Terlihat Manusia-manusia

Oleh: Edy Saputro Cahyo

Ingatkah hari-hari baik, dan ingatkah hari-hari terindah. Tiada hari yang mampu menyaingi hari-hari yang dilakukan mereka. Sebuah hari yang membuat mereka berfikir, banyak mengeluarkan tenaga, banyak menghabiskan amunisi. Tetapi perjalanan yang mereka lakukan  bersama jauh tak akan terlupakan, dan akan selalu teringat. Sebuah momen bersanding dengan pasir, karang, nelayan, dan lautan. Pagi, dunia mereka masih terlalu pagi. Mereka beranjak menyusun amunisi. Pagi yang diselimuti petang, sedikit membuat mereka goyah. Hawa dingin juga melototi tubuh. Gerak mereka selalu dicurigai pagi yang tertidur. Saat berbicarapun lidah tunduk dengan ketakukan pagi.
Tepat pukul 01.00 WIT , perawakan tubuh dan wajah mereka terbungkus kain lusuh. Kaki-kaki berbicara pada pergerakan jalan yang akan merekai tempuh. Sebelumnya mereka menyimpan gambar dengan kenangan. Kalaupun pagi bersahabat dengan mereka. Jelas perjalanan akan semakin berarti. Membuat lingkaran ditemani suasana menyeramkan di kampus. Berdo’a agar peperangan mereka tidak tersia-siakan. Untuk pasukan ewer-ewer yang telah tertidur nyenyak dan mereka yang telah berbahagia di ranjang kamarnya masing-masing.
Segera mereka berangkat mengunakan motor dengan penuh amunisi. Sedikit mereka lupa memperkenalkan diri, langsung saja. Sarjana, Calon Sarjana, Kucluk, Pekerja, Si Bikin Ulah, Ketum, dan Wakatum.
Pertama-tama mereka akan mengulas perseorangan nama di atas, agar lebih akrab mengenal dan mengetahui sifatnya. Pertama, Sarjana. Dia adalah lulusan sarjana sejarah. Skripsi yang dia lakukan cukup lama. Tetapi akhirnya dia diangkat juga sebagai sarjana. Masalah cinta, dia sekarang lebih memilih cinta kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Dia juga sebagai manusia tertua dalam peperangan yang akan dilakukan. Dia sekarang lebih mengutamakan kepada teman daripada pacar. Sungguh kemamuan yang keras muncul dari adaptasi sebuah oraganisasi. Tak pernah dia lupakan, bahwa cinta telah membuat waktu yang lama. Menangis dengan cinta.
Kedua, Calon Sarjana. Dia sekarang sedang menyelesaikan proses skripsinya. Tetapi tak kunjung selesai. Dikarenakan dosen pembimbingnya sulit ditemui. Gelar sarjana tidak menjadi jaminan utama dia akan bekerja. Dia berharap hidup tentram dan selalu mencari masalah. Itu inginnya. Karena masalah baginya adalah sebuah anugrah terbesar. Dia ditunutut untuk berfikir, dari berfikir itulah dia akan mampu menghasilkan yang baik. Dia lebih suka dibenci daripada dipuji. Pujian untuk dia, bukan apa-apa. Dia adalah manusia aneh.
Ketiga, Kucluk. Dia adalah anak yang cukup kocak. Dan kecocakannya dapat membuat manusia di sekitarnya gila. Kesibukanya saat ini adalah menjadi kru di talk show acara kaca mata. Berharap hidupnya selalu penuh dengan cinta. Tetapi tidak pernah kesampaian. Sungguh kasihan. Rekor yang dimiliki yaitu belum pernah pacaran. Sekarang ia mencoba mencari masa pasukan jomblo untuk menemani hidup dan perjalanan hidupnya. Hobinya adalah jomblo, makanan kesukaan adalah pecel jomblo. Semua pokoknya berkaitan dengan jomblo. Karena menjadi jomblo adalah hal terindah yang dia miliki. Dia menyibukan setiap malam minggunya mencintai ikan-ikan yang dianggap sebagai teman hidup yang dapat mengerti dia. Sedih, senang, ikan-ikan seakan tahu tentang perasaan yang dialami.
Keempat, Pekerja. Dia adalah manusia pekerja. Disuruh berfikir keras jelas tidak mampu. Kesukaanya hanya bekerja. Karena berfikir dianggap akan mengurangi jatah umur. Itu yang tidak dia inginkan. Postur tubuhnya memang tinggi besar, maco dan sedikit hitam kulitnya. Kalau seperti itu, siapa wanita yang tidak ingin dekat denganya. Jelas banyak. Montornya saja hitam dan maco seperti orangnya. Tidak ingin memikirkan wanita, jauh lebih ingin memikirkan keluarga. Berfikir adalah musuh utama, ketakutan bukan pada setan tetapi pada hal-hal yang membuat dia berfikir keras.
Kelima, Si Bikin Ulah. Kali ini manusia yang tidak asing lagi. Dimana saja, jam berapa saja, selalu membuat ulah dengan kejadian yang tidak manusia di sekitarnya pikirkan. Tetapi semua manusia yang ada di sekitarnya selalu mengerti. Kebiasaan dia tidaklah menjadi masalah, tapi khususnya menjadi sebuah lawakan yang dapat membuat perut kembung. Sedikit marah dan banyak bahagianya melihatnya. Manusia yang memiliki sebuah bakat terpendam, sudah meraih rekor ontong terbesar ditambah ulah-ulah unik. Dia juga berkata bahwa, ulahnya tunggal dan unik. Karena tidak ada manusia lain yang mampu meniru gaya hidup yang di alaminya. Dia mencoba menerapkan ilmu kepada murid-muridnya, yang kini sudah mampu target yang diinginkan. Membuat ulah satu hari satu masalah.
Keenam, Ketum. Ketum adalah wanita dari semua manusia diatas. Wanita yang memimpin  semua golongan di peperangan ini. Dia sering menangis dan lupa dengan apa yang sudah difikirkan. Kebanyakan dia membuat suatu hal-hal yang aman. Untuk dirinya sendiri. Dia lebih suka mengambil keputusan secara sepihak, tanpa dibicrakan kepada manusia di sekitarnya. Berkali-kali ingin mendundurkan diri sebagai ketu, alasanya tidak sanggup memimpin pasukan penggong. Karena  dianggap akan membuat dirinya menjadi penggong. Itulah manusia yang sedang mengelilingi hidupnya.
Ketujuh. Wakatum. Manusia yang tidak mau berdebat dengan sebuah argument. Manusia yang mau bekerja. Manusia yang ingin hidup dengan aturan sendiri. Tetapi sekarang dia telah sadar. Dia adalah manusia yang memiliki iman yang cukup kuat, selalu melekat pada tubuhnya. Ulah nakal sering dia lakukan demi sebuah ketenaran yang tidak manusia suka. Bergabung di sebuah musyawarah tidak mengerti apa-apa, sungguh kasihan. UU yang dimiliki pasukan juga tidak mengetahui.  Dia adalah manusia yang suka melanggar aturan, tetapi dia sendiri tidak mengerti aturan. 
Semua manusia sudah diperkenalkan dengan seksama. Bagaimana perjalan peperangan yang dilakukan mereka. Pagi yang sepi tidak menjadi hal yang menakutkan, setan dan hantu-hantu telah kembali ke tempatnya. Jalan-jalan yang dilalaui sepi tanpa ada manusia sama sekali. Hanya mereka bertujuh. Kerap dengan haluan ketengah jalan. Tidak menakutkan buat mereka. Karena semua sepi.
***
Orang garang, mereka bangunan dengan mengetuk-ngetuk jendela. Tidak ada yang ditakutkan sama sekali. Orang garang bangun dan menyuruh mereka masuk. Anehnya lampu ruang tamu tidak dinyalakan. Jadi semua wajah kelihatan hitam, hanya suara yang membuat sapaan berlangsung. Mereka hanya izin, untuk membuat peperangan di daerah selatan.
Lantas mereka bergegas menuju ke selatan dan segera menurunkan amunisi yang telah dibawa. Angin dan suara gemuruh ombak terdengar seperti gemuruh petir. Sebuah pendopo menjadi titik penempatan amunisi. Semua amunisi sudah mereka tata dengan rapi. Beberapa manusia lain membuat tenda, di atas pasir. Entah apa yang telah mereka rencanakan. Tetapi akhirnya mereka bercakap keras. Tanpa ada yang ditakuti. Karena memang sepi.
Mereka berbagi tugas menyusun sebuah rencana, menyambut pasukan ewer-ewer yang telah tertidur di ranjang. Jauh ditempat mereka berangkat. Benar-benar semua penyusunan yang menguras fikiran dan tenaga, dan berkali-kali mereka salah tingkah. Sebut saja, mereka adalah tim pendiri tenda. Sarjana, Calon sarjan, Kucluk dan Pekerja. Pasir yang bercampur tahi kambing membuat pemandang 4 manusia itu sedikit ragu. Sehingga langkah pertama mereka urungkan dan membuat rencana kedua. Yaitu mencari tempat yang tidak ada tahi kambingnya. Pemandangan 4 manusia ini langsung mengitari tiang yang masih bertumpu di dalam pasir. Langsung mereka beranjak dan memilih pada satu titik tempat yang tepat. Segeralah mereka mengeluarkan tampar, terpal, dan parang. Hey, ternyata si Sarjana naik pohon satu, dan tiba-tiba si Pekerja juga naik pohon yang satunya.
Ketika mereka berempat mengarap tenda. Kejadian-kejadian aneh telah mereka ciptakan sendiri. Dari pemotongan ranting, yang tiba-tiba oleh masyarakat sekitar dimarahi. Tetapi hanya sebuah bertanya. Jelas nelayan logatnya keras. Mereka tidak mengetahui. Akhirnya salah tingkah mereka lakukan demi keamanan. Penciptaan kedua dari bahasa ewer-ewer yaitu bermakana negatife. Tetapi hanya mereka berempat yang mengetahui. Semua adalah rahasia. Sering muncul kata-kata baru yang membuat manusia di sekitar lingkungan dibuatnya binggung dan mencoba ikut mengunakan perkataan baru itu.
Tenda yang mereka buat, harus cepat berdiri sebelum matahari terbit. Dan ketiga manusia tinggal di pendopo menyiapakan sarapan pagi. Berharap 4 manusia mendapat suplai tenaga baru. 4 manusia masih sibuk dengan membuat tenda, tidak urung terselesaikan. Sampai matahari terbitpun, tenda juga belum selesai. Akhirnya 4 manusia berfikir dan lebih fokus pada pekerjaannya. Padahal semua tenaga dan pemikiran sudah dikeluarkan. Memang 4 manusia, baru kali ini mereka mendirikan sebuah tenda, sebelum-belumnya tidak pernah, itulah yang menjadikan pengarapan sangat lama.
Durasi 3 jam dilalui. Ujung-ujungnya juga terselesaikan dengan baik. Awal yang baik, pendirian yang baik. Segi penataan segala pasak baik pula. Sebab 4 manusia itu kompak dalam segala pengarapan.  Dan kalau dilihat dengan 3 manusia di pendopo, juga sama. Mereka membagi semua tugas yang kerap dijadikan kecepatan membuat amunisi perut. Tempat yang dingin dengan ulah angin. Membuat mereka nyaman. Sedangkan 4 manusia berada di tanah lapang ditemani sinar marahari yang panas, kulit 4 manusia itu telah berubah warna.
***
4 manuia sudah menyelesaikan tugas. Mereka berlari mendengar teriak 3 manusia di Pendopo.
“ayo ke pendopo dulu, semua amunisi perut sudah tersedia”
( sambil melambai-lambaikan tangan)
“iya sebentar, pasir panas yang mau kami injak”
( mereka berlari tanpa mengunakan alas kaki)
“ ya, hati-hati ranjau sebelah kanan kiri banyak”,( sambil tertawa terbaha-baha)
7 manusia ini sembari, mengisi amunisi secara bersama-sama. Sedikit tenggorokan mereka tersendat dan sedikit pula, air menjadi pelumasnya. Ditemani panas dan angin yang sepoi-sepoi, membuat mereka merengangkan kekeyangan. Satu persatu mereka tergeletak di pendopo. Mereka tidak memikirkan, bahwa akan ada musuh yang datang menghampirinya. Musuh ada dimana-mana, kalaulah mereka pula dan tidak menyiapkan segala rencana dengan baik. Musuh-musuh akan leluasa menguasai tenda di pasir. Karena pintu utama, terletak berlawanan dengan pintu pendopo. Sehingga keluar masuknya musuh yang mencuri amunisi dari mereka datang.
Mereka jelas-jelas tertidur pulas. Lupa akan segala tugas. Bahwa masih ada tugas 2 yang belum 4 manusia selesaikan. Mengirim sebuah surat keamanan yang harus diselesaikan siang itu juga. 2 jam mereka lalui untuk bermimpi. Akhirnya, benar datang musuh-mush bertanya tentang keamanan yang telah dilakukan. Mereka sedikit binggung, mau menjawab seperti apa. Karena amplop belum diberikan ke kasun yang berisikan surat ijin, masih digengam Calon Sarjana. Mereka segera bangun dan mengirim surat ke Pak Sam. Dua manusia yang berangkat yaitu Sarjana dan Kucluk. Sedangkan Si Pekerja dan Si Calon Sarjana menyelesaikan tugas dua yaitu menyiapkan perapian untuk malam yang akan menerjang. Sedangkan untuk 3 manusia  mencari mata air yang tidak payau. Jauh lebih sulit dari pada tugas ke 4 manusi tadi.
Setelah 4 manusia menyelesaikan tugasnya, tetapi 3 manusia pencari sumber mata air belum juga datang. Seakan perasaan 4 manusia tidak enak., tetapi beberapi menit  kemudian mereka datang juga. 3 manusia itu membawa gulungan-gulungan air yang berlimpah untuk melawan panas. Mereka semua kembali lagi berkumpul di pendopo dan mengerjakan sebuah amunusi perut secara bersama. Karena tenaga yang dipergunakan banyak terkuras. Sebatas godokan ketela, sudah membuat mereka semangat untuk melanjutkan tugas. Yaitu berjaga dan menunggu musuh-musuh istimewa yang akan datang. Musuh yang tertidur di ranjang, sudah bangun, dan kini berada diperjalanan menuju, tempat 7 manusia berada.
Lama menunggu, membuat 7 manusia ini lelah dan sedikit membuat hiburan tersendiri. Mereka semua bertingkah konyol dan tidak tahu aturan. 4 manusia mencoba berjalan-jalan mengitari bibir pantai dan akhirnya menemukan selembar kain mori yang terbenam di pepasiran. Aneh bukan, kain mori berada dilautan. Kapan datangnya, tidak ada yang mengetahui. Si Pekerja keras seakan senang dan menarik langsung dari pasir-pasir yang menimbunya. Dibantu oleh Sarjana dan Kuncluk. Sedangkan Calon Sarjana diam dan takut melihat kejadain yang ada.
Acara siang adalah acara puncak melawan panas. Acara yang mereka perkirakan akan menjamu pasukan ewer-ewer datang mendekati tenda. Mereka akan membuat pelayanan yang istimewa. Sementara akan menjadi buruh dan bekerja rodi.
Acara menyambut gelap , gelap telah datang. Si Kucluk, Sarjana, Pekerja dan Si Calon Sarjana menyiapkan segalanya sesuatu yang akan datang, yaitu hujan. Merek berempat merencanakn sebuah rencana yang lapis tiga, mereka mencoba sedia paying sebelum hujan. Memperkirakan sesuatu yang datang akan bisa teratasi dengan lapis tiga tadi. Acara malam, malam telah membuat semua tempat di sekeliling pendopo dan tenda gelap gulita. Wajah-wajah mereka tak terlihat dan terlihat hitam dan lusuh.
Manusia bermimpi, semua manusia telah hinggap bersama mimpi yang telah mereka rasakan. Tiba-tiba bangun dan bernajak menuju siang yang sulit dikalahkan. Semua manusia hanya bersanding dengan pasir, ombak, malam, matahari, dan seluruh kehidupan yang ada. Semua terselesaikan dan bahagia dengan wajah-wajah yang merona.
Mari pulang, waktunya pulang kembali dan merapat di sarang yang telah membuat semua manusia berlabuh. Pulang, melawan panas dan hujan, bukan suatu masalah untuk manusia-manusi yang telah bersanding dengan alam. Hanya sebatas gertakan dan ajakan agar manusia dapat berfikir dengan baik. Merangkul dan melihat kanan kiri teman dan lawan. Semua tertidur dan mati karena lelah.



Komentar