Kebun Jeruk


Oleh: Edy Saputro Cahyo
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepetak pematang melintas mengisahkan tawa dan canda. Buah jeruk membuat air liur tercetus kebersamaan. Pohon-pohon jeruk dibuat bersandar bersama-sama , dalam obrolan tidak memandang asal usul yang berbeda. Kebun jeruk kini dirasakan mereka yang terjebak mencari kebersamaan.

Mendung di atas kebun jeruk menambah indahnya sore. Celah-celah lubang berair menaungi langkah kaki. Rerimbunan buah jeruk tersontak memuntahkan ribuan buah. Penyangga-penyangga dibuat keseimbangan menyengka ranting-ranting yang berbuah. Parit-parit tumbuhan moko menjadi penghalang siapa saja yang memasuki. Kebersamaan yang telah kami bentuk beberapa minggu mampu menghembuskan perbedaan menjadi satu di kebun jeruk. Keluarga baru, cerita baru. Apa yang telah ada dalam sebuah kebun jeruk?.
Sore hari, Cahyo dan Iqbal bermain ke rumah salah satu perangkat Desa Sumberangung. Sudah saatnya mereka memperkenalkan dan mengakrabi seluruh perangkat yang ada di desa. Dua anak inilah yang membuat kehidupan menyatu bersama seluruh masyarakat. Berkomunikasi secara akrab dan terbiasa. Keberadaan kedua anak ini membuat jalannya kegiatan selalu terlaksana dengan baik. Tiba-tiba di penghujung pembicaraan mereka diajak untuk ke kebun jeruk milik Pak Endar Murdianto. Merekapun senang dan berangkat bersama. Membututi dari arah belakang, menempal jejak Pak Endar. Beberapa menit sampailah mereka ke kebun jeruk. Jeruk yang belum waktunya berbuah secara merata bukan masalah, karena ada waktu tersendiri panen raya, antara bulan April-Juli.
Kedua anak ini, dengan senangnya dan menjelajahi seluruh petak kebun. Bapak Endarpun menyuruh mereka mengambil buah yang sudah matang, walaupun satu pohon hanya ada 10 sampai 15 buah yang sudah matang, disuruh mereka mengambilnya. Cahyo yang pergi kemanapun selalu membawa tas kesayangannya. Sedangkan Iqbal begitupun juga. Beruntunglah mereka menaruh buah-buah yang matang ke tas. Jeruk ini mereka rencanakan untuk diberikan kepada teman-teman yang ada di posko. Waktu menjelang magrib harus mereka akhiri untuk berburu buah jeruk. Seluruh selah sudah dijelajahi dengan sekasama dan teliti. Buah, hanya mencari buah yang matang.
Niatan mereka di patahkan dengan bunyi qiro’ menjelang Magrib. Mau tidak mau mereka harus segera kembali ke Posko penginapan. Perpisahan kedua anak ini dan Pak Endar di depan pintu kebun jeruk. Cahyo dan Iqbal dalam perjalanannya menuju ke Posko bercetus.
Cahyo    : Kali ini kita mendapat buah yang banyak, awalan yang baik untuk sebuah perkenalan dan kedekatan. Ini di tas aku penuh dengan buah.
Iqbal       : Kau betul, aku juga mendapatkan banyak, tetapi aku sedikit sungkan terhadap Pak Endar.
Cahyo    : Tidak apa-apa, Pak Endar kan yang menyuruh kita mengambil buahnya dan mengajak kita ke kebun.
Iqbal       : Ya, tetapi kita kan disuruh mengambil dan memakannya di sana, bukan menaruh dan membawanya pulang.
Cahyo    : Tenang, aku tadi dengan jujurnya bilang ke Pak Endar, bahwa jeruk-jeruk yang ada di tasku untuk teman-teman yang ada di posko.
Iqbal    : Syukurlah kalau kamu sudah bilang apa adanya,
Tibalah mereka di posko , teman-temanya tiduran di ruang tamu, ada yang sedang masak karena terkena sebuah aturan. Mereka menyibukkan dengan mencari sinyal, sinyal sangat sulit di desa Sumberangung. Cahyo dan Iqbal mengeluarkan buah jeruk di atas meja. Ardi dan Nasrul menanyakan buah dapat dari mana. Cahyo menjawab dari kebun jeruk Pak Endar yang ada di belakang pendopo. Tiga cewek tersontak ingin ikut lagi, kalau Cahyo dan Iqbal ke kebun jeruk. Namanya adalah Dwi, Alfi dan Risti. Tiga cewek yang awalnya pendiam tertular virus clengekkan oleh Cahyo dan Iqbal. Semua lebih akrab karena buah jeruk.
Waktu makan malam kebersamaan selalu terpancarkan dalam setiap perkumpulan. Waktunya ajang sini dan ajang san mereka lakukan dengan kompak. Tetapi untuk Cahyo dan Iqbal, kalau teman-teman yang lain sudah kembali ke posko. Mereka berdua masih keluyuran tanpa sepengetahuan teman-teman. Cahyo dan Iqbal merencankan sebuah tata cara berkomunikasi lewat tengah malam bersama kaum-kaum pemuda di desa Sumberangung. Pulang pagi sudah biasa bagi kedua anak ini. kerjaan tiap malam adalah kluyuran. Siang haripun selalu tidak ada bersama teman-teman di posko pendopo. Kedua anak ini lebih mengutamakan warung, sebagai jembatan untuk berkomunikasi secar bebas.
***
Sudah hamper seminggu lebih, ketiga cewek itu merenggek untuk bermain ke kebun jeruk. Tetapi kebun jeruk di Pak Endar sudah terssapu habis oleh Cahyo dan Iqbal. Karena jaringan komunikasi mereka lancer dan sudah mengenal semua perangkat yang ada di desa, mereka mengajak ke kebun Pak Hadi. Pak hadi bekerja di desa sebagai kepala dusun Banjarejo Barat. Sesosok lelaki yang masih muda ditinggal mati wanita yang dipuja. Hanya menitipkan anak yang saat ini berada dalam peluknya setiap malam.
Sore lagi mereka semua berangkat menuju ke kebun Pak Hadi. Cuaca yang cerah membuat wajah-wajah mereka tercerahkan juga. Pak Hadi yang sudah menunggu di kebun, mengirimkan lewat pesat dari sms, kepada Cahyo. Mereka semua disuruh langsung masuk saja. Kebun jeruk, membuat mereka lebih bersatu dan membuat mereka berwisata di wisata buatan. Semuanya menyebar ke semua penjuru dengan aba-aba dari Pak Hadi. Mereka semua berfoto-foto dan membuat cerita tersendiri dalam sepetak kebun jeruk. Cahyo merasakan hal yang mereka lakukan selama ini tujuannya adalah satu, yaitu untuk kebersamaan. Kenakalan Cahyo membuat teman-temanya salut apa yang telah dilakukan selama ini.
Kebun jeruk, mereka membuat rencana menuai ingatan saat semuanya nanti terpisahkan oleh waktu. Di kebun jeruklah semua ingatan kemesraan berteman yang sudah menyelimuti sebagai sosok keluarga. Kini kebersamaan itu sebentar lagi akan hilang. Kcahyo yang akan selalu membuat hubungan dan sesering mungkin main ke desa Sumberangung. Kebun jeruk adalah awal mereka saling mencintai dan mengenal pribadi lebih dalam. Berkeluh kesah dengan cerita masing-masing. Mulut Iqbal yang penuh dengan kunyahan buah jeruk, membuat diam dan memikirkan kalau dia tidak lagi bersama. Memakan buah bersama, loncat-loncatan melewati pematang jeruk. Bersembunyi dan membuat kejutan mata jeruk.
Ketika, semua telah lenyap. Diharapkan Cahyo, akan sebulan sekali setelah perpisahan bermain ke desa Sumberagung. Keadaan dan kesibukan masing-masing membuat semuanya akan jauh dan hubungan akan renggang.
***
Apa yang dirasakan Cahyo memang benar-benar terjadi. Semua telah lupa dengan apa yang sudah terjadi selama mereka bersama-sama. Teman sejati Iqbal justru menghilang dan tidak pernah bertemu dengan Cahyo. Setiap bermain ke desa Cahyo selalu sendiri dan setiap melewati kebun jeruk, terlihat bayangan rombongan yang meramaikan kebun jeruk. Di sanalah Cahyo berhenti sejenak, di kebun Pak Hadi. Diam dan sedikit meneteskan air mata. Dia selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dilakukan teman-teman di desa apakah sebuah topeng demi formalitas bersama. Setiap dia bertanya kepada Pak Endar, bertanya tentang teman-teman yang dulu pernakah singgah ke desa Sumberagung. Bapak Endar menjawab, tidak ada selalin dan sesring Cahyo saja.
Apakah mereka yang tidak pernah bermain ke desa akan tetap mengingat kisah yang pernah mereka buat di dalam kebun jeruk, seperti apa yang dirasakan Cahyo saat ini.  dia kalah membuat kebersamaan hingga akhir. Kesibukan yang membuat, atau diri mereka masing-masing yang menyibukkan diri. Dia berharap tidak hari ini saja, mungkin dikemudian hari mereka selain Cahyo akan sejenak singgah di desa. Walaupun keadaan sungguh jauh berbeda, dan tidak lagi bersama, tetapi raut wajah yang terdahulu mampu membuat gambaran di penglihatan Cahyo, bahwa mereka semua telah akrab dan menyatu dalam keluarga baru.

Gapura Arah Desa Sumberbaru, 9 Desember 2014


Komentar