- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
oleh: Edy Saputro cahyo
Malam
bertabur teriakan kembang api. Kembang api yang telah berteriak-teriak di udara
tepat pukul 12.00 malam nanti. Teman-teman
telah larut bahagia bersama keluarga di rumah masing-masing. Aku tetap saja
bergelatungan di hutan ini. suasana malam sungguh sepi, tak ada sedikitpun
celoteh kata-kata. Namun, di luar sana Nampak suara-suara kendaraan berbondong-bondong menuju alun-alun Jember. Pasti nanti malam jalanan akan
mancet. Kendati seperti itu kenyataannya, malam nanti aku akan tetap
bergelantungan dan bersemedi di telaga hutan. Belajar mengulas materi beladiri
yang telah guru besar ajarkan. Namun telah aku urungkan niat aku belajar,
ingatan memar, patah tulang, dan sakit yang mengotori seluruh tubuh.
Sesampainya
lamunan sore tadi, aku tersesat menyepakati ajakan ke Pantai Nanggelan. Fikirku
dengan niat utama telah dipatahkan dengan sebuah kesepakatan. Persiapan telah
aku lakukan dengan tergesa-gesa. Tepat pukul 4 sore aku dan 5 teman berangkat
menuju Pantai Nanggelan. Persiapan mancing, ikan bakar satu box, nasi, akan
siap diganyang bertepatan dengan pergantian tahun nanti. Selama perjalanan,
jalan pintas yang kami lalui cukuplah macet. Apalagi hujan telah menguyur kami
dari pemberangkatan tadi.
Tepat
pukul 18.00 kami sampai di pelawangan masuk ke Pantai Nanggelan. Kami dihentikan dan disuruh turun oleh
sekelompok manusia-manusia Basarnas. Salah satu anggota Basarnas adalah teman
akrabku. Dia bercerita bahwa ada mayat yang terdampar di Pantai Nanggelan,
sehingga untuk semua yang ingin camping dilarang masuk. Sebab masih ada
evakuasi dari tim Basarnas. Otomatis tempat tersebut harus steril dari
pengunjung hingga evakuasi selesai.
Kami
beralih fikir dan sedikit kecewa dengan tujuan utama terpatahkan dengan adanya
peristiwa tersebut. Kami beristirahat dan duduk. Kami membicarakan tujuan
selanjutnya, ada usulan ke bande alit, papuma, payangan dan watuulo. Semua sudah
pernah dikunjungi. Kami sepakat mencari tepat yang murah dan tempatnya juga
nyaman. Kami putuskan untuk ke Payangan. Bukan masalah tempat yang indah atau
tempat yang luar biasa. Tempat yang indah tetapi tidak bisa menghasilkan
kebahagian dan kebersamaan justru akan merugikan kebersamaan. Namun sebaliknya,
di tempat yang sudah berkali-kali kami datang kesana, tetapi dengan konsep dan
rencana baru semuanya akan menjadikan indah. Kebersamaan akan menjadikan
kenangan tersendiri.
Saat
kami tiba di Payangan hujan deras. Terpaksa kami segera turun dan aku sebagai
pemandu di mana letak posisi tenda yang enak. Aku segera menunjukkan lokasinya. Secepatnya
kami mendirikan tenda ala kadarnya, dari banner. Beberapa menit dengan gangguan
hujan terselesaikan juga tenda buatan kami. Mulai, barang-barang, motor dan semuanya
masuk ke dalam tenda. Itulah keunikannya. Bukan malam ataupun hari dan tahun
yang akan berganti. Tetapi, semua rencana juga berganti.
Malam
dijadikan bakar-bakar ikan, memasak nasi, membuat kopi. Semua serba sederhana,
perapian semuanya dari arang. Dalam hal bakar-bakar ikan memakai arang
sangatlah cocok, tetapi memasak nasi dengan perapian memakai arang masak hingga
berjam-jam. Kami bergantian memasak. Masak berdurai 4 jam dan baru
terselesaikan. Makannya 20 menit habis, itulah kebersamaan yang tak akan
terlupakan bersama teman-teman yang sudah ahli dalam bidang masing-masing. Konsep
dan ide-ide kreatif muncul saat kami terdesak.
Kami
hanya duduk dan berceloteh dengan kehidupan yang akan datang. Semua yang kami lakukan tak akan pernah terlupakan hingga tua nanti. Saat itu banyak pengunjung
yang mendirikan tenda. Tenda mereka bagus-bagus. Dari 5 tenda yang ada, tenda
kamilah yang paling istimewa. Keistimewaan ini dapat disimpulkan dengan sepedah
motor dapat masuk tenda, posisi hujan deras kami tetap bisa bakar-bakar dalam
tenda. Sedangkan mereka hanya diam dan meratapi hujan akan terang. Disitulah keindahan
akan tercapai dengan kesederhaan.
Malam
setelah hujan reda dan kekenyangan ikan, kami lanjutkan untuk tidur. Namun,
kenyataannya semua tidak ingin tidur. Tapi belakang-belakangnya 4 teman
terlelap. Hanya aku dan Rio yang tidak tidur. Kita berdua berjaga di luar
tenda. Sore tadi musuh kami adalah hujan, malam musuh kami adalah
nyamuk-nyamuk. Memakai penangkal nyamuk
3 kali olesan juga tetap masih diserang. Rasa capek mengalahkan rasa sakit
gigitan nyamuk-nyamuk malam. Aku tetap duduk dan menikmati indahnya malam.
Pukul
4 pagi aku dan Iral segera menuju karang untuk berburu ikan. Mancing hanya
dapat 9 ikan sangat menyenangkan. Padahal ikan yang satu box masih banyak. Tetapi
mancing kali ini bukanlah untuk menambah ikan, tapi sebatas hobi. Sedangkan kami
berdua memancing, yang 4 teman mulai membakar ikan, dan memasak untuk sarapan
pagi.
Setelah
aku dan Iral selesai mancing kami semua makan bersama-sama. Selanjutkan bersiap-siap
kemas-kemas pulang. Melelahkan, banyak humor dan tekanan dari alam. Di situlah kami
dituntut untuk tetap bersama. Saat menuju jalan pulang, kemacetan terjadi. Kemacetan
kota Jakarta telah pindah di jalan Payangan. Bukan macet biasa, tapi berhenti
satu jam diatas sepeda motor yang berdering. Berhenti ada 7 kali, rata-rata 1
perhentian 30 menit. Jadi kami mancet 210 menit. Musuh alam yaitu terik
matahari telah menguyur kulit kami. Mau tidak mau, aku tetap hinggap di atas
motor.
Padahal
tujuan kami ke Pantai, agar tidak
terjerat kemancetan seperti di kota. Kenyataannya kemancetan di sini juga ada. Lagi-lagi
kebersamaan kami diuji. Justru dengan itu, cerita banyak dicelotehkan
masing-masing individu tentang kemacetan. Badan sudah seperti mandi di kolam. Basah
kuyup, dan dehidrasi menyerang.
Kami
lolos dari sebuah kemacetan dan melanjutkan perjalanan menuju kampus.
Komentar
Posting Komentar