukan. Banyak kaumku yang sudah tak mampu berharap
pujian dari Tuhan. Lingkunganku tersesat dengan segala pelajaran. Kapan ada
orang yang mau menolong desaku. Gelap dan penuh maksiat. Suara-suara geng
sebelah kanan jalan, membuat takut. Apa yang disesali dari ketakutan itu.
Anak-anak kami menjadi saksi dan akankan mereka menjadi seperti itu nanti.
Semua tak ada yang mengetahui jalan desa ini. Semua yang lewat takut membawa
anak-anaknya.
Suara-suara
perempuan tak kelihatan dari luar, tapi terdengar jelas luapan dari jerit
wanita-wanita itu. Entah ada berapa wanita di dalamnya. Aku hanya mendengar dan
takut menorehkan muka kearah warung remang-remang. Bau arak berjarak meteran terasa sebagai
parfum terbaik desa ini. Tak seindah bau mawar, melati, ataupun bunga lainnya.
Hanya bau pesing dan arak yang bercampur udara berterbangan ke semua linih desa
ini.
BERJALAN
MALAM, SIAPA BERANI MELAWAN. SIANG, MALAM, SORE WARUNG REMANG-REMANG SELALU
PENUH PENDATANG, AKU SAKSI KEDUA WANITA TUA.
Mereka
teganya membuat desa ini di dogma-dogma dengan hal-hal jelek. Aku sendiri
sebenarnya takut melewati gang ini. Tapi ini pusat jalan utama menuju semua
linih dusun. Siapa yang tak melihat mereka. Aku wanita tua yang mencoba
menenggok sebentar, tak kuat dengan sikap-sikap mereka. Aku berjalan tak cepat seperti mereka-mereka
yang muda. Akupun berjalan meratapi jalan sepanjang gang. Mau tidak mau mata
ini melihat wanita yang telah lelah terponggah-ponggah di sebelah kursi mewah.
Mereka melakukan zina atau apa aku juga tak tahu. Aku mengetahui desa ini akan
mati, desa dosa yang tak akan pernah diampuni. Aku harus bagaimana.
Aku
berfikir setelah wanita tua
Siapa
yang akan menyelamatkan desa ini. Hanya terpusat pada satu jenis kelakuan.
Warung remang-remnag. Aku saksi pertama yang selalu membawa senjata
dimana-mana. Takut aku dipergoki dan dimintai uang atau aku akan diajaknya.
Benar dugaan saya, mereka yang disana tua, muda merasa telah terbiasa. Kalaupun
aku ada disana, pastinya aku akan senang. Firasat yang tak kuinginkan tetapi
merasuki fikirku. Semua hanya karena wanita.
WARUNG
REMANG-REMANG, MEMBUAT AKU TERGIUR MELERAINYA ATAU AKU AKAN TERJEBAK DI
DALAMNYA. SUASANA MALAM.
Tak
akan pernah ada habisnya kebiasaan ini. Semua orang hanya diam dan meratapi
kesalahn pada diri sendiri. Ataukah aku seperti mereka ataupun wanita tua. Aku
hanya ingin masuk ke dalamnya. Apa yang mereka lakukan. Desa ini sudah gelap
karena mereka. Hingga anak atau cucu kami nanti juga akan terjebak mengikuti
tradisi yang telah ada dan merajalela. Kini aku mencoba dengan berani, memilih
jalanku dengan membuat keputusan. Entah mati atau aku tak kembali itu urusan
belakangan. Kini kakiku menginjakan jauh di daerah warung. Tapi semua mata
telah merasakan gerakku yang tak kuinginkan. Mendekat dan mendekat mereka hanya
terbiasa dan taka da takutnya.
Aku
sampai, dan apa yang harus aku lakukan. Hanya diam dan melihat adegan
bermesraan. aku langsung disuguhi minuman yang tak pernah aku minum dan aku
perjaka yang tak pernah merasakan keprawanan. Tapi disini jelas pasti mereka
semua wanita tak prawan. Aku harus gimana wanita tua. Aku tak bisa apa-apa. Aku
disuruhnya minum, aku disuruhnya menemani wanita-wanita cantik. Aku masih
mebersitkan senjata. Akan aku tsukan ke mereka yang memaksa aku. Hai kalian
semua aku akan bunuh kalian. Semua hanya diam dan tertawa sebagaian. Hingga
akhirnya aku tusukan senjata ini di jatungku sendiri. Aku ingin mati di temapat
yang tak aku sukai. Demi desa ini yang gelap. Semoga dengan kematianku desa ini
dan tempat ini menjadikan angker. Aku telah mati di tempat ini. Aku masih teringat betul, lukaku
disirami dengan arak-arak. Aku berteriakan dan kesakitan dalam sakaratul maut.
LAMPU
MALAM MATI, SEMUA SEPI DAN HANYA SEBUAH SUARA KESAKITAN YANG MENGAHATUI WARUNG
REMANG-REMANG.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar