Ada Konggres Internasional ; Majikan Acuh Tak Acuh


Oleh: Edy Saputro Cahyo
----------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang tidak ingin mendapat gaji yang besar. Siapa yang berani melawan majikan. Siapa yang tidak ingin mengikuti acara kongres internasional. Jelas, manusia-manusia tidak mau ambil pusing, mereka semua akan ikut. Di Fakultas Sastra Universitas Jember, Fakultas yang aku juluki dengan hutan rimba. Sebab, tidak ada lagi pohon yang lebih banyak di lingkungan Universitas Jember, selain di Fakultas Sastra.Hutan rimba yang angker dan malam selalu menemani manusia-manusia yang bernafas. Aku mahasiswa  juga akrab dengan karyawan-karyawan, Oh salah. Tepatnya adalah Office Boy (OB). Mereka diperlakukan kerja keras sesuai keinginan majikan. Siapakah yang masih teringat acara 3 minggu yang lalu. Konggres besar. Mereka dituntut bekerja semaksimal mungkin. Supaya acara berjalan lancar, tetapi mereka tidak masuk dalam kepanitiaan interen. Melainkan penyambung keindahan mata. Kenyamanan yang diutamakan untuk menyambut tamu-tamu agung dengan berbagai gelar yang disandang.
Apalagi untuk mahasiswa yang tidak mempunyai dana. Jelas tidak dapat ikut serta. Pendaftaran Rp. 100.000 itu kemahalan bagi mahasiswa. Padahal dari sebagian mahasiswa sangat berantusias mengikuti acara tersebut, tetapi hanya mahasiswa yang mempunyai identitas borjuis yang mengikutinya. Padahal itu sebuah acara emas yang ditunggu-tunggu mahasiswa. Namun, mahasiswa tidak bisa ikut, ya mau berbuat apalagi.
Pagi mulai pukul 05.00 Wit. OB sudah membawa persiapan perangnya melawan ribuan daun yang berjatuhan. Mereka semua belum makan. Tugasnya harus terselesaikan sebelum pukul 07.00 Wit. Tidak hanya menyapu daun-daun, tetapi juga membersihkan wc, dan mengepel lantai. Memang itu adalah kewajiban yang harus mereka laksanakan, demi mendapatkan gaji. Perlu digaris bawahi tindakan majikan terhadap mereka sungguhlah kejam. Majikan sepenuhnya mengenal sejarah, bukan. Bagaimana waktu Negara ini dijajah Belanda?. Kaum-kaum pribumi diperlakukan begitu sengsara. Sekarang tercermin di hutan rimba ini. seperti itulah.
OB mengaku tidak diberi ceperan apapun. Apalagi diberi makan secara pasti. Semua hitungan serba urusan belakang. Ketika mereka semua sakit, siapa yang akan membuat keindahan di hutan rimba ini. Semua itu tidak pernah difikirkan majikan. Urusan kesibukan mengurusi tamu-tamu lebih diutamakan, tetapi tidak pernah melihat yang ada di bawahnya. Sesekali saja menenggok ke bawah dan lihat apa yang mereka lakukan untuk hutan rimba ini.

Mereka terpaksa membeli nasi sendiri di dekat hutan rimba. Jelas, merogoh kantong sendiri demi kelaparan yang berkepanjangan setiap pagi. Majikan seperti apa yang diinginkan mereka. Pastinya majikan yang bijaksana, memperhatikan  pekerja-pekerja dengan penuh rangkulan, kasih sayang, dan kebaikan. Bukan segalanya harus dengan ancaman yang membuat ketakutan. Memang majikan ditakuti. Memang majikan di hutan rimba tidak pernah memukul dan menjewer kuping. Tetapi perlakuan secara perlahan membuat mereka tersakiti. Turun dan lihatlah kami mahasiswa dan OB yang memperindah hutan rimba ini. Kalau dengar lagu Mas Ojo Mingkarmingkuring Angkoro berjudul Ojo Ngomong Wae. Dalam lagu ini tercermin, jadilah pemimpin dan mahasiswa yang  jangan pandai berbicara dan menyuruh saja, tetapi turun apa yang mereka butuhkan. Bukan obral janji dan menuntut untuk mengabdi di hutan rimba ini.

Komentar