PEREMPUAN BERPARAS BULAN DI HUTAN RIMBA

Karya : Edy Saputro Cahyo

Terkikis waktu bercinta selama keadaan telah sama. Iringanmu telah memberi warna terang di setiap langkahku. Tapi kini, setelah engkau umpatkan sebuah tanda larangan. Aku jadi patah arang. Lelah sudah berharap wajahmu akan selalu indah di hatiku. Ku hirup udara pagi dengan terangmu. Ku lantunkan sapaan canda berharap sinarmu menerangi wujudku. Kau seakan telah merubah hutan ini terang. Tak hanya aku. 12 lusin hewan kampusku mengagumi keberadaanmu. Wanita itu berparas sama, seperti wanita yang lama. Kenapa harus di hutan rimba aku menemukannya. Aku ingin segumpalan fikir sayu sejenak. Kala hutan rimba berharap lebih dariku. Perempuan yang memiliki kesamaan sepertiku. Kini ia telah kabur dengan kata yang telah ia pahat. Apakah aku salah memaknai sebuah pahatan kata?. Ataukah harapan akan jatuh. Aku masih memiliki  rasa. Rasa yang tak akan aku tiadakan bersama hilangnya sinar di hutan. Apakah hutan telah berencana, di sini aku bertemu dan di sini wajah itu berparas lagi. Kini aku hanya kaum yang rela ditelan hutan rimba, di atas perempuan berparas bulan.

Komentar