- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Oleh: Edy Saputro Cahyo
Waktu
adalah hal yang sakral dalam memutuskan suatu acara. Sesuai dengan adat yang
ada Yoto dan Karmini bertanya kepada sesepuh desa. Dari waktu yang tepat, acara
tidak akan mempunyai rasa khawatir. Setelah memutuskan hari dan waktu Yoto dan
Karmini segera membuat keputusan untuk mempersipakan segela kebutuhan dalam
acara khitanan anaknya. Mulai perlengkapan kursi, meja, gelas, piring, tenda,
dan perlengkapan masak. Adapun untuk kebutuhan masak seperti bawang, brambang, Lombok, jahe dan
lain-lain. Semua kebutuhan sudah terselesaikan. Yoto mendatangi seluruh
keluarga untuk memberitahukan acara yang akan dilaksanakan. Sebab itu juga akan
memberi dampak positif dan silatulrahmi. Mengambil relawan dari seluruh
keluarga dan tetangga terdekat. Dilakukan sebelum 4 hari sebelum acara. Pladen
ada dua yaitui pladen laki-laki dan pladen wanita. Semua pladen akan mengurusi
segala macam kegiatan yang ada. Karena yoto dan Karmini akan menjadi tuan rumah
dan penyambut tamu-tamu yang datang.
Acara
pagi jam 7 memberikan tonjokan nasi kepada seluruh orang yang
sudah ada dalam catatan. Ketika wanita-wanita menyibukkan dengan menyiapkan
kebutuhan, pladen laki-laki menyibukkan dengan mempersipakan motor dan
bersantai di serambi depan rumah. Ketika pladen wanita sudah siap dengan segala
tonjokan, pladen laki-laki juga akan siap dengan mengatar sesuai dengan alamat
yang diberikan. Tonjokan akhirnya berjalan dan pladen laki-laki seluruhnya memencar dengan bergandeng 2 orang,
2 orang. Sesampainya pukul 17.00 acara tonjokan baru terselesaikan. Jumlah 800
orang yang akan ditonjok dengan alamat yang berbeda.
Acara19.00
adalah acara bancakan, guna untuk memberikan keselamatan sebuah acara. Adat ini
sudah umum dilkakukan di desa Geneng. Setelah
acara bancakan, acara buwohan. Banyak orang-orang yang berdatangan dengan membawa
barang bawaan yang akan disumbangkan dan amlop yang berisi uang untuk
memberikan bantuan. Seluruh pladen wanita ada yang menjaga makanan
prasmanan, memasak di dapur, menyiapkan
soto, menyiapkan bungkusan nasi, menjaga beras, cuci piring, membuat teh dan
kopi, menyiapkan jajanan.
Sedangkan
pladen laki-laki hanya mengambil pring-piring yang sudah tamu selesai makan,
mengambil piring kosong menuju prasmanan. Kalau merunjuk pada keseimbangan pekerjaan,
jauh wanita yang sepenuhnya bekerja seperti ini. sehingga pladen laki-laki jauh
tak bekerja. Disinilah keseimbangan yang tidak seimbang.
Yoto
dan Karmini sebagai tuan rumah hanya duduk dan menunggu tamu-tamu yang datang,
menyalaminya, dan mempersilakan ke meja tamu . itulah yang terjadi dalam adat khitanan
yang terjadi di daerah Geneng sini.
***
Oh
ya perjudian malam tidak kalah lagi. Pukul 9 malam ke atas adalah hal yang
dinantikan kepada seluruh kaum laki-laki. Bukan ajang untuk perjudian atau apa.
Ini adalah suatu kebahagian dan menjernihkan fikiran dalam suatu acara.Tetapi
apa yang telah terjadi, semua tidak sesuai dan berjalan dengan lancar serta berbalik fakta. Dianggap adalah perjudian
yang akan berkelanjutan. Ini adalah sebuah tradisi dan tidak dapat hilang
secara pasti. Orang-orang yang bertamu di atas pukul 9 malam, sudah jelas akan
melakukan perjudian. Muda dan tua semua sama. Tuan rumah yang memberikan kartu
dan meminta gantinya beli kartu kepada atlit judi.
Berjalan
malam didengus oleh iringan hujan yang mencurahkan keistimewaan malam perjudian.
Meja-meja sudah tertata dengan baik dan siap untuk para atlit judi
mempermainkan uang. Tradisi ini telah dimiliki sejak dulu. Tradisi yang
dinamakan lek-lek Mbu juga diartikan dengan membuka mata hingga pagi. Permainan
sudah dimulai dengan 10 tempat permainan. Jenis permainan remi, domino dan
kartu hijau.
Tidak
akan pernah polisi yang berani mengusik keberadaan mereka. Yoto tuan rumah
sedang tertidur pulas dengan capek yang sibuk menyambut tamu pagi dan siang
tadi. Waktunya para pemain yang akan menjaga keberadaan acara. Dalam adat
lek-lek mbu, para pladen laki-laki pukul 11 malam mengeluarkan kopi dan nasi. Si
Prapto juga salah satu pladen tidak ikut membagikan kopi dan nasi, dikarenakan
ikut permainan judi bersama tamu-tamu yang datang. Setelah semua suguhan
dikelurkan tiba saatnya pladen juga ikut meramaikan suasana perjudian, membuat
kelompok sendiri.
Menang
kalah tidak akan jadi sebuah masalah dalam lek-lek mbu. Sekali acara ini
dilakukan. Dalam pendirian rumah, nikahan, dan segala acara aka nada yang
namanya perjuadian. Membuka mata hingga pagi untuk meramaikan suasana yang ada
di kesepian malam. Itu hanya sebatas masalah perjuadian malam. Sound sewaan
juga beriringan lagu-lagu sinden dan campursari yang lembut. Mengiringi suasana
bersama rintikan hujan malam. Uang telah bercecer di meja. Uang masih berpeutar
mencari majikan yang patut membawanya di akhir permainan.
Pladen
laki-laki yang membuat permainan sendiri, tidak memakai uang. Tetapi sesekali memakai
uang untuk lek-lek mbu bersama tamu-tamu yang sudah meramaikan permainan. Permainan
hingga pukul 3 pagi. Ada yang
melanjutkan da nada yang tidak. Tersisa beberpa meja yang masih panas
dengan uang yang ada di meja. Terus memutar dan memutar. Permainan diawali
dengan sebuah perjanjian akhir. Kesepakatan antar pemain justru akan membuat
berjalannya acara tidak ada kesalahpahaman.
Lek-lek
Mbu kini tetap hidup di setiap malam. Malam kapanpun aka nada selalu permainan
judi. Adat yang sudah lama dilakukan tidak akan ditinggalkan, karena disana ada
sebuah kesenagan, silatulrahmi, keuntungan, dan berjaga malam. Layaknya mereka
melakukan perjuadian di ronda. Menjaga keamanan yang ada.
------------------------------------------------------------------------------------
Geneng, 5 Desember 2014
Komentar
Posting Komentar